Stasiun Sadang yang Penuh Coretan

Dulu jadi tempat persilangan dan buat naik turun penumpang kereta api lokal. Tapi sekarang kondisinya sangat mengenaskan. Stasiun Sadang di Kabupaten Purwakarta dipenuhi coretan pilox.

Secara posisi Stasiun Sadang memang agak tanggung walaupun sangat strategis nggak jauh dari jalan raya Purwakarta yang dulu jadi akses utama angkutan jalan raya dari Jakarta ke Bandung sebelum ada tol Cipularang. Disitu juga ada warung soto yang cukup enak dan terkenal, Soto Sadang.

Terletak di antara Stasiun Cibungur dan Stasiun Purwakarta, dulu sebelum dibangun double track stasiun ini lumayan rame. Stasiun ini rutin dipake buat persilangan Kereta Api Parahyangan dari arah Jakarta ataupun Bandung.

Selain buat silangan, Stasiun Sadang juga melayani turun naik penumpang kereta api lokal Purwakarta termasuk waktu masih pake rangkaian KRD MCW 302. Posisi strategis dekat sama jalan raya dan warung makan jelas bikin stasiun ini rame.

Cuma semuanya berubah setelah dibangun double track dari Cikampek ke Purwakarta. Stasiun Sadang nggak lagi dipake buat persilangan, semua rangkaian kereta api bablas disini, paling silangannya juga di Stasiun Purwakarta karena petak dari Stasiun Purwakarta ke Stasiun Ciganea masih single track.

Mulai Gapeka 2015

Kalo dulu stasiun ini sempet rame, terutama di era 1990-an karena ada kegiatan persilangan disini selain turun naik penumpang lokalan, pertanyaannya kapan Stasiun Sadang mulai non-aktif? Terhitung mulai Gapeka 2015 tanggal 1 April 2015 Stasiun Sadang nggak lagi melayani turun naik penumpang.

Penumpang kereta api lokal (sekarang Kereta Api Walahar Ekspres) bisa naik dari Stasiun Purwakarta atau Stasiun Cibungur. Nggak jelas apa alasan Stasiun Sadang di non-aktifkan padahal dari segi posisi stasiun ini jauh lebih strategis dibanding Stasiun Cisomang yang juga udah non-aktif dan cuma berfungsi buat “gardu jaga”

Boleh jadi alasannya ekonomis karena penumpang lebih memilih naik dari Stasiun Purwakarta yang posisinya nggak terlalu jauh dari sini. Atau bisa juga di masa lalu stasiun ini terus merugi karena banyak penumpang yang nggak beli tiket. Ya tau sendiri kan kondisi kereta api Indonesia secara umum sebelum Pak Jonan datang?

Saat beliau datang itu ada restrukturisasi di sana sini supaya keuangan PT.KAI sehat lagi, karena sebelumnya laporan keuangan PT.KAI selalu minus. Diantaranya banyak rute-rute kereta api yang tumpang tindih dan dinilai tak efisien sehingga banyak ditutup di era beliau. Misalnya aja Kereta Api Galuh (Jakarta Pasar Senen-Banjar).

Pasca ditutup penumpang Kereta Api Galuh pindah ke Kereta Api Serayu. Begitu juga kereta api Cisadane rute Bandung-Jogja, penumpangnya dialihkan ke Kereta Api Pasundan dan Kereta Api Kahuripan. Sampe sang legenda, Kereta Api Parahyangan, pun tak luput dari restrukturisasi dan rasionalisasi. Digabung sama Argo Gede sehingga lahirlah Kereta Api Argo Parahyangan.

Nggak cuma rute kereta api, stasiun pun setali tiga uang. Dianggap inefisiensi dan merugi harus siap ditutup. Boleh jadi inilah yang dialami Stasiun Sadang. Bahkan nasibnya lebih tragis daripada Stasiun Cisomang, dimana masih ada aktivitas disitu meski cuma sekedar memantau dan mengendalikan sinyal kereta api.

Stasiun Sadang ditinggalkan, nasibnya merana dan tragis. Bangunan itu kini dipenuhi banyak coretan-coretan piloks. Jadi korban vandalisme. Betul-betul nggak keurus. Semoga saja ada pihak terkait yang mau perhatiin kondisi stasiun Sadang.

Kalopun nggak lagi melayani penumpang, setidaknya bisa lah dirawat buat dijadiin monumen kaya bangunan PJL 162 Jalan Braga yang lama, atau Stasiun Maguwo Lama.

Leave a Reply

%d bloggers like this: