Posted on

Sejuta Kenangan di KRL Ekonomi Jabodetabek

Pensiun di 2014 karena uzur dan nggak layak operasi lagi, KRL Ekonomi Jabodetabek sejatinya menyimpan sejuta kenangan. Apalagi buat yang dulu pernah merasakan jasanya, misal kendaraan buat kuliah, kerja, atau sekolah.

Buat para rokers atau commuters khususnya di Jabodetabek pasti bakal merindukan suasana gerbong yang berasa pasar berjalan, harga tiket cuma Rp 2.500 untuk perjalanan Jakarta Kota (JAKK) – Bogor (BOO), naik gretongan eh gratisan, ngebordes, lesehan, numpang kabin masinis,

sampe (mudah-mudahan nggak pernah ya) naik di atas atap KRL Ekonomi Jabodetabek alias jadi atapers. Semua kenanagan itu telah berakhir 3 tahun silam, tepatnya di tahun 2014 dimana PT. KAI menghapus semua jadwal perjalanan KRL Ekonomi Jabodetabek dan diganti sama KRL Commuter Line ber-AC.

Seperti kita semua tau, aturan di KRL Commuter Line benar-benar beda jauh sama KRL Ekonomi Jabodetabek yang dulu. Jangankan atapers, asongan sampe gembel, kamu duduk lesehan aja langsung diomelin sama PKD-nya.

Semua stasiun kereta api yang disinggahi KRL Commuter Line jauh lebih tertata rapi. Nggak bisa lagi sembarangan orang masuk karena dilengkapi electronic gate, mirip stasiun kereta commuter di luar negeri. Warung-warung sama lapak PKL semuanya udah hilang.

Ya, kalopun kamu butuh jajan, gerai modern tersedia di beberapa stasiun kaya Indomaret, Alfamart, Roti O sampai Starbucks Coffee. Kedengerannya kok elite banget ya? Memang begitulah adanya.

Sejarah Panjang KRL Jabodetabek

Keberadaan KRL Commuter Line sekarang yang diduluin KRL Ekonomi Jabodetabek atau KRL Jabodetabek secara umum punya sejarah panjang. Udah dari zaman pemerintahan Hindia Belanda malah. Belanda udah ninggalin infrastruktur KRL sebelum mereka angkat kaki dari negeri ini.

Jalur Jakarta-Bogor sama Lingkar Jakarta itu infrastruktur Listrik Aliran Atas (LAA)-nya udah ada dari zaman penjajahan dulu. Beda sama jalur lainnya, kaya Bekasi, yang baru dibikin tahun 1990-an.

KRL pertama kali dinas tahun 1925, waktu itu di rute Tanjung Priok-Mestercornelis (sekarang Jatinegara). Abis itu nyusul jalur Bogor tahun 1930. Selain elektrifikasi jalur Jakarta (batavia)-Bogor dan jalur lingkar, Pemerintah Kolonial juga operasikan tram di Batavia.

Untuk armadanya sendiri, Pemerintah Kolonial lewat ESS (Electrische Staat Spoorwagen) —bagian dari SS (Staat Spoorwagen) yang khusus ngurusin kereta listrik mirip-mirip KCJ (Kereta Commuter Jabodetabek) sekarang— datangin beberapa armada lokomotif listrik, antara lain:

lokomotif listrik seri 3000 buatan SLM–BBC (Swiss Locomotive & Machine works – Brown Baverie Cie),

  1. lokomotif listrik seri 3100 buatan AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft) Jerman,
  2. lokomotif listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor Belanda alias si Bon Bon
  3. kereta listrik buatan pabrik Westinghouse
  4. kereta listrik buatan pabrik General Electric

Sampe Indonesia merdeka, lokomotif dan kereta listrik peninggalan Belanda masih dipake, meski populasinya makin nyusut, tentu karena usia juga sih. Adapun yang dinasnya paling awet itu lokomotif ESS 3000 atau si Bon-Bon nyampe tahun 1970-an.

Tahun 1976, Kementerian Perhubungan impor rangkaian Kereta Rel Listrik / Electric Multiple Unit (KRL/EMU) tipe Rheostatic Mild Steel dari Jepang. Praktis sejak itu si Bon Bon pensiun. Populasinya yang udah nyisa 6 pada dibesi tuakan, tinggal sisa 1 aja, dan inilah yang sekarang hidup lagi meski jadi “rasa Rheostatik”.

KRL Rheostatik dari Jepang terus didatengin di tahun 1978, 1984, sampe 1987. Untuk angkatan 78 masih mild steel sementara di 1980-an udah mulai ada Rheostatik Stainless Steel yang sebagiannya dialokasikan buat KRL Ekspres kelas bisnis (KL2), selain buat KRL Ekonomi sendiri (KL3). Malah di tahun 1990-an pernah ada yang eksekutif (KL1) untuk Pakuan Ekspres.

Masuk era 1990-an, ganti KRL eropa yang masuk, BN Holec. Meski eropa punya, KRL ini dirakit di PT. INKA Madiun, dan untuk karoseri memang dari situ. Ditambah lagi dari ABN Hyundai dan 1997 lagi-lagi buatan Jepang yang masuk, yaitu KRL HItachi yang sering wara-wiri di jalur Bekasi sampe dapat julukan KRL-nya orang Bekasi.

KRL Hitachi juga sama, dirakit di PT. INKA Madiun, bukan CBU (Completely Build Up) dari Jepang kaya KRL Rheostatik sebelumnya. Dijuluki KRL-nya orang Bekasi karena armada ini memang buat ngisi jalur Bekasi yang baru dielektrifikasi.

Demikian sejarah singkat KRL Ekonomi Jabodetabek. Untuk KRL AC sejarahnya mulai tahun 2000-an, waktu ada hibah dari Jepang. InSyaaAlloh nanti bakal dibahas tersendiri.

Kapan Atapers Mulai Ada?

Awal-awal KRL melintas belum ada yang namanya atapers. Semuanya masih terbilang tertib untuk ukuran Indonesia kala itu. Semua fasilitas masih berfungsi normal, termasuk pintu otomatis, baik di KRL Rheostatik Mild Steel angkatan 76-78 maupun KRL Rheostatik Stainless Steel angkatan 84-87.

Nah baru di tahun 1990-an kita kenal yang namanya atapers atau penumpang di atas atap. Mereka yang maunya naik gratisan nggak mau bayar. Padahal ongkosnya aja murah lho, tapi aneh kenapa ya ngak mau bayar.

Era ini juga fasilitas KRL mulai banyak yang rusak. Pintu otomatis mulai kendor karena banyak yang diganjal penumpang. Gerbong udah full masih aja pada maksain masuk. Karena itu jangan heran pada akhirnya semua benar-benar nggak berfungsi. Jadi yang kita lihat dan saksikan, KRL berjalan dalam keadaan pintu terbuka lebar. Jelas sangat berbahaya,

Jangan heran pula karena pada nekat naik ke atap, kejadian jatuh dari atap, kegencet pantograf atau kesetrum LAA sering terjadi. Terutama di jalur-jalur padat kaya Jakarta-Bogor. Yang nggak ke atap aja suka ada yang celaka, entah itu jatuh atau kejepit peron.

Segala upaya terus dilakukan PT. KAI untuk meminimalisir jatuhnya korban, terutama atapers, mulai dari semprotan air, cat semprot permanen, bandul beton, sampe yang paling heboh itu pintu koboi. Ternyata semua nggak begitu efektif, karena atapers baru benar-benar hilang di 2014 atau saat KRL Ekonomi Jabodetabek dihapus dari Gapeka.

Sejuta Kenangan Menyertai

Walapun dari segi keselamatan atau kenyamanan benar-benar dibawah standard, ternyata banyak kenangan manis tersimpan di atas KRL Ekonomi Jabodetabek, yang armadanya sekarang udah pensiun dan dimonumenkan di Stasiun Purwakarta dan Stasiun Cikaum.

Terutama buat yang menjadikan KRL Ekonomi Jabodetabek sebagai kendaraan sehari-hari, mulai kerja, kuliah sampe sekolah. Nah termasuk admin nih yang pernah begitu ngandalin ini KRL Ekonomi Jabodetabek di tahun 2002-2006, waktu lagi kuliah di Program Diploma III Akuntansi FEUI Depok.

Ngomong-ngomong yang mana nih min yang paling membekas? Terlalu banyak, tapi saya kasih beberapa aja ya ke kamu, terutama yang paling memorable atau tak bisa dilupakan:

  1. Duduk Lesehan di dekat Bordes, eit harusnya jangan dicontoh ya, bahaya, meski nggak sebahaya naik diatap atau gelantungan di bordes. Ini yang nggak bisa dilakuin di KRL Commuter Line sekarang. Coba aja sekali kamu lesehan kalo nggak diomelin sama petugas PKD.
  2. Pedagang Asongan. Nggak jarang lho admin jajan di atas kereta. Mulai sekedar air minum buat ngobatin haus, sampe makanan kecil, paling berkesan ya tahu sumedang.
  3. Sepeda sampe Ayam. Ini juga sama, nggak sedikit lho yang ngangkut sepedanya masuk kereta, dan sekarang jangan harap karena yang diizinin cuma sepeda lipat doang. Pernah ada juga yang bawa ayam, ditaruh di ujung gerbong sih dekat kabin masinis.
  4. Kereta mogok. Nah ini yang paling ngeselin, apalagi kalo dikejar waktu, mau kuliah misalnya. Mending kalo dosennya baik, nah gimana kalo dosennya killer dan nggak mau tau? Lebih-lebih pas ujian. Tapi itu dulu, KRL Commuter Line jarang ngalamin masalah ini. Paling ketahan aja pas mau masuk Manggarai.

Nah, itulah sedikit pengalaman admin bersama KRL Ekonomi Jabodetabek. Sejelek dan sebobrok apapun itu tetap aja ada kenangan yang susah dilupain. Mungkin kamu yang belum pernah ngerasain dan baru ngerasain eranya KRL Commuter Line sekarang, inilah gambaran singkat transportasi KRL di masa lalu.

Yah, kamu kan taunya itu KRL jadul sekarang udah “dimonumenkan” di Stasiun Purwakarta. Kalo naik Kereta Api Argo Parahyangan dan Kereta Api Serayu pasti lewat situ dan bakal liat para pendahulu KRL Commuter Line. Selain itu, bekas KRL Ekonomi Jabodetabek juga ada yang ditaruh di Stasiun Cikaum, Kabupaten Subang, masuk Daop 3 Cirebon.

Note: Sengaja tulisan ini ditaruh di “Yuk Belajar Sejarah” bukan Admin Talk karena sejarah KRL sekalian di bahas. InSyaaAlloh masih lanjut lagi dan tulisan ini sebenarnya masih garis besarnya doang, karena bakal ada versi Bukunya (Buku Cetak dan E-Book yang bisa kamu beli) lebih lengkap dan detail

 

Advertisements

One thought on “Sejuta Kenangan di KRL Ekonomi Jabodetabek

  1. […] lanjutin postingan sebelumnya “Sejuta kenangan di KRL Ekonomi Jabodetabek” kali ini kang mimin bakal ngebahas salah satu armadanya yakni “Si Kaleng” […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.