Posted on

Tenggelamnya Kapal Junyo Maru

Bukan cuma mereka yang ngerjain rel kereta api Muaro-Pekanbaru. Penderitaan juga harus dirasain jauh sebelum Romusha dan POW Sekutu nyampe di lokasi proyek. Kapal yang ditumpangi harus karam kena torpedo. Diantaranya Kapal Junyo Maru, makan korban sekitar 5620 jiwa.

Rel kereta api Muaro-Pekanbaru dibangun untuk mendukung pemenangan perang Militer Jepang melawan Sekutu. Merealisasikan rencana lama yang sempat dibikin Belanda sebelum ditaklukkan. Jalur ini dinilai penting buat supply batu bara dari Sawahlunto ataupun pergerakan militer Jepang dari pantai barat ke timur Sumatera dan sebaliknya.

Jadi menurut Jepang, jalur ini jelas punya nilai penting. Pengangkutan lewat laut udah sulit karena sering diganggu kapal selam Sekutu. Padahal sebelumnya nggak sempat dibangun Belanda karena butuh biaya besar dan menurut hitung-hitungan mereka nggak akan bisa nutupin biaya investasi karena bakal lebih banyak ngandalin angkutan batu bara.

Sayang meski dianggap penting, rel kereta api Muaro-Pekanbaru dibangunnya malah terkesan asal-asalan, nggak sesuai standard. Tanah yang harusnya dipadatin terutama di daerah rawa-rawa berlumpur cuma diuruk doang nggak dipadatin sama sekali.

Terowongan yang aturan dibangun buat tembus pegunungan di Bukit Barisan nggak diikutin. Jepang malah pilih bikin jalur alternatif dibikin talud (tembok) ngelewatin jurang-jurang dalam di tepian sungai,

Belum lagi jembatan dibangun asal-asalan. Pondasinya rapuh banget cuma dibuat dari kayu. Secara sungai yang dilewati, kaya Kampar Kanan, itu dalam, lebar dan berarus deras. Pada akhirnya jembatan-jembatan inipun hilang tersapu banjir. Mau gimana lagi karena pondasinya emang jauh banget dibawah standard.

Makanya jangan heran kalo pada akhirnya jalur ini nggak pernah digunakan sesuai rencana awal. Cuma ngangkutin pekerja aja itupun ujung-ujungnya malah anjlok gara-gara longsor di satu titik dan mengubur kereta beserta para penumpangnya. Nyaris nggak pernah ada kereta api yang lewat sini karena udah pasti bakalan anjlok.

Mirisnya lagi, puluhan ribu jiwa harus meregang nyawa dalam proses pembangunannya dan hanya kurang dari 20.000 jiwa yang bisa selamat dari segala penderitaan selama proses pengerjaan sekaligus ikut menikmati kemerdekaan Indonesia.

Pondasi jembatan memang masih kelihatan sampai tahun 1949. Tapi setelahnya udah nggak ada lagi, hanyut kebawa banjir besar di musim hujan. Pelan-pelan rel kereta api Muaro-Pekanbaru hilang dipretelin sama orang-orang nggak bertanggung jawab.

Praktis lenyaplah sudah saksi bisu penderitaan berat para pekerja rel kereta api Muaro-Pekanbaru, terutama para Romusha yang diperlakukan jauh lebih buruk daripada binatang. Kecuali sebuah monumen lokomotif dan onggokan lokomotif uap di tengah hutan dalam keadaan udah banyak komponennya hilang dipretelin.

Derita Di Perjalanan

Ternyata penderitaan nggak cuma dirasain mereka yang ngerjain rel kereta api Muaro-Pekanbaru. Derita udah mulai dirasain di perjalanan sebelum nyampe di lokasi pembangunan rel kereta api Muaro-Pekanbaru.

Kebanyakan Romusha yang dijadiin pekerja diangkut pake kapal laut dari Pulau Jawa, begitu juga pekerja dari POW Sekutu. Pengangkutan via laut jelas penuh risiko karena kapal-kapal selam Sekutu selalu mengintai kapal apapun yang dinilai mencurigakan.

Tanggal 26 Juni 1944, Kapal Van Waerwijk dalam perjalanan di rute Tanjung Priok-Singapore-Belawan-Padang. Kapal barang ex-KPN ini mengangkut 1190 orang pekerja dari kalangan Romusha, POW Belanda dan POW Inggris. Kapal ini ditenggelamkan kapal selam HMS Truculent nggak lama setelah meninggalkan pelabuhan Belawan.

Ternyata ini baru permulaan, sekarang giliran Kapal Junyo Maru bernasib sama kaya Van Waerwijk, bahkan korbannya jauh lebih banyak sampai melebihi korban Tragedi Titanic yang makan korban jiwa 1522 penumpang.

Kapal Junyo Maru mengangkut 6500 orang, terdiri dari Romusha dan POW Sekutu (kebanyakan dari Belanda). Sekitar 31 km lepas pantai Muko-Muko di perairan Sumatera Barat, kapal Junyo Maru tenggelam setelah dihajar 2 torpedo Kapal Selam Inggris, HMS Tradewind, dibawah komando S.L.C. Maydon.

Sedikitnya 5620 orang tewas tenggelam bersama kapal Junyo Maru. Sebagian besar korban kapal Junyo Maru ialah Romusha yang kebanyakan nggak bisa berenang. Sementara POW Sekutu udah terlatih berenang sehingga banyak yang selamat dari tragedi ini.

Sejatinya musibah Tenggelamnya Kapal Junyo Maru jadi tragedi maritim terbesar di dunia. Dilihat dari jumlah korbannya 5620 jiwa jauh lebih banyak dari korban Tragedi Titanic. Cuma karena Titanic kapal pesiar super mewah yang ditumpangin orang-orang kaya dan bangsawan jadi lebih dikenal sepanjang sejarah.

The Death Railway dan Rencana Trans Sumatra Railway.

Rel kereta api Muaro-Pekanbaru banyak makan korban para pekerjanya terutama Romusha. Mereka dipaksa bekerja setiap hari tanpa henti dan cuma dikasih makan minum sekali, itu juga porsinya sedikit. Nggak ada istilah capek atau sakit, mereka yang kedapatan akhirnya harus mendapat siksaan dari militer Jepang yang nggak jarang sampai tewas karena siksaan itu.

Selain karena sakit, kecapekan dan disiksa tentara Jepang, banyak juga yang hilang tersesat ditengah hutan atau jadi santapan binatang buas. Maklum rel kereta api Muaro-Pekanbaru dibangun menembus hutan belantara dan rawa-rawa penuh binatang buas semisal ular dan lintah, ditambah lagi jutaan nyamuk malaria.

Nggak cukup cuma disitu, sebelum nyampe di lokasi pembangunan juga udah banyak korban berjatuhan dari musibah tenggelamnya kapal Junyo Maru dan Van Waerwijk. Lebih dari 6000 jiwa telah tewas lebih dulu di tengah laut sebelum nyampe di tujuan.

Maka lengkaplah sudah image rel kereta api Muaro-Pekabaru sebagai The Death Railway, Jalur Maut atau Jalur Kematian. Sayang saksi bisu penderitaan para Romusha itu kini nyaris hilang nggak bersisa. Nggak ada sisa lagi jalan rel-nya.

Cuma sekarang ada sedikit titik terang dimana jalur kereta api Muaro-Pekanbaru masuk bagian Trans Sumatra Railway yang lagi dibangun pemerintah Indonesia. Tujuannya Aceh nyampe Lampung terhubung rel kereta api, kaya di Pulau Jawa dari ujung ke ujung. Ada yang bikin jalur baru, sebagiannya reaktivasi atau ngidupin lagi jalur lama.

Rel kereta api Muaro-Pekanbaru yang jadi bagian dari Trans Sumatra Railway bakal dibablasin ke Dumai dan akhirnya bablas ke Kertapati di Sumatera Selatan yang udah ada jaringan kereta api dan nyambung ke Lampung.

Kita tunggu aja semoga Trans Sumatra Railway segera terwujud. Paling nggak buat gantiin jejak yang hilang dari rel kereta api Muaro-Pekanbaru peninggalan Jepang biar kita nggak ngelupain sejarah.

Dulu pernah dibangun rel kereta api Muaro-Pekanbaru yang makan korban puluhan ribu. Mereka yang meregang nyawa di lokasi proyek atau di perjalanan dimana salah satunya jadi korban tenggelamnya kapal Junyo Maru.

 


SUMBER POSTINGAN: 

Advertisements

Leave a Reply