Suka Duka KRL Toei 6000 di Indonesia

KRL Toei 6000 dihibahin Kaisar Jepang lewat Pemerintah Kota Tokyo tahun 2000 karena prihatin atas kemunduran kereta api Jabodetabek selama dekade 1990-an. Suka duka mengiringi masa dinasnya di Indonesia.

Inilah rangkaian KRL ex-Jepang angkatan pertama yang dinas di Indonesia. Kedatangannya dilatarbelakangi keprihatinan Kaisar Jepang atas kondisi kereta api lokal di Jakarta, termasuk KRL Jabodetabek. Sepanjang dekade 1990-an kualitas pelayanan KRL Jabodetabek memang makin turun.

Itu ditandai mulai banyaknya penumpang di atas atap alias atapers. Belum lagi pintu otomatis mulai pada rusak dan susah ditutup. Malah mulai sering diganjal sama penumpang supaya tetap bisa naik ke KRL Jabodetabek.

Memang sih masih ada KRL Jabodetabek yang agak mendingan kaya KRL Pakuan Ekspres, Bekasi Ekspres dan Benteng Ekspres. Pake rangkaian KRL Rheostatik Stainless Steel kelas bisnis. Malahan untuk Pakuan Ekspres ada satu set yang udah dilengkapi fasilitas AC karena rangkaiannya pernah dipake buat resmiin jalur layang Manggarai-Jakarta Kota.

Tapi jumlah armadanya nggak seberapa. KRL Ekonomi masih tetap dominan dengan kondisi yang kamu tau sendiri kaya gimana. Penumpang gelantungan, berjejalan di atas atap, atau naik kabin masinis, belum lagi KRL jalan pintunya selalu terbuka lebar, nggak bisa lagi ditutup akibat mulai kendor, kurang perawatan atau sering diganjal sama penumpang.

Atas dasar kondisi inilah, Kaisar Jepang lewat Pemerintah Kota Tokyo menghibahkan 72 unit KRL Toei 6000 buat didinasin di Indonesia, khususnya Jabodetabek. Di Jepang, KRL Toei 6000 dinas sebagai kereta bawah tanah (subway) di jalur Toei Mita Line. KRL ini udah dinas sejak 1968, hmm tua juga ya. Tapi paling nggak pas dikirim ke Indonesia masih mulus dan adem.

toei-6000-lohan

Gantiin KRL Rheostatik Stainless Steel (KL 2)

KRL Toei 6000 mulai dinas di Indonesia tahun 2000 sebagai KRL Ekspres gantiin KRL Rheostatik Stainless Steel kelas bisnis. Awalnya KRL Toei 6000 beroperasi sebagai KRL Pakuan Ekspres (Jakarta Kota/Tanah Abang-Bogor) dan KRL Bekasi Ekspres (Jakarta Kota/Tanah Abang-Bekasi). Dua jalur ini dipilih karena padat penumpang.

Sementara di jalur kulon yang waktu itu elektrifikasinya baru nyampe Stasiun Serpong sama jalur Tangerang masih pake KRL Rheostatik Stainless Steel kelas bisnis (KL 2). Kadang rangkaian KRD MCW 302 bisnis (KD 2) juga dipake disini. Rangkaian ini sebelumnya dinas di jalur Bekasi sampe kedatangan KRL Toei 6000.

toei-6000-expass

KRL Toei 6000 formasi aslinya 6 kereta per ranngkaiannya (1 set = 6 kereta) tapi karena pas didatangin nggak berurutan, formasinya mengalami beberapa kali perubahan. Ditambah lagi ada kereta yang dikirim tanpa kabin masinis, dan akhirnya dibikinin kabin masinis rakitan dijadiin satu trainset tersendiri.

Di Jabodetabek, standard formasi KRL Toei 6000 ialah 8 gerbong, tapi masih ada yang asli 6 gerbong bahkan yang 4 gerbong juga ada. Untuk yang pake kabin rakitan ada 2 rangkaian yakni 6177F a.k.a. Expass sama 6182F a.k.a. Lohan. Satu lagi Djoko Lelono 2 yang 4 gerbong dinas sebagai KRL Ekonomi AC Tanjung Priok Bekasi.

KA Wisata Ancol dan Tragedi Kebon Pedes

Sepanjang karirnya di Indonesia, KRL Toei 6000 memang lebih sering didinasin sebagai KRL Ekspres, pernah juga jadi KA Wisata Ancol yang dijalanin setiap hari Minggu, berangkat dari Stasiun Bogor dan Stasiun Bekasi.

Satu peristiwa kelam pernah mengiringi perjalanan KRL Toei 6000 di Indonesia, yakni Tragedi Kebon Pedes 4 Agustus 2009 dimana KRL Toei 6000 yang dinas sebagai KRL Pakuan Ekspres nyundul KRL Ekonomi Holec di depannya. Kabin masinis rusak berat, sebagian gerbong juga mengalami kerusakan dan susah dibetuli lagi. 1 orang tewas dalam insiden ini.

djoko-lelono-2

Pasca Tragedi Kebon Pedes, satu rangkaian Toei 6000 mulai babak baru dalam tugasnya. Rangkaian yang selamat dari kecelakaan itu, 4 gerbong, dijadiin trainset sendiri dan dibikinin kabin masinis rakitan warna putih mirip KRL Rheostatik Djoko Lelono 1, kerja bareng Balai Yasa Manggarai sama Rahayu Santosa. Disini lahir Djoko Lelono 2.

Selanjutnya KRL Toei 6000 Djoko Lelono 2 ex Tragedi Kebon Pedes dimutasi ke jalur Bekasi dan dinas disitu melayani rute Tanjung Priok-Bekasi sebagai KRL Ekonomi AC dimana Stasiun Tanjung Priok mulai dibuka lagi dan melayani penumpang, termasuk. KRL Jabodetabek.

Era Commuter Line dinas di Loop Line/Yellow Line, AC Mulai Panas.

Tahun 2011 PT. KAI sederhanain rute perjalanan KRL Jabodetabek. Di tahun itu juga KRL Commuter Line mulai diperkenalkan, setelah sebelumnya layanan KRL ekspres ditiadakan. Otomatis semua armada KRL Toei 6000 nggak lagi jadi KRL Ekspres tapi menyesuaikan sama pola operasi yang baru.

Di era KRL Commuter Line, armada KRL Toei 6000 masih dinas meski jumlahnya makin menyusut. Kebanyakan KRL Toei 6000 didinasin di Loop Line / Yellow Line dari Stasiun Jatinegara ke Depok/Bogor via Kampung Bandan-Tanah Abang. Jalurnya ngikutin Ciliwung Blue Line cuma begitu nyampe Stasiun Manggarai bablas ke Depok/Bogor.

Disinilah kualitas KRL Toei 6000 mulai menurun, terutama di AC atau pendingin udara. Banyak penumpang yang ngeluhin KRL panas mirip sauna berjalan. Lama-lama populasi KRL Toei 6000 terus berkurang sampe di tahun 2015 cuma nyisain satu armada aja di Yellow Line.

Sebenarnya KRL Toei 6000 nggak cuma dinas di Yellow Line, ada satu armada di Pink Line yakni Djoko Lelono 2 sebagai Feeder Jakarta Kota-Kampung Bandan. Itu juga gantian sama KRLI Prajayana. Sebelum era-Commuter Line, keduanya dinas sebagai KRL Ekonomi AC Tanjung Priok-Bekasi.

Tapi kedatangan armada baru KRL Kfw 9000 akhirnya menyudahi masa dinas keduanya. KRLI Prajayana sendiri mengalami kerusakan parah dan akhirnya dirucat di Stasiun Cikaum. Toei 6000 Djoko Lelono 2 juga akhirnya mangkrak di Dipo Bogor.

Sekarang semua KRL Toei 6000 udah pensiun. Kelangkaan suku cadang dan usia yang udah tua banget harus menyudahi masa dinas pelopor KRL ex-Jepang di Indonesia ini. Sebagian dikirim ke Stasiun Cikaum buat dirucat di sana, ada juga yang dirucat di sekitar Dipo KRL Depok.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: