Posted on

Pro Kontra Livery Selendang Pecut

Livery “selendang pecut” atau livery kesepakatan yang sekarang dipake di kereta api Indonesia mengundang pro dan kontra. Satu sisi ada yang nyebut elegan tapi nggak sedikit yang mencibir dan lebih suka sama livery kereta api model lama.


Livery Selendang Pecut pertama kali diperkenalkan waktu relaunching Kereta Api Jayabaya rute Jakarta Pasar Senen – Malang dan sebaliknya. Kereta Api ekonomi AC plus ini jadi yang pertama pake livery tersebut. Sebelum istilah selendang pecut populer, livery ini disebut kesepakatan. Disebut-sebut lebih elegan daripada sebelum-sebelumnya.

Cirebon Ekspress New Image

Setelah Kereta Api Jayabaya edisi baru, kali ini giliran Kereta Api Cirebon Ekspres yang kebagian livery selendang pecut. PT. kereta Api Indonesia kepengen pertahankan okupasi kereta api rute Jakarta Gambir – Cirebon (Kejaksaan) itu, apalagi waktu itu Tol Cipali baru dibuka yang bisa mempersingkat Jakarta Cirebon sampai kurang dari 2 jam.

Kereta Api Cirebon Ekspres yang pake Livery Selendang Pecut disebut Cirebon Ekspres New Image. Bukan cuma eksteriornya aja ternyata interior juga dirombak. Kelas eksekutif pake gerbong retrofit K1 67 yang jeroannya dibuat senyaman mungkin kaya pesawat. Sementara kelas bisnisnya yang waktu itu masih ada malah ditambahin TV LCD.

Jadilah kelas bisnis Cirebon Ekspres ini yang pertama dipasang TV di pulau Jawa dan yang ke-2 di Indonesia setelah Kereta Api Sribilah rute Medan-Rantau Prapat di Divire I Sumatera Utara. Interior Cirebon Ekspres New Livery juga dikasih corak batik khas Cirebon.

Next, Kereta Api Lokal Bandung Raya

Pemasangan livery selendang pecut ternyata nggak selesai sampai disitu. Sekarang giliran Kereta Api Lokal Bandung Raya yang kebagian. Rangkaian gerbong eks KRD MCW 301 yang udah dimodifikasi jadi gerbong konvensional dipasang livery yang diklaim “elegan” itu. Fotonya pun cukup viral di dunia maya. (InSyaaAlloh nanti dibahas di segmen Kereta Api Lokal Bandung Raya)

Semakin Banyak dan Bikin Pro Kontra

Sampai akhirnya di tahun 2016, kira-kira 80% rangkaian gerbong kereta api semuanya udah pake Livery Selendang Pecut, bahkan gerbong ekonomi 106 penumpang yang kursinya masih pake rotan alias “kursi perjuangan” di Kereta Api Pasundan ikut dipasangin Livery Selendang Pecut.

Banyaknya gerbong yang dipakein Livery Selendang Pecut inipun akhirnya bikin pro kontra. Banyak yang mendukung karena nganggap Livery ini lebih elegan daripada sebelumnya dan dianggap lebih matching sama warna lokomotif, terutama di Pulau Jawa yang 99% warna putih.

Tapi disisi lain, nggak sedikit pula yang kontra. Banyak dari mereka komentar agak mencibr Livery Selendang Pecut. Malah livery era PJKA dianggap lebih bagus daripada livery yang punya sebutan lain “kesepakatan”.

Memang nggak salah sih yang kontra. Diakui warna gerbong sama nyaris bikin susah ngebedain mana kelas bisnis, ekonomi dan eksekutif. Kalo livery lama lebih gampang bedainnya. Termasuk di era PJKA jelas banget kelas bisnis (K2) dan sebagian eksekutif (K1) berwarna merah putih, kelas eksekutif (K1) ada juga yang biru putih, dan kelas ekonomi (K3) hijau putih.

Cuma di livery selendang pecut kita masih bisa bedain kok. Perbedaan antara kelas bisnis (K2), kelas eksekutif (K1) dan kelas ekonomi (K3) ada di pintu. Kalo pintunya warna abu-abu itu pasti kelas bisnis (K2), warna biru kelas eksekutif (K1) dan ekonomi (K3) berwarna orange.

Untuk kelas ekonomi (K3) berlaku di ekonomi plus (80 dan 106) dan ekonomi reguler (106). Kecuali gerbong ekonomi plus K3 2012 dan K3 2014 belum semua pake Livery Selendang Pecut karena yang keluaran tahun-tahun tersebut adalah ombak biru. Sampai sekarang ombak biru masih bisa ditemui.

Di tahun 2017, kecuali gerbong ekonomi K3 2012 dan K3 2014 yang ombak biru, semua gerbong dan kelas udah pake Livery Selendang Pecut. Kalopun ada yang nggak pake, itu di K3 2017 Premium. Yang itu memang beda sendiri malah lebih mirip livery merah putih zaman PJKA.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.