Tagog Apu, Kisah Miris Stasiun Kecil di Jalur Legendaris

Tagog Apu Kisah Miris Stasiun Kecil di Jalur Legendaris 1881-1884

Tagog Apu adalah sebuah desa di Kecamatan Padalarang. Kita akan tertuju ke sebuah stasiun kecil yang udah ada sejak 1884. Bagian dari jalur legendaris yang dibangun di era kolonial. Sayang kondisinya boleh disebut miris.

Walaupun kecil tapi punya nilai sejarah. Gimana nggak? Stasiun ini dibangun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Jadi bagian dari jalur kereta api Batavia-Priangan di lintas Batavia-Buitenzorg-Bandung yang dibangun 1881-1884.

Inilah jalur kereta api pertama yang menghubungkan Jakarta dan Bandung, juga kota-kota lainnya di Timur Pulau Jawa. Bahkan dulu mau ke Surabaya sekalipun lewatnya sini. Karena jalur utara via Cirebon belum dibangun. Jalur yang lantas tersambung dengan Solo-Semarang-Surabaya.

Pembangunan jalur kereta api tersebut nggak lain karena kepentingan ekonomi. Untuk memperlancar distribusi hasil bumi dari Tanah Priangan yang nantinya di ekspor ke luar negeri. Karena jalan raya Pos Daendles nggak mungkin jadi satu-satunya andalan untuk itu.

Pengangkutan lewat jalan raya belum bisa dibilang memadai. Karena andalannya lebih banyak pake tenaga delman dan kuli panggul yang memakan waktu lama. Meski perahu juga dipakai buat sarana angkut melintas Sungai Citarum. Jadi kurang efisien dan ekonomis.

Karena itulah dibangun jalur kereta api. Waktu itu jalur yang ada baru sebatas Batavia-Buitenzorg. Pemerintah ingin agar jalur diteruskan ke Priangan. Maka oleh Staatspoorwagen (SS) diperpanjang ke Sukabumi, Cianjur, Bandung, hingga Cicalengka.

Jalur tersebut bahkan disambung lagi ke Garut pada tahun 1904 dan sebagian menuju wilayah Jawa tengah dan Timur. Dengan tambahan kepentingan politik dan militer.

Nah perpanjangan ke Bandung inilah yang dibangun pada tahun 1878-1884 dan melewati Desa Tagog Apu. Dimana Stasiun Tagog Apu (TAU) berada.


Stasiun Tagog Apu (TAU) Asalnya Punya 3 Jalur Sekarang Tinggal 1 Jalur Siap Operasi

Stasiun ini dibangun Staatspoorwegen (SS) tahun 1884 seiring pembangunan tahap akhir di ruas Cianjur-Bandung dari keseluruhan Buitenzorg-Bandung agar bisa terhubung dengan Batavia. Meski stasiun kecil tapi punya nilai sejarah.

Asalnya stasiun ini punya 3 jalur, namun pada perkembangannya berkurang jadi 2 jalur. Apalagi di tahun 1990-an nggak banyak kereta api yang melintas di sini. Untuk angkutan penumpang dari Bandung ke Sukabumi pake trainset dengan formasi 2 kereta ekonomi (K3) ditarik loko BB 301/304.

Kerena ini yang di kemudian hari dikenal dengan nama Kereta Api Lokal Cianjuran atau Argo Peuyeum. Nah dulunya kereta ini rutenya Bandung-Sukabumi PP. Makanya waktu itu nama Argo Peuyeum lebih dikenal.

Adapun asal usul nama tersebut tak lepas dari Stasiun Cipeuyeum sebagai salah satu persinggahan. Dimana tempat itu jadi sentra penjualan Peuyeum. Terletak di Kabupaten Cianjur. Layanan Argo Peuyeum Bandung-Sukabumi PP berlangsung hingga tahun 2001.

Sebelum terhenti akibat longsor di Terowongan Lampegan. Rute kereta pun dipotong jadi cuma sampe Lampegan, sebelum akhirnya Cianjur (CJ). Pemberangkatannya pun dipindah dari semula Stasiun Bandung (BD) ke Stasiun Ciroyom (CIR).

Perubahan rute yang jadi cuma nyampe Stasiun Cianjur (CJ) ini akhirnya membuat kereta ini juga dikenal dengan nama Lokal Cianjuran. Kira-kira 2 tahun sebelum pensiun rutenya harus dipotong lagi jadi cuma nyampe Stasiun Padalarang (PDL).

Selama Argo Peuyeum (Lokal Cianjuran) dinas, Stasiun Tagog Apu (TAU) memiliki 2 jalur yang bisa dilewati. Asalnya kereta ini ada 2 trainset, namun karena okupasi minim jadi cuma satu trainset yang jalan. Sehingga nggak ada yang namanya persilangan di sini.

Namun setelah Argo Peuyeum pensiun pertengahan 2012 Stasiun Tagog Apu ditutup dan mati suri. Sempat akan dilewati KA Kiansantang tapi nggak jadi karena kendala lintasan ekstrem dan jalur yang rawan longsor. Praktis stasiun pun non aktif sampe sekarang.

Jalurnya lagi-lagi harus berkurang jadi tinggal satu aja yang siap operasi. Yakni jalur 2 atau spoor lurus. Jalur 1-nya udah nggak ada lagi. Nah keberadaan rel melintang yang menutupinya diduga merupakan bekas jalur 1 Stasiun Tagog Apu (TAU).

Kondisi Miris Stasiun Tagog Apu Jalur 1 Hilang Tertutup Rel Melintang
Kondisi miris Stasiun Tagog Apu (TAU). Jalur 1 hilang tertutup rel melintang. Praktis tinggal sisakan satu jalur yang siap operasi (SO). Jalur 2 atau spoor lurus. Sekarang stasiun pun cuma punya satu jalur

Miris, Punya Sinyal Elektrik Tapi Nggak Terpakai

Keberadaan rel melintang diduga bekas jalur 1 yang tercabut tentu membuat kondisi stasiun jadi miris. Memang di satu sisi wajar aja karena toh nggak ada kereta yang melintas secara reguler di sini. Kecuali kereta inspeksi aja.

Rel Melintang Menutupi Jalur 1 Stasiun Tagog Apu
Rel melintang menutupi Stasiun Tagog Apu (TAU). Inilah yang membuat miris sekalipun bangunan stasiun cukup terawat. Bahkan diduga rel ini dulunya merupakan Jalur 1.

Namun bagi para pecinta kereta api, mengetahui kondisi demikian jelas membuat hati teriris. Gimana nggak, Stasiun Tagog Apu (TAU) sejatinya adalah stasiun legendaris peninggalan Belanda. Bangunan boleh aja terawat tapi harus diikuti juga dengan sarana dan pra-sarana yang ada.

Udah selayaknya stasiun ini jadi bangunan cagar budaya. Tapi keliatannya belum ada tanda-tanda ditetapkan ke arah sana. Andai lebih cepat mungkin nggak akan ada kejadian kaya gini. Rel jalur 1 tercabut bahkan ditutupi rel melintang yang boleh jadi bekas jalur 1 tersebut.

Miris melihat kondisi begini. Apalagi Stasiun Tagog Apu (TAU) sejatinya udah dilengkapi sinyal elektrik buatan PT. LEN Industri. Sayang banget sekarang stasiunnya mati suri.

Sinyal Elektrik Buatan PT. LEN Industri telah terpasang di Stasiun Tagog Apu
Sinyal elektrik buatan PT. LEN Industri udah terpasang di Stasiun Tagog Apu (TAU). Sayang banget jadi nggak terpakai karena stasiunnya mati suri. Nggak ada layanan kereta reguler kecuali sebatas kereta inspeksi aja.

Petak Cipatat yang Ekstrem

Apa sih sebenarnya yang sekarang bikin Kisah Miris Stasiun Kecil di Jalur Legendaris? Padahal di tahun 2014 sempat mau dilewatin KA Kiansantang dan akhirnya nggak jadi. Ada apa gerangan?

Arah Stasiun Cipatat (CPT) Melewati Jalur Ekstrem
Arah Stasiun Cipatat (CPT) yang akan melewati jalur ekstrem. Keberadaan jalur ekstrem inilah yang jadi kendala utama reaktivasi 20% lagi jalur Kereta Api Manggarai-Padalarang. Termasuk Stasiun Tagog Apu (TAU).

Ternyata petak ekstrem antara Tagog Apu dan Cipatat jadi kendala untuk mengaktifkan kembali 20% jalur kereta api Manggarai-Padalarang. Termasuk Stasiun Tagog Apu (TAU) tentunya.

Waktu ujicoba KLB Kiansantang aja rangkaian sempat mengalami selip di sini sehingga akhirnya delay. Pasca ujicoba tersebut ada petak yang longsor. Jadi aja KA Kiansantang batal dinas dan stasiun pun urung aktif.

Kini hampir 7 tahun sudah Stasiun kecil nan legendaris ini harus termenung kesepian tanpa dilewatin kereta api secara reguler. Cuma kereta inspeksi aja yang lewat secara insidentil. Semoga aja stasiun ini bisa dibuka kembali dan beroperasi reguler sebagaimana stasiun lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.