Posted on Leave a comment

Sejarah Jalur Kereta Api Jakarta Bandung (2): Sarat Kepentingan Ekonomi

Kepentingan (motif) ekonomi ternayata jadi latar belakang dibalik pembangunan jalur kereta api Batavia-Priangan di abad ke-19. Meski udah ada Jalan Raya Posweg, ternyata itu belum cukup buat membuka keterisolasian daerah Priangan, maka dibangunlah jalur kereta api menuju desa terpencil yang subur itu. Sejarah jalur kereta api Jakarta Bandung dimulai dari sini. 

Berangkat dari kepentingan ekonomi Pemerintah Kolonial Belanda, melihat adanya potensi bagus di Priangan yang terletak di daerah pedalaman. Meski terpencil, daerah ini punya tanah yang subur, inilah yang jadi potensi ekonomi dan pengen digarap sama pemerintah kolonial.

Priangan merupakan sentra penanaman kopi, yang ditanam sama penduduk setempat pake sistem kerja wajib (Heerendiensten) yang disebut Priangan Stelsel. Di masa Tanam Paksa, Priangan jadi salah satu tempat buat penanaman tanaman perkebunan.

Perkembangan perkebunan di Priangan makin cepat saat diberlakukan Undang-Undang Agraria (UU Agraria) tahun 1870, menandai Liberalisasi Ekonomi yang jadi pintu masuk pengusaha swasta perkebunan di Hindia Belanda. Secara daerah Priangan juga punya lahan perkebunan terluas di Hindia Belanda.

Kondisi alam (geografis) Priangan sebagian besar merupakan perkebunan. Kondisi kaya gini jelas nggak gampang buat angkut hasil-hasil perkebunan, dari pabrik ke pelabuhan ataupun sebaliknya. Sebelum jalur kereta api dibangun, pengangkutan hasil bumi dari kebun ke tempat penimbunan dengan cara dipikul orang di atas kepala. Cara kaya gini jelas sangat nggak ekonomis.

Pasalnya kemampuan orang pikul hasil kebun itu maksimum cuma seberat 60 pon. Sementara itu kopi yang jadi komoditas utama di Priangan dibawa ke Batavia lewat Sungai Citarum. Untuk nyampe ke tempat penimbunan di tepi sungai, kopi diangkut lewat jalan darat pake pedati.

Salah satu tempat penimpunan terpenting di tepi Sungai Citarum, atau boleh dibilang pelabuhan-nya, ialah Cikao (sekarang Kecamatan Jatiluhur dan disini juga udah ada Taman Cikao yang jadi tempat wisata edukasi). Kopi dari Bandung diangkut ke Cikao, dari Cikao baru ke Batavia lewat Karawang dan Tanjungpura.

Jalan Raya Pos “Daendels” 

Di zaman Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), dibangun jalan raya yang menghubungkan Anyer (Banten) ke Panarukan (Jawa Timur). Jalan raya yang dikenal dengan nama Jalan Raya Pos Daendels ini mulai dibangun tahun 1808 dan selesai tahun 1810, ujung barat-nya di Anyer dan berakhir di Panarukan.

jalan-raya-pos-daendels-parapatan-lima-bandung

Untuk ruas Priangan sendiri, dipilih jalur Buitenzorg (Bogor)-Cirebon yang mulai dikerjain awal Mei 1808. Trase-trasenya antara lain

  1. Cisarua-Cianjur,
  2. Cianjur-Rajamandala,
  3. Rajamanadala-Bandung,
  4. Bandung-Parakanmuncang,
  5. Parakanmuncang-Sumedang, dan
  6. Sumedang-Karangsembung

Setelah jalan raya Pos Daendels kelar bukan berarti kelar masalah keterisolasian Prianga, termasuk Bandung. Pasalnya pengangkutan hasil bumi dari Priangan ke Batavia masih makan waktu sekitar 3 hari. Pengangkutan sebelum dibangun jalur kereta api jelas punya risiko tinggi.

Untuk jalur kereta api sendiri sebenarnya udah ada yakni di jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (Bogor) yang selesai tahun 1873. Pemerintah Kolonial sendiri pengen bikin jalur kereta api Buitenzorg-Bandung-Cicalengka, tujuannya membuka hubungan lalu lintas langsung antara Priangan ke Batavia. Sayang keinginan itu terhambat karena jalur kereta api Batavia-Buitenzorg punya swasta, NISM (Nederland Indische Stroomtram Maatschaapij).

Penumpang dari Priangan yang mau ke Batavia nggak bisa langsung dan harus ganti kereta di Buitenzorg, dari kereta SS ke kereta punya NIS. Ritual yang hampir mirip kaya sekarang penumpang dari Sukabumi nggak bisa langsung pindah ke KRL tapi turun dulu di Stasiun Bogor Paledang, jalan kaki ke Stasiun Bogor baru naik dari sana.

Jadi disinilah Sejarah Jalur Kereta Api Jakarta Bandung dimulai. Dilatarbelakangi motif ekonomi cuma buat mewujudkan itu semua ternyata harus lewat jalan terjal berliku. Misalnya harus mengkaji beberapa alternatif jalur/trase yang nantinya dibikin buat jalur kereta api Batavia-Priangan (jalur kereta api Jakarta-Bandung), sampe usaha pengambilalihan jalur Batavia-Buitenzorg.

(inSyaaAlloh bakal lanjut lagi).


REFERENSI

Ini Alasan Kenapa Jalan Daendels Berakhir di Panarukan. HIstoria.Id. https://historia.id/kuno/articles/ini-alasan-kenapa-jalan-daendels-berakhir-di-panarukan-PGjG7

Katam, Sudarsono. 2014. Kereta Api Di Priangan Tempo Doeloe. Bandung: Pustaka Jaya.

Mulyana, Agus. 2017. Sejarah Kereta Api Di Priangan. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Mengenal Wisata Edukasi Taman Cikao Purwakarta. Liputan 6. https://www.liputan6.com/news/read/3144904/mengenal-wisata-edukasi-taman-cikao-purwakarta

Sepuluh Fakta di Balik Pembangunan Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan. Historia.Id. https://historia.id/kuno/articles/sepuluh-fakta-di-balik-pembangunan-jalan-daendels-dari-anyer-ke-panarukan-6ae2W

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.