Posted on

We’ll Gonna Miss Kereta Api Bisnis (K2), Daop 2 Bandung

Tinggal tersisa 4 KAJJ lagi masih mengoperasikan Kereta Api Bisnis (K2) di Daop 2 Bandung. Cepat atau lambat itu juga bakalan diembat sama stainless steel, secara lebih bersahabat sama iklim lembab. Siap-siap deh kita bakal ucapin “We’ll Gonna Miss You, Legend”. 

Biar gimana pun kereta api bisnis (K2) udah jadi bagian dari sejarah perkeretaapian Indonesia. Diliat dari sejarahnya sih kereta api bisnis (K2) mulai dinas di tahun 1950-an atau era Djawatan Kereta Api (DKA) pasca pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Kerajaan Belanda. Awalnya dibikin satu kereta sama K1 di kereta ABL buatan Prancis.

Kereta ABL ini jadi tonggak kebangkitan kereta api di bumi Nusantara yang sebelumnya dilanda revolusi fisik, kaya perang yang hampir nggak pernah berkesudahan. Segala Agresi Militer Belanda 1 dan 2, atau gangguan dari dalam negeri sendiri kaya Madiun Affair 1948, atau sebelumnya Kudeta 1946. Kereta ABL (gabungan K1 dan K2), datang bersama kereta CL (K3/ekonomi), dimana CL ini terbagi jadi 2 jenis: AC dan Non-AC.

Bedanya sama ABL buatan Prancis, kereta CL ini buatan Belanda. Ditambah lagi sang pelopor lokomotif diesel CC 200 yang sekarang bisa ditemuin di museum kereta api Ambarawa, sebelumnya ada di Daop 3 Cirebon. Nah inilah awal mula kereta api bisnis (K2) di Indonesia, keretanya nyatu sama K1, bahkan jadi salah satu icon kebangkitan.

Dinas Kereta Api Jayabaya 1961.

Kiprah kereta api bisnis (K2) berlanjut di tahun 1960-an, bersamaan dengan debut kereta api Jayabaya di tahun 1961 melayani rute Jakarta-Surabaya. Kereta Api Jayabaya waktu itu terdiri dari Jayabaya Utara dan Jayabaya Selatan. Bedanya Kereta Api Jayabaya Utara ambil rute lewat Semarang dan Cepu, sementara Jayabaya Selatan lewat Jogja.

Sayang okupasi minim membuat sang legenda menepi sesaat di tahun 2006 dan baru dinas lagi 18 Oktober 2014. Cuma nggak lagi kereta api bisnis, melainkan kereta api ekonomi plus, rutenya ngikutin Jayabaya Utara dan diperpanjang sampe Stasiun Malang (ML).

The Legend Kereta Api Parahyangan, dinas 31 Juli 1971, awalnya kereta api bisnis (K2). Terdiri dari 6 kereta ditambah 1 kereta makan kelas 2 (KMP2) ditarik lokomotif BB 301 gantian sama BB 304. Layanan kereta api eksekutif (K1) baru mulai ada menjelang akhir 1970-an dan rutin dibawa di pertengahan 1980-an hingga masuk tahun 1990-an atau eranya Perumka.

Nggak cuma itu, si maung Kereta Api Lodaya, dinas 11 Maret 1992, mengawali debutnya dengan layanan kereta api bisnis (K2). Rutenya waktu itu masih Bandung (BD)-Jogjakarta (YK) dengan nama Senja Mataram (sore) dan Fajar Pajajaran (pagi). Waktu itu sang macan ditemani Kereta Api Cisadane (K3) di rute yang sama —berubah jadi Kiaracondong-Madiun.

Beberapa tahun berselang barulah namanya berubah jadi Kereta Api Lodaya, rute diperpanjang sampe Stasiun Solo Balapan (SLO), dan mulai bawa kereta api eksekutif (K1). Bahkan pernah punya livery sendiri. Kiprah kereta api Lodaya masih berlangsung sampe sekarang. Sayangnya masa dinas Kereta Api Cisadane selaku pendamping cuma sampe tahun 2003 karena okupasi minim.

Baru di 2005 kembali lagi dalam wujud KRL Cisadane Ekspres, pindah ke Daop 1 Jakarta dibawah Divisi Jabotabek, melayai rute Manggarai-Tangerang. Adapun sang macan kini ditemani Kereta Api Pasundan (Kiaracondong-Surabaya Gubeng) dan Kereta Api Kahuripan (Kiaracondong-Blitar).

Kereta Api Bisnis (K2) bahkan sampe menggantikan kereta api ekonomi (K3) di Kereta Api Ciremai Ekspres. Pasalnya kereta api ekonomi (K3) yang dipake waktu itu masih sama kaya ekonomi reguler kapasitas 106 penumpang. Makanya itu layanan ditingkatin jadi Kereta Api Bisnis (K2) sampe dengan pindah ke Daop 4 Semarang melayani rute Bandung-Semarang Tawang PP.

Satu Per Satu Diembat Stainless Steel.

Sayang wacana penghapusan Kereta Api BIsnis (K2) di tahun 2010 membuat keberadaan sang legenda terancam. Nggak ada lagi peremajaan rangkaian dan dibiarkan makin uzur dimakan usia. Sebagian yang beruntung diupgrade ke kereta api eksekutif (K1) dan kereta wisata, ada lagi yang dijadiin kereta barang/bagasi, paling sial tentu saja dirucat.

Keberadaan trainset baru buatan PT INKA Madiun berbody stainless steel dalam wujud K1 18 dan K3 18 membuat wacana tersebut makin mendekati kenyataan. Dimulai dari Kereta Api Senja Utama Solo (suka didinasin sebagai Kereta Api Argo Parahyangan Tambahan), sekarang giliran Kereta Api Harina yang diganti Stainless Steel gabungan K1 18 dan K3 18 sama kaya Kereta Api Senja Utama Solo.

Maka tinggalah 4 Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) yang masih dinasin Kereta Api Bisnis (K2) di Daop 2 Bandung. Itupun cepat atau lambat bakal senasib sama Kereta Api Harina dan Kereta Api Senja Utama Solo. Apalagi trainset berbody stainless steel dikenal bersahabat sama iklim Daop 2 Bandung yang rata-rata lembab karena ada di ketinggian hingga 800 mdpl, dimana Bandung aja udah 700 mdpl.

We’ll Gonna Miss You, Legend. 

Trainset berbody Stainless Steel masih terus diproduksi di PT.INKA Madiun sampe tahun 2019. Di saat bersamaan, Kereta Api Bisnis (K2) nggak lagi diproduksi, seolah dibiarkan terus menua. Nggak sedikit pula yang harus berakhir di Stasiun Cikaum untuk diafkirkan dan dirucat.

4 KAJJ yang masih tersisa: Kereta Api Ciremai Ekspres (Bandung-Semarang Tawang), Kereta Api Lodaya (Bandung-Solo Balapan), Kereta Api Malabar (Bandung-Malang) dan Kereta Api Mutiara Selatan (Bandung-Malang via Surabaya Gubeng) tinggal tunggu waktu buat ganti rangkaian jadi Stainless Steel. Pastinya kalo udah gitu jadi gabungan K1 18 dan K3 18, atau mungkin jadi full K1 18.

Kita tunggu aja sampe tahun 2019 nanti, kita akan ucapkan kalimat “We’ll Gonna Miss You, Legend” buat Kereta Api bisnis (K2) yang legendaris.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.