Posted on

(Video) Mengabadikan K3076BD eks KRD MCW 301

Status konservasi otomatis menjadikannya nggak bisa lagi dinas reguler sebagai Kereta Api Lokal Bandung Raya. Video ini sekaligus mengabadikan K3076BD alias eks KRD MCW 301, bagian dari sejarah modernisasi perkeretaapian nasional yang kini tinggal tersisa 6 unit saja. 

Gerbong eks KRD MCW 301 ini mulai benar-benar berhenti dinas sejak kedatangan gerbong mutasi dari Daop 1 Jakarta yang sebelumnya dinas sebagai Lokalan Rangkasbitung dan Merak. Mulai beroperasinya KRL Commuter Line sampe Stasiun Rangkasbitung otomatis bikin sejumlah lokalan di Daop 1 berhenti dinas, kaya Kereta Api Langsam, Kereta Api Rangkas Jaya sampe Kereta Api Kalimaya.

Nggak cuma itu, Kereta Api Krakatau aja jadi korban dan harus potong rute dari semula Blitar-Merak jadi Blitar-Pasar Senen. Lokalan yang tersisa rutenya dipotong jadi cuma Merak-Rangkasbitung, nggak lagi bablas sampe ke Tanah Abang. Akhirnya banyak rangkaian gerbong jadi nggak kepake lagi alias idle, padahal dari segi kelayakan masih bisa dinas. Maka dari itu dimutasi ke Daop 2 Bandung.

Sayangnya mutasi besar-besaran itu justru makan korban. Disamping buat menambah dan memperkuat kereta api Lokal Bandung Raya yang makin kebanjiran peminat, ternyata “rombongan bedol desa” itu juga gantikan K3076BD alias gerbong eks KRD MCW 301 yang selama ini lekat sama Kereta Api Lokal Bandung Raya. Maka jadilah gerbong eks KRD MCW 301 dikandangin. Tersisa 6 unit dan semuanya “konservasi”.

Korban Standardisasi, Boleh Jadi Iya

Ironisnya, sebagian gerbong mutasi itu usianya lebih tua dari eks KRD MCW 301, yakni angkatan 1960-an. Bahkan ada yang jadi saksi bisu Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987. Boleh jadi dikandanginnya eks KRD MCW 301 akibat standardisasi yang diterapin sama PT.KAI itu sendiri.

Istilah standardisasi sebetulnya “sindiran” buat kebanyakan gerbong eksekutif (K1) yang kursinya nggak lagi berbalut beludru dan diganti ke kulit. Malahan sekarang susah bedain mana eksekutif argo dan eksekutif satwa. Formasi kursinya aja mirip, meski tetap kapasitas 50 penumpang, single seat yang semula cuma ada di eksekutif argo sekarang bisa ditemuin di satwa.

Ternyata nggak cuma K1 aja yang kena “standardisasi”. K3 pun sama, dimana semua seat di gerbong K3 kapasitas 106 penumpang dibikin sama, dari kulit. Meski agak tegak, tapi lebih nyaman ketimbang kursi perjuangan yang dari rotan, atau kursi plastik kaya kebanyakan di kereta lokalan. Nggak ada lagi gerbong K3 lokalan yang kursinya pake plastik apalagi dibikin berhadapan kaya di KRL Commuter Line.

Kereta Api Lokal Bandung Raya yang sekarang pake gerbong K3 kapasitas 106 penumpang juga dilengkapi fasilitas toilet layaknya Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ). Jadi fasilitasnya betul-betul dibikin seragam kaya Kereta Api Pasundan atau Kahuripan misalnya. Inilah yang boleh jadi bikin gerbong eks MCW 301 terpaksa harus dikandangin.

K3076BD alias gerbong eks KRD MCW 301 memang unik, beda dari kereta biasa, selain kursinya menyamping kaya KRL Commuter Line (atau lebih pasnya kaya KRL Ekonomi zaman dulu) nggak ada fasilitas toilet di sini. Itu semua karena gerbong ini dulunya KRD MCW 301 buatan Nippon Sharyo Jepang, dari awal diset sebagai kereta perkotaan tanpa fasilitas toilet, mirip sama KRL Ekonomi.

Kondisi itu tetap dipertahanin meski udah dimodifikasi jadi gerbong biasa mulai pertengahan 1990-an. Bedanya cuma ditarik sama lokomotif aja. Kini karena ada standardisasi, gerbong eks MCW 301 pun mau nggak mau harus dikonservasi. Status yang bikin nggak bisa lagi dibawa dinas Kereta Api Lokal Bandung Raya.

Video Buat Mengabadikan

Setelah dikonservasi, 4 unit di jalur 4 Stasiun Cimahi dan 2 unit di sepur badug Stasiun Bandung sebelah selatan, belum tau gimana nasib gerbong eks-KRD MCW 301 ini ke depannya. Satu hal yang pasti, kereta ini udah nggak bisa dinas lagi buat melayani penumpang. Ada kemungkinan didinasin lagi, tapi paling-paling sebatas jadi gerbong barang atau pembangkit. Atau paling apes ya dirucat.

Video clip diatas dibikin buat mengenang jasa-jasa sang legenda yang jadi bagian dari modernisasi perkeretaapian nasional di era 1970-an, di saat perkeretaapian sejatinya mulai mundur karena penutupan jalur lintas cabang yang dinilai udah nggak layak lagi. Ini sekaligus buat persiapan kemungkinan terburuk bila kelak gerbong ini betul-betul dirucat semua dan hilang.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *