Advertisements
Home > Blog > Kereta Api Indonesia > Seberapa Strategis kah Stasiun Buaran Saat Ini?

Seberapa Strategis kah Stasiun Buaran Saat Ini?

Stasiun Buaran (BUA) bakal nempatin bangunan baru yang posisinya bergeser 200 meter arah Jatinegara (JNG). Di posisi baru itu justru strategis banget karena pas di perempatan, dekat mall dan halte Transjakarta. Lantas gimana dengan posisi saat ini? 

Posisi Stasiun Buaran (BUA) saat ini lebih dekat ke pemukiman penduduk ketimbang sentra ekonomi kaya pasar atau mall. Jarak stasiun sama Pasar Klender aja masih lumayan jauh, jangankan ke pasar, nyampe belokan arah Pasar Klender aja masih sekitar 200-250 meter. Dimana terdapat juga Halte Transjakarta Perumnas Klender.

Sementara kalo ditarik garis ke arah perempatan Buaran yang sangat strategis masih sekitar 200 meter sebelah barat bangunan Stasiun Buaran (BUA) eksisting. Jadi kesimpulannya posisi stasiun yang sekarang bener-bener nanggung dan susah dijadiin TOD (Transit Oriented Development), susah juga terintegrasi sama Transjakarta karena ada di antara 2 halte: Halte Buaran dan Halte Perumnas Klender.

 photo 04 SEBERAPA STRATEGIS KAH STASIUN BUARAN 1-2_zpswybe35se.jpg

Proyek DDT Geser Posisi Stasiun.

Tahun 2013 proyek DDT Manggarai-Cikarang dimulai. Proyek DDT (Double-Double Track) atau jalur dwiganda (4 jalur) tujuannya buat pisahin jalur KRL Commuter Line dan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ), karena KRL Commuter Line sering terpaksa ngalah sama KAJJ dan akibatnya dikeluhin sama penggunanya. Selain itu proyek DDT juga buat pangkas headway antar KRL Commuter Line.

Perkiraan proyek DDT Manggarai-Cikarang beres tahun 2020. Dampak dari proyek ini stasiun-stasiun di blue line yang melayani perjalanan KRL Commuter Line harus didesign ulang. Mengingat stasiun-stasiun yang rata-rata dibangun tahun 1990-an itu cuma mendukung double track atau dua jalur. Salah satunya Stasiun Buaran (BUA).

Akibat proyek DDT Manggarai-CIkarang, Stasiun Buaran harus didesign ulang supaya bisa memenuhi standard yang udah ditentuin. Cuma sayang karena posisi Stasiun Buaran (BUA) saat ini yang dinilai kurang strategis dan kurang mendukung integrasi antarmoda (Transit Oriented Development/TOD), mau nggak mau posisi stasiun harus digeser 200m ke arah barat, di perempatan Buaran.

Nah posisi tersebut jauh lebih strategis dibanding posisi sekarang. Tepat di perempatan yang disitu ada Buaran Plaza sebagai sentra ekonomi, ditambah lagi halte Transjakarta Buaran yang jelas mendukung integrasi antar moda. Terus juga buat mengakomodasi pekerja di Kawasan Industri Pulogadung, karena posisi Stasiun Buaran (BUA) yang baru lebih dekat ke sana.

Selama ini pekerja-pekerja di Kawasan Industri Pulogadung ngandalin Stasiun Klender (KLD) yang jadi akses paling gampang ke sana, meski bukan yang terdekat juga. Stasiun Klender (KLD) sendiri juga lagi dalam tahap renovasi total buat dukung DDT Manggarai-Cikarang.

Jadi keputusan menggeser posisi Stasiun Buaran (BUA) dari lokasi sekarang ke lokasi baru yang lebih strategis udah tepat banget. Semua juga bakal mendukung perpindahan ini. Cuma memang kita nggak bisa menyangkal di lokasi saat ini banyak meninggalkan sejumlah kisah. Kamu sendiri pastinya pernah punya kenangan atau story apa gitu di Stasiun Buaran (BUA) sekarang.

Misalnya ketemu sama seseorang yang sangat spesial, pernah keciduk PKD, bermasalah sama THB, atau apalah pokoknya memorable dan sulit untuk dilupain begitu aja. Tapi cerita kurang enak pastinya juga tetap menghiasi stasiun yang bangunannya mirip sama almarhum Stasiun Rawabebebek (RWB) ini, misalnya pernah ada yang tertemper kereta api sampe tewas di tempat. Kejadian ini nggak cuma sekali dua kali, boleh dibilang sering.

Karena kondisi fisik Stasiun Buaran (BUA) sebagai stasiun kelas 3 atau stasiun kecil yang juga jadi akses warga kampung seberang yang mau ke kawasan Perumnas dan sebaliknya. Kalo dari pintu depan memang udah dijaga PKD jadi lebih aman, tapi yang lewat jalan lain kaya bekas pintu barat yang sekarang udah ditutup disitu memang rawan. Apalagi KAJJ yang melintas nyaris selalu melaju dengan kecepatan normal sekitar 40 km/jam.

Stasiun Buaran (BUA) baru lebih Bagus

Jadi kesimpulannya, pindahnya Stasiun Buaran (BUA) ke perempatan Buaran atau 200 meter sebelah barat stasiun sekarang udah benar banget. Lokasi baru jauh lebih bagus dibanding lokasi yang lama. Jauh lebih strategis dan tentunya jauh lebih aman. Pintu masuknya naik ke atas dulu percis kaya stasiun-stasiun di jalur kulon. Jadi buat yang sekedar nyeberang pun InsyaaAlloh aman dibanding tempat lama.

Apalagi kalo nantinya proyek DDT Manggarai Cikarang kelar, bakal lebih banyak lagi kereta yang melintas langsung. Disamping headway KRL Commuter Line yang juga bakal lebih cepat. Supaya lebih aman model-model perlintasan sebidang kaya di stasiun lama harus dihilangkan. Demi keamanan penyeberang dan perjalanan kereta api juga.

 photo 05 SEBERAPA STRATEGIS KAH STASIUN BUARAN 2-2_zpsofyltg5f.jpg

Advertisements

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: