Posted on

Sayonara Kereta Api Patas Bandung Raya

Karena okupasinya minim, cuma 400-an penumpang per hari, PT.KAI Daop 2 Bandung akhirnya membatalkan semua perjalanan Kereta Api Patas Bandung Raya mulai 1 November 2018. Sebagai gantinya, penumpang Patas bakal diakomodasi sama Kereta Api LODAYA (Lokal Bandung Raya). 

Kereta Api Patas Bandung Raya sejatinya bukan barang baru. Di tahun 1990-an pernah ada menggunakan rangkaian KRD Shinko/MCW 302 buatan Nippon Sharyo Jepang. KRD ini tetap didinasin sebagai Patas meski Kereta Api Lokal Bandung Raya ganti rangkaian jadi kereta biasa, sebagia keretanya juga modifikasi dari KRD, yakni KRD Shinko/MCW 301 tahun 1976.

Masa dinas KRD Patas Bandung Raya lama berlangsung sampai pertengahan tahun 2014 dan mulai berhenti dinas waktu PT.KAI Daop 2 Bandung memberlakukan single operation Kereta Api Lokal Bandung Raya yang meniadakan perjalanan Kereta Api Patas Bandung Raya (AC) dan KRD Patas Bandung Raya (Non-AC). Rangkaian Patas AC langsung dialokasi ke Lokal adapun KRD langsung dikandangin di DIpo Lokomotif Bandung.

 

Dibuka Lagi 5 Mei 2016

PT. KAI Daop 2 Bandung buka lagi Kereta Api Patas Bandung Raya 5 Mei 2016 karena banyaknya permintaan dari pengguna yang pengen ada kereta lokal cepat dan murah. Bedanya kereta api Lokal Bandung Raya baru sama yang lama dari trainsetnya. Kalo dulu pake KRD, sekarang pake kereta biasa manfaatkan idle Kereta Api Kahuripan.

Namun sayang sejak dibuka lagi di tanggal itu okupasi Kereta Api Patas Bandung Raya terbilang jauh dari memuaskan. Harga tiketnya sendiri semula Rp 10.000,00 kemudian turun jadi Rp 8.000,00 atau setara harga tiket Kereta Api Lokal Cibatuan. Penurunan harga ternyata nggak banyak ngefek. Okupasi harian tetap aja jauh dari memuaskan. Meski keunggulannya lebih cepat daripada lokal karena cuma berhenti di beberapa stasiun.

Okupasi Kereta Api Patas Bandung Raya mentok di kisaran 400 penumpang per hari. Ini jelas sangat jauh dari batas minimum okupasi sebuah rangkaian kereta api yakni 60% dari kapasitas per kereta. Kalo dihitung-hitung 400 penumpang per hari dimana Kereta Api Patas Bandung Raya setiap harinya ada 3 trip: Kiaracondong-Cicalengka, Cicalengka-Padalarang, Padalarang-Kiaracondong, berarti sekali jalan cuma angkut kurang dari 35 penumpang.

Nah, kalo 35 penumpang itu dibagi 6 kereta, berarti satu kereta cuma diisi sekitar 5-6 orang saja! Ini jelas-jelas sangat merugi. Nyatanya memang demikian, jangan heran kalo ada 1-3 kereta yang kosong melompong nggak ada penumpangnya.

Jadwal Kurang Bersahabat

Kenapa Kereta Api Patas Bandung Raya sepi peminat? Bukannya kalo lebih cepat daripada Lokal tetap ada peminat karena banyak yang pengen cepat sampai tujuan? Harusnya iya, mereka yang butuh waktu cepat kadang nggak mikir soal besaran tarif. Awalnya harga tiket Kereta Api Patas Bandung Raya dipatok Rp 10.000,00 tapi belakangan turun jadi Rp 8.000,00. Bisa jadi buat tarik peminat tapi nyatanya tetap aja sepi.

Sepinya penumpang Kereta Api Patas Bandung Raya nggak lepas dari faktor jadwal perjalanan yang kurang bersahabat. Bayangin aja, jadwal berangkat dari Stasiun Kiaracondong (KAC) ke Cicalengka (CCL) jam 04.40 WIB. Terus balik lagi dari Cicalengka jam 06.00 WIB menuju Padalarang, dan balik lagi dari Padalarang (PDL) jam 09.00 WIB tiba di Kiaracondong (KAC) jam 09.52 WIB.

Adapun jadwal khusus Sabtu-Minggu, berangkat dari Stasiun Kiaracondong (KAC) ke Stasiun Cicalengka 09.55 WIB. Dari Cicalengka ke Padalarang berangkat jam 11.35 WIB dan berangkat lagi dari Padalarang (PDL) jam 11.35 WIB nyampe di Kiaracondong (KAC) jam 14.35 WIB.

Diliat sekilas jadwalnya memang rancu. Coba aja siapa yang mau naik pagi-pagi buta ke Cicalengka? Terus udah gitu udahan aja jam 09.52 WIB di Kiaracondong. Begitu juga weekend Kereta Api Patas Bandung Raya cuma ada sekali dengan pola perjalanan yang sama, meski dari segi jadwal lebih bersabahat.

Berhenti di Stasiun Gedebage (GDB).

Inilah ritual nggak biasa buat kereta api lokal ekspres (rapid) sekelas Kereta Api Patas Bandung Raya, berhenti di Stasiun Gedebage (GDB). Stasiun tersebut kini tak lagi melayani penumpang dan hanya fokus angkutan barang. Kereta penumpang yang berhenti di sini sebatas disilang atau disusul aja, atau paling juga BLB (Berhenti Luar Biasa).

Ternyata kereta api Patas Bandung Raya berhenti di Stasiun Gedebage (GDB) dalam rangka disilang sama Kereta Api Lokal Bandung Raya! Ini kaya nggak lazim, masa iya kereta patas yang kelasnya lebih tinggi ngalah sama lokalan biasa? Harusnya Kereta Api Lokal Bandung Raya yang ngasih jalan buat Kereta Api Patas Bandung Raya. Tapi ini malah kebalik.

Faktor ini juga yang boleh jadi sebab rendahnya okupasi Kereta Api Patas Bandung Raya. Meski bablas di Stasiun Haurpugur, Cimekar, Cimindi dan Gadobangkong, ritual “ngalah sama Lokal” ini seharusnya nggak terjadi. Bahkan di Keerta Api Patas Bandung Raya yang dulu, ritual macam ini nggak pernah ada.

Pinjam Kereta Api Kahuripan

Boleh jadi inilah penyebab utama Kereta Api Patas Bandung Raya sepi pemiat, rangkaiannya pinjam punya Kereta Api Kahuripan, Kiaracondong-Blitar PP. Karena itulah jadwal perjalanannya harus disesuaikan sama jadwal Kereta Api Kahuripan sehingga nggak bisa dinas sampe lebih dari jam 3 sore. Makanya nggak heran jadwal kereta api Patas Bandung Raya dirasa kurang bersahabat.

Ritual ngalah sama Lokalan di Stasiun Gedebage (GDB) bisa jadi juga karena faktor ini. Padahal ini nggak seharusnya terjadi. Biar gimanapun juga Kereta Api Patas Bandung Raya tetap harus dapat prioritas lebih daripada Kereta Api Lokal Bandung Raya. Kalo memang dari jadwalnya harus ketemu disitu, Lokal harusnya ngalah sebelum lewat blok Gedebage.

Kereta Api Lokal Bandung Raya dari barat menunggu patas di Stasiun Kiaracondong (KAC), sementara yang dari timur bersabar di Stasiun Cimekar (CMK). Atau Lokal yang seharusnya ngalah di Stasiun Gedebage (GDB) bukan sebaliknya.

Jadi inilah faktor utama penyebab Kereta Api Patas Bandung Raya “nggak laku”. Pinjam kereta lain, beda sama yang dulu punya rangkaian sendiri.

Diakomodasi Kereta Api LODAYA (Lokal Bandung Raya).

Terus gimana nasib 400 pelanggan setia Kereta Api Patas Bandung Raya setelah dihapus per 1 November 2018? Mereka tetap akan diakomodasi Kereta Api LODAYA (Lokal Bandung Raya) yang okupasinya jauh lebih besar, 54.252 penumpang per hari.

Memang PT.KAI sekarang lagi jajaki pembelian KRD bekas dari Jepang, boleh jadi buat tampung 400 penumpang itu. Tapi untuk saat ini nampaknya hanya akan memaksimalkan Kereta Api Lokal Bandung Raya dulu. Jadi per 1 November 2018 kembali ke single operation seperti pertengahan 2014.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.