Perang Bubat dan Pengaruhnya di Dunia Sepur

Perang Bubat dan Pengaruhnya di Dunia Sepur

Perang Bubat (1357) dianggap sebagai pembantaian orang Sunda oleh Prajurit Kerajaan Majapahit di Lapangan Bubat. Tragedi yang lumayan jadi penghambat hubungan antara Sunda dan Jawa. Pengaruh di sepur juga ada. Alhamdulilah 24 Agustus 2017 hambatan itu lepas lewat rekonsiliasi.

Sejarah masa lalu memang nyaris selalu melekat di dunia perkeretaapian. Termasuk yang terjadi di zaman kerajaan bahkan sunda kuno. Tercatat sejumlah nama kereta api diambil dari situ. Sebut aja Kereta Api Lodaya yang diambil dari sejarah Kerajaan Sunda dan Prabu Siliwangi.

Lodaya adalah sosok maung (macan) putih jelmaan Prabu Siliwangi ketika berhadapan dengan Raden Kian Santang. Nama itu dipake buat rangkaian kereta api jarak jauh (KAJJ) rute Solo Balapan-Bandung PP mulai 20 Mei 2002 menggantikan Fajar Pajajaran dan Senja Mataram.

Namun ada sejarah lain yang perlu kita ketahui dalam kaitannya dengan dunia perkeretaapian di Indonesia, khususnya Tanah Priangan., yakni Perang Bubat (1357). Boleh jadi ini jarang diketahui padahal perang terjadi di zaman Kerajaan Majapahit.

Dampaknya lumayan panjang. Sejak kejadian itu ada semacam hambatan hubungan, khususnya perkawinan, antara Sunda dan Jawa. Malah seringkali Pria Sunda dipersulit meminang Gadis Jawa dengan alasan sejarah tersebut.

Sejarah Kelam Perang Bubat

Semua bermula di tahun 1357 dimana waktu itu adalah masa kejayaan Kerajaan Majapahit yang ingin menyatukan semua wilayah Nusantara. Kebetulan Kerajaan Sunda menolak gabung dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Tapi ternyata Raja Majapahit, Hayam Wuruk, terpikat sama putri Raja Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi. Raja Sunda anggap isi suatu pertanda baik.

Akhirnya Putri Sunda, Dyah Pitaloka, bersama keluarganya —termasuk Raja Sunda– dan pengawalnya berangkat ke Majapahit, tiba di Dermaga Bubat nggak jauh dari Sungai Jetis, di utara Trowulan, ibukota Kerajaan Majapahit. Tujuan tak lain untuk menikahkan Putri Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Gadjah Mada diperintah untuk menjemput rombongan Sang Putri dan Raja Sunda, cuma ada kesalahpahaman karena Gadjah Mada menganggap ini tanda Kerajaan Sunda akan takluk pada Majapahit tanpa peperangan. Selain itu Putri Dyah Pitaloka dianggap bakal cuma dijadiin selir, dan tak boleh dijadiin Permaisuri Majapahit. Keinginan Gadjah Mada inilah yang memicu terjadinya Perang Bubat.

Beberapa sumber sejarah menyebut sebenarnya bukan Gadjah Mada yang memicu Perang Bubat, tapi justru orang tua Hayam wuruk, Krattawardana (penguasa Kahuripan) tak setuju pernikahan dengan putri Sunda, karena Hayam Wuruk udah dijodohin sama Indudewi, anak Rajadewi Mahajarasa yang berkedudukan di Dhaha (Kediri).

Perang ini boleh dibilang sebagai tragedi pembantaian orang Sunda oleh Prajurit Majapahit, karena pertempuran yang tak seimbang. Semua rombongan dari Kerajaan Sunda itu tewas, ermasuk Raja Sunda.

Sementara para wanitanya memilih bunuh diri untuk mempertahankan harga diri dan kehormatan. Putri Sunda, Dyah Pitaloka, termasuk yang memilih bunuh diri setelah melihat bapaknya ikut tewas di Bubat.

Akibat perang tersebut, hubungan Sunda-Majapahit jadi renggang. Malah ada semacam ketentuan orang Sunda dilarang kawin sama Orang Jawa, mitos yang kebawa terus sampe lintas generasi dan masih dipertahankan sebagain orang Meski sekarang ketentuan macam itu pelan-pelan mulai ditinggalkan.

Perang Bubat dan Pengaruhnya di Dunia Sepur

Kereta Api Bandung “Korban” Perang

Perang ini juga berdampak ke kereta api lho, terutama yang beriperasi di wilayah Daop 2 Bandung dan punya nama sunda. Salah satunya Kereta Api Galuh yang akhirnya nyungsep di Jembatan Trowek pada PLH Trowek setelah digabung sama Kereta Api Kahuripan dalam satu rangkaian kereta. Ini juga dianggap ada kaitannya.

Terus rangkaian kereta api yang punya nama sunda jarang bahkan nggak pernah sama sekali bawa kereta punya Dipo Kereta Api selain dari Bandung (BD), apalagi dari Jawa Tengah atau Jogjakarta.

Contoh Kereta Api Lodaya, yang sedari awal bawa kereta punya Dipo Bandung (BD). Begitu juga Kereta Api Malabar yang keretanya berasal dari Dipo Bandung (BD) semuanya.

Kereta Api Galuh (pensiun 2003), Kereta Api Lodaya, dan Kereta Api Malabar memang punya nama “sunda banget”. Bahkan nama Lodaya itu sendiri sejatinya ialah sosok Prabu Siliwangi yang berubah jadi macan putih (Macan Lodaya) dan menghilang di hutan Sancang Garut bersama para pengikutnya. Prabu Siliwangi merupakan raja terakhir dari Kerajaan Pajajaran.

“Rekonsiliasi Sejarah” 24 Agustus 2017

Tanggal 24 Agustus 2017 jadi tonggak sejarah baru hubungan Sunda-Jawa. Untuk pertama kalinya nama Siliwangi dan Padjadjaran dipake buat nama jalan di Jogja. Jalan Siliwangi di Ring Road Barat dan Jalan Padjadjaran di Ring Road Utara.

Kedua nama diresmiin langsung sama Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gubernur DIY. Nggak lama setelahnya giliran Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk nongol di Bandung.

Beberapa bulan kemudian, akhir tahun 2017, giliran Kereta Api Lodaya sendiri yang kebagian berkah positif rekonsiliasi sejarah ini. Rangkaian kereta regulernya mutasi ke Dipo Solo Balapan (SLO), bahkan dapat limpahan Kereta Api Eksekutif ex-Gajayana K1 09, terbaik kedua di Indonesia.

Memang sih mutasi nggak ada kaitannya sama rekonsiliasi, bisa jadi lebih ke alasan teknis karena Dipo Kereta Api Bandung udah penuh banget. Apalagi jalur Bandung-Jakarta sekarang jadi gemuk lagi akibat jalan tol yang sering macet.

Cuma momennya pas banget setelah ada rekonsiliasi sejarah yang menghadirkan Jalan Siliwangi dan Jalan Padjadjaran di Jogja, ditambah Majapahit dan Hayam Wuruk.

Kini Kereta Api Lodaya udah sepenuhnya dibawah operator Daop 6 Yogyakarta. Nggak ada masalah kan? Walaupun namanya sunda pisan dan erat sekali dengan sejarah Sunda Kuno.

Referensi:

Ambisi Gajah Mada di Perang Bubat. Historia.Id. https://historia.id/kuno/articles/ambisi-gajah-mada-di-perang-bubat-PyRO9

Antropolog: Dampak Perang Bubat Diwariskan Lintas Generasi. Detik.Com. https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3670213/antropolog-dampak-perang-bubat-diwariskan-lintas-generasi

Cerita Tutur Perang Bubat. Historia.Id. 
https://historia.id/kuno/articles/cerita-tutur-perang-bubat-Pzj4M

Drama Bubat dan Panas-Dingin Hubungan Majapahit-Sunda. Historia.Id. https://historia.id/kuno/articles/drama-bubat-dan-panas-dingin-hubungan-majapahit-sunda-DnE7B

Jalan Majapahit di Bandung, Hapus ‘Luka Lama’ Perang Bubat. Liputan 6. 
https://www.liputan6.com/regional/read/3510700/jalan-majapahit-di-bandung-hapus-luka-lama-perang-bubat

Perang Bubat: Kisah Cinta yang Berakhir Tragis. Sejarahri.Com. http://sejarahri.com/perang-bubat-kisah-cinta-yang-berakhir-tragis/

Perang Bubat dalam Memori Orang Sunda. Historia.Id. https://historia.id/kuno/articles/perang-bubat-dalam-memori-orang-sunda-vJdVM

Sejarah Tak Selesai dan Jalan Padjajaran-Siliwangi di Yogya. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171003215236-20-245937/sejarah-tak-selesai-dan-jalan-padjajaran-siliwangi-di-yogya

Tragedi Perang Bubat dan Batalnya Pernikahan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka. Historia.Id. https://historia.id/kuno/articles/tragedi-perang-bubat-dan-batalnya-pernikahan-hayam-wuruk-dyah-pitaloka-vZ5yx

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.