Sejarah Prabu Siliwangi dan Kereta Api Bandung

Prabu Siliwangi dan Kereta Api Bandung

Sejarah Prabu Siliwangi ternyata punya pengaruh terhadap penamaan sejumlah rangkaian kereta api di Bandung. Selain Kereta Api Lodaya, Kereta Api Malabar juga ada kaitannya. Bahkan punya saudara di jalur legendaris.

Sadar atau nggak, setelah kita telusuri nama-nama Kereta Api Bandung yang dinas di lingkungan Daop 2 Bandung ternyata masih berhubungan sama sejarah Tatar Sunda.

Terutama Sejarah Prabu Siliwangi, disebut-sebut sebagai Raja Pajajaran terakhir. Entah berhubungan langsung sama tokoh tersebut atau ada kaitan, misalnya tempat-tempat tertentu yang menurut catatan sejarah ada jejak Prabu Siliwangi.

Kereta Api Lodaya dan Prabu Siliwangi

Seperti kita tau, nama Kereta Api Lodaya diambil dari sosok Prabu Siliwangi itu sendiri yang telah berubah jadi macan putih atau macan Lodaya. Mulai dipake tanggal 2 Mei 2000 bersamaan perpanjangan rute ke Solo Balapan (SLO).

Nama Lodaya bisa juga berarti Solo-Bandung Raya. Meski demikian aspek historis tetap dipake dan nggak bisa dilupain begitu aja. Kereta Api Lodaya termasuk unik. Namanya boleh Nyunda Pisan, tapi justru dioperasikan Daop 6 Yogyakarta.

Memang sih sebelumnya beroperasi dibawah Daop 2 Bandung. Tapi akhirnya dimutasi ke Daop 6 Yogyakarta guna membantu meningkatkan pendapatan dari KAJJ di sana. Kebetulan juga nggak sekencang di Daop 2 yang menang banyak dari Gopar.

Kebetulan atau gimana, mutasi ini berjarak beberapa bulan setelah “rekonsiliasi sejarah” yang mentapkan adanya Jalan Siliwangi dan Jalan Pajajaran di Jogjakarta, Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Majapahit di Bandung.

Selain Kereta Api Lodaya, sosok Prabu Siliwangi juga melekat di Kereta Api Siliwangi, kereta api lokal perintis rute Cianjur (CJ)-Sukabumi (SI). Malah boleh dibilang Kereta Api Lodaya sama Kereta Api Siliwangi sejatinya kakak beradik karena berasal dari satu sosok yang sama, Prabu Siliwangi.

Kereta Api Malabar

Ternyata sosok Prabu Siliwangi juga ada di Kereta Api Malabar. Setelah ditelusuri dari literatur sejarah, Gunung Malabar yang dijadiin dasar penamaan kereta api rute Bandung-Malang ini diyakini sebagai tempat lahir Prabu Siliwangi.

Kereta Api Malabar juga punya hubungan sama Sejarah Prabu Siliwangi
Kereta Api Malabar melintas langsung Stasiun Cimekar (CMK). Kereta ini juga punya hubungan sama sejarah Prabu Siliwangi.

Gunung Malabar ada di Bandung Selatan, termasuk bagian dari gugusan pegunungan Malabar. Selain Gunung Malabar disitu juga ada Gunung Puntang, Gunung Haruman dan Gunung Puncak Besar.

Gunung Puntang disebut-sebut sebagai tempat pegangan Prabu Siliwangi. sementara Gunung Haruman namanya dikasih langsung sama Prabu Siliwangi karena pengen tempat ini terus harum.

Nah, jajaran pegunungan Malabar ini ternyata identik sama sosok Sri Baduga Maharaja. Makanya boleh dibilang Kereta Api Malabar, yang namanya diambil dari situ, sulit dipisahin dari sosok Prabu Siliwangi.

Kereta Api Malabar ini jadi rangkaian kereta api jarak jauh dengan rute terpanjang di Daop 2 Bandung, dan sesekali bisa dijadiin backup kalo kamu kehabisan tiket kereta api Lodaya. Selain diambil dari Pegunungan Malabar, nama Kereta Api Malabar bisa berarti Malang Bandung Raya.

Tiga Bersaudara: Lodaya, Siliwangi, Kiansantang. Satu Rahim Beda Daop.

Kereta Api Lodaya, Kereta Api Siliwangi, dan Kereta Api Kiansantang punya keretikatan dari sisi nama, dimana ketiganya juga berkaitan sama Sejarah Tatar Sunda, khususnya Kerajaan Pajajaran.

Dua nama pertama, Lodaya dan Siliwangi sejatinya berasal dari sosok yang sama yakni Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi, adapun Kiansantang ialah putra Prabu Siliwangi,

Ditelusuri dari sejarahnya, ketika Islam mulai masuk di Bumi Nusantara dan Raden Kiansantang telah memeluk agama Islam, ia berusaha meyakinkan bapaknya, Prabu Siliwangi, agar ikut masuk Islam. Usaha itu gagal, karena Prabu Siliwangi menolak.

Singkat cerita, kerajaannya berubah menjadi hutan, Prabu Siliwangi dan pengikut setianya berubah jadi macan dan menghilang di hutan, yang belakangan diketahui sebagai Leuweung Sancang, Garut.Prabu Siliwangi berubah jadi macan putih, atau dikenal dengan Macan Lodaya.

Sementara pengikutnya berubah jadi macan loreng. Nama Kereta Api Lodaya sendiri mulai dipake tanggal 2 Mei 2000 bersamaan perpanjangan rute dari semula Bandung-Jogja jadi Bandung-Solo Balapan. Nama “Lodaya” juga disebut-sebut singkatan dari Solo Bandung Raya.

Beda sama Kereta Api Lodaya yang dari awal melayani rute jarak jauh, penghubung Priangan dan Bumi Mataram, Kereta Api Siliwangi ialah Kereta Api Lokal yang melayani rute Cianjur (CJ)-Sukabumi (SI).

Mulai dinas 8 Februrai 2014, waktu itu Kereta Api Siliwangi satu rangkaian sama Kereta Api Pangrango, rute Cianjur (CJ)-Sukabumi (SI)-Bogor Paledang (PLG). Jadi dari Bogor ke Cianjur namanya Pangrango, begitu balik kanan dari Cianjur ke Bogor ganti nama jadi Siliwangi.

Sayang karena okupasinya nggak terlalu bagus, Kereta Api Siliwangi dirubah jadi kereta api lokal perintis di rute Cianjur (CJ)-Sukabumi (SI), layanan kelas full ekonomi (K3) dan tarif cuma Rp 3.000,00.

Meski wilayah operasionalnya sebagian besar ada di Daop 2 Bandung, Kereta Api Siliwangi didinasin dibawah Daop 1 Jakarta. Begitu pula kereta yang dipake. Jadi mirip sama Kereta Api Walahar Ekspres (Purwakarta-Tanjung Priok).

Sebenarnya setelah 2 kereta api launching buat ngisi koridor Priangan Selatan di jalur Padalarang-Manggarai, Kereta Api Pangrango dan Kereta Api Siliwangi, PT.KAI udah punya rencana dinasin Kereta Api Kiansantang untuk rute Bandung-Cianjur.

malah rangkaiannya udah sempat uji coba jalur Bandung-Cianjur, manfaatin idle Kereta Api Kahuripan. Sayang karena sarana dan prasarana belum siap ditambah ada longsor di salah satu blok, Kereta Api Kiansantang batal dinas, bahkan hingga kini belum ada kejelasan.

Padahal pelanggan yang sangat merindukan adanya kereta api Bandung-Cianjur atau ingin coba sensasi baru Kereta Api Bandung-Jakarta via Priangan Selatan.

Cuma kabar baiknya, operasional Kereta Api Siliwangi diperpanjang sampe Stasiun Ciranjang (CRJ). Karena jalurnya udah siap dan nggak terlalu banyak kendala. Cuma belum bisa bablas aja sampe ke Bandung. Lagi-lagi karena ada kendala di Cipatat (CPT).

Jalur ekstrem dan rawan longsor karena perbukitan di sekitaran Cipatat didominasi Kapur. Jadi mau nggak mau harus dilakukan pengerasan. Jelas itu butuh waktu nggak sebentar. Bahkan di sebagian trase bakal bikin jalur baru.

Karena itu lagi-lagi mesti bersabar menanti semuanya selesai. Malah bisa jadi jalur Cibatu-Garut duluan yang aktif. Perkembangan terakhir pemasangan rel udah sampe Pasir Jengkol.

Kesimpulan:
Kereta Api Lodaya, Kereta Api Siliwangi, Kereta Api Kiansantang (bila nantinya jadi beroperasi) berasal dari satu sosok yakni Prabu Siliwangi. Meski demikian dua nama terdepan nggak dinas dibawah Daop 2 Bandung. Masing-masing punya Daop 6 Yogyakarta dan Daop 1 Jakarta.


Referensi: 

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.