Stasiun Lemahabang dan PJL 22 Lemahabang (Raja Jin)

Stasiun Lemahabang dan PJL 22 Lemahabang jadi salah satu spot yang dilewati KA Lokal Jakarta Bandung (KA Walahar Ekspres). Di sinilah lokasi syuting Film Raja Jin Penjaga Pintu Kereta (1974). Kebetulan KA Walahar berhenti lama, ternyata disusul KA 32.

Ibaratnya belum sepertiga perjalanan KA Lokal Jakarta Bandung. Perjalanan boleh dibilang masih lumayan panjang. Setelah sebelumnya berangkat dari Stasiun Tambun (TB) jam 11.57 WIB. Memang di satu sisi udah lepas dari lintas Commuter Line (Blue Line).

Stasiun Cikarang (CKR) jadi akhir lintasan KRL Commuter Line, Blue Line. Sebenarnya sih bisa aja perjalanan KA Lokal Jakarta Bandung dimulai dari sini. Tapi karena nggak mau ambil risiko dan menghemat ongkos Grab. Dipilihlah Stasiun Tambun (TB) sebagai titik keberangkatan awal.

Lebih tepatnya keberangkatan awal fase 2 menggunakan KA Walahar Ekspres rute Tanjung Priok – Purwakarta. Kereta yang dulunya bernama KA Lokal Purwakarta alias odong-odong. Lokalan ini bablas langsung di semua lintas KRL mulai dari Pasar Senen (PSE) sampe Bekasi (BKS).

Stasiun Lemahabang dan PJL 22 Lemahabang (Raja Jin)

Stasiun Lemahabang (LMB), Disusul KA Argo Parahyangan 32

Selepas Stasiun Cikarang (CKR), KA Walahar Ekspres melintas Cikarang Dry Port. Ini semacam pool container sebelum/sesudah dikirim dari Tanjung Priok (TPK). Kereta melintas langsung di sini dan baru berhenti di Stasiun Lemahabang Kabupaten Bekasi.


Stasiun Lemahabang (LMB), Kabupaten Bekasi
Stasiun Lemahabang (LMB), Kabupaten Bekasi
Bagian lain dari Stasiun Lemahabang (LMB)
Bagian lain dafi Stasiun Lemahabang (LMB)

KA Walahar Ekspres Menunggu disusul KA 32


Ada yang bikin penasaran. Kenapa kereta berhenti cukup lama. Padahal normalnya berhenti paling lama sekitar 5 menit. Tapi ini lewat dari 15 menit belum juga berangkat. Ternyata KA Walahar Ekspres menunggu disusul KA Argo Parahyangan 32.

KA Argo Parahyangan 32 berangkat dari Stasiun Gambir jam 11.30 WIB. KA 32 yang menggunakan idle KA Harina itu singgah di Stasiun Bekasi (BKS). Selanjutnya berangkat dari sana jam 12.02 WIB. Jadwal perjalanannya tepat di belakang KA Walahar Ekspres.

Tentunya sebagai rangkaian KA Lokal kelas ekonomi yang kelasnya jauh dibawah. KA 32 harus dapat prioritas lebih. Namanya juga KA Lokal udah jelas berhenti di setiap stasiun dan pos pemberhentian. Kecuali di stasiun kereta barang macam Cikarang Dry Port.

Alhasil KA 32 pun melintas Stasiun Lemahabang (LMB). Menyusul KA Walahar Ekspres yang harus mengalah untuk Titisan Sang Legenda. Sekitar 5 menit berselang kereta pun melanjutkan perjalanan.

PJL 22 Lemahabang, Lokasi Syuting Film Raja Jin Penjaga Pintu Kereta

Ada satu spot legendaris yang letaknya nggak jauh dari Stasiun Lemahabang (LMB). Apalagi kalo bukan PJL 22 Lemahabang. Dua-duanya jelas dilewatin semua kereta ke arah timur. Tak terkecuali KA Walahar Ekspres.

PJL 22 Lemahabang jadi lokasi syuting film nasional jaman dulu. Judulnya Raja Jin Penjaga Pintu Kereta produksi tahun 1974. Memang nggak setenar Kereta Api Terakhir terkhusus di kalangan Railfans. Namun tetap aja film dengan latar kereta api di era PJKA.

Berdasarkan tahun produksinya, 1974, saat film direlease loko uap masih banyak yang dinas. Begitupun loko diesel seperti BB 201, BB 202 hingga CC 201. Dari ketiganya hanya CC 201 yang masih dinas hingga kini.

Ada perbedaan sangat mencolok antara di film sama kondisi Lemahabang saat ini. Di film keliatan banget wilayah Kabupaten Bekasi masih didominasi hamparan sawah dan masih banyak pepohonan. Pastinya udaranya lebih sejuk dibanding sekarang.

Nah sekarang mah jangan tanya. Sawah dan ladang udah berganti sama beton dan gedung. Termasuk kawasan PJL 22 sendiri semuanya udah berubah total.


Sekilas Film “Raja Jin Penjaga Pintu Kereta”

PJL 22 yang nggak jauh dari Stasiun Lemahabang (LMB) ternyata punya cerita tersendiri. Lokasi ini dulunya dipake syuting film “Raja Jin Penjaga Pintu Kereta”. Film berlatar kereta api karya Wahab Abdi dan dibintangi Sukarno M.Noer dan Mansyur S.

Film berkisah tentang Gono (Sukarno M. Noor), bekas pemain lenong dengan peran khas Raja Jin, bertugas jadi penjaga pintu lintasan kereta api. Dalam seluruh tindak-tanduknya, baik dalam pekerjaan maupun di rumah, ia tak pernah melepas peran lenong yang sangat disenanginya itu, tapi tak bisa diteruskan karena keluarga istrinya sangat benci pada pekerjaannya sebagai pemain lenong itu.

Tindak-tanduk menari ini membuat para pengendara mobil yang terhenti di lintasan saat kereta lewat, jadi terhibur. Dan hal ini dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk berjualan. Keadaan berubah. Kedua anaknya malu dengan tingkah bapaknya karena jadi bahan ejekan teman sekolah.

Di pihak lain pemilik warung justru marah ketika ia berhenti menari. Apalagi “menari” itu sudah jadi perintah kepala stasiun. Pemilik warung makin serakah. Ia minta lebih sering menutup pintu lintasan, dengan imbalan.

Padahal selama ini ia mengerjakannya dengan sukarela. Hal ini membuat kepala stasiun marah, dan ia diperingatkan keras. Sayang cerita ini tidak lagi diperdalam, tapi dibelokkan menjadi sebuah melodrama.

Anak perempuannya jatuh dari pohon dan terancam lumpuh. Anak lelakinya berusaha bekerja, begitu pula istrinya. Gono merasa sangat terpukul tidak bisa mendapat uang untuk mengobati anaknya. Usaha meminjam pun tidak diperoleh.

Karena rayuan terus-menerus, akhirnya ia menggunakan uang simpanan untuk beli undian. Nasib baik menolong. Malam-malam hujan, saat dia harus menutup pintu lintasan, bahaya banjir menghadang. Bersama anak lelakinya, ia berusaha menghentikan kereta yang melintas. Karena usaha ini, ia mendapat penghargaan dan uang.

[Sumber: Film Indonesia. http://filmindonesia.or.id/movie/title/lf-r025-74-111825_raja-jin-penjaga-pintu-kereta#.XNQMXbtR3IU]


Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.