Penomoran Gerbong KA di Indonesia (1): KRL Commuter Line

Masih banyak yang belum tau tentang penomoran gerbong KA di Indonesia karena kebanyakan memang cuma end user. Pokoknya asal sampe aja ke tujuan tanpa peduli soal kaya gini. Padahal aslinya punya makna.

Suka jalan-jalan naik kereta api? Pasti dong nggak asing lagi sama nomor-nomor yang ada di gerbong, misalnya K1 XXXXX, K2 XXXXX atau K3 XXXXX dan semisalnya. Kebanyakan kamu sih nggak begitu peduli soal ini, karena paling penting ya nyampe di tujuan dengan selamat. Soal nomor kaya gini mungkin cuma urusan teknis orang-orang kereta api.

Penomoran Gerbong KA Punya Makna

Pastinya nomor yang ada di rangkaian gerbong, biasanya di bagian bawah nggak jauh dari bogie, itu punya makna. Bukan cuma kelas keretanya: apakah itu kelas 1 (eksekutif), kelas 2 (bisnis) atau kelas 3 (ekonomi), tapi juga tahun pembuatan gerbong, pake penggerak atau nggak, dan kepemilikan dipo.

Oke biar lebih jelasnya langsung aja ya kita ambil contohnya, baik yang pake penggerak atau tanpa penggerak. InSyaaAlloh postingan tentang penomoran Gerbong KA di Indonesia bakal dibagi 2 yakni KRL Commuter Line dan Kereta Api Biasa, untuk kali ini kita bahas dulu yang KRL Commuter Line.

A. KRL JR 205 

Boleh dibilang saat ini rangkaian KRL JR 205 yang paling dominan di Jabodetabek, seolah mengingatkan kita sama kiprah KRL Rheostatik di masa lalu, baik mild steel atau stainless steel, yang begitu dominan dan bisa dinas dalam waktu hampir 37 tahun lamanya.

Walaupun di zamannya masih ada KRL Holec dan KRL Hitachi, tapi persebaran KRL Rheostatik nyaris merata di setiap jalur. Sama kaya KRL JR 205 sekarang, di setiap jalur KRL Commuter Line pasti ada dan kita bakal ketemu.

penomoran-gerbong-ka-jr-205

Oke, kali ini kita nggak akan panjang lebar soal JR 205 tapi lebih ke penomoran rangkaiannya. Kita ambil salah satu rangkaian JR 205 yang dinas di Red Line atau jalur Jakarta Kota (JAKK)-Bogor (BOO). Gerbong KRL ini bernomor K1 1 89 110 BUD apa artinya? Ini dia:

  • K1 = kelas 1
  • 1 = rangkaian gerbong ini berpenggerak (KRL/Electric Multiple Unit)
  • 89 = dibuat tahun 1989
  • 110 = nomor urut rangkaian kereta ini 110
  • BUD = punya Dipo KRL Bukit Duri (BUD)

KRL JR 205 memang belum lama di Indonesia. didatengin tahun 2013, tapi di Jepang mulai produksi tahun 1984 dan dinas tahun 1985. Nah yang di gambar ini trainset buatan tahun 1989 jadi kalo dihitung sama di Jepang, KRL JR 205 yang ini udah dinas hampir 29 tahun.

Jenis rangkaian KRL termasuk gerbong berpenggerak, dalam hal ini punya pantograf asal ada Listrik Aliran Atas (LAA) bisa gerak,  jadi nggak perlu lokomotif buat penariknya.

B. KRL Kfw i9000 

Ditengah dominasi rangkaian KRL asal negeri sakura, terselip rangkaian KRL buatan dalam negeri yakni KRL Kfw i9000. Sebetulnya sih nggak 100% buatan dalam negeri, disini PT. INKA selaku produsen gandeng Bombardier Transportation buat bikin rangkaian ini dan kelar tahun 2011.

Nama Kfw juga bukan jenis KRL tapi lebih ke sponsor yang mendanai produksinya, yakni Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) atau Bank Federal Jerman. Nah itulah kenapa rangkaian ini sebenarnya nggak 100% made in Indonesia, karena ada keterlibatan pihak lain yakni Bombardier Transportation untuk urusan teknis dan Kfw buat sponsor atau pendanaan.

Rangkaian ini lanjutin kiprah KRLI Djoko Lelono 3 atau Prajayana yang rusak parah dan harus istirahat selamanya di Stasiun Cikaum. Sama kaya pendahulunya, KRL Kfw i9000 cuma didinasin di jalur pendek dan sebagai Feeder, jarang ada di jalur utama. Paling rutin sih di Pink Line: Jakarta Kota (JAKK)-Kampung Bandan (KPB)-Tanjung Priok (TPK).

penomoran-gerbong-ka-kfw-inka-bn

Oke, sekarang kita bahas penomoran gerbong KRL Kfw i9000 buatan PT.INKA Madiun hasil collab sama Bombardier dan Kfw. Di foto nomor rangkaian “K3 1 11 35” ini maknanya:

  • K3 = kelas 3
  • 1 = rangkaian gerbong ini berpenggerak (KRL/Electric Multiple Unit), dari pantograf
  • 11 = diproduksi tahun 2011
  • 35 = nomor urut rangkaian gerbong 35

Tapi ada yang nggak kecantum disitu, kepemilikan dipo-nya, memang nggak ada (atau nggak ke shoot pake kamera kali ya), yang jelas KRL Kfw i9000 sering nginap di Dipo KRL Depok, walaupun dinasnya di Pink Line.

C. KRL Tokyu 8618F 

Sepintas memang mirip sang pelopor, KRL Tokyu 8613F a.k,a, Jalita, mau dibilang “Jalita Reborn” boleh-boleh aja karena berasal dari keluarga yang sama, Tokyu 8500, dan pernah sama-sama dinas dibawah Tokyu Corporation Jepang sebelum pindah di Indonesia. Cuma rangkaian KRL Jalita asli memang udah dirucat di Stasiun Cikaum karena rusak parah.
penomoran-gerbong-ka-tokyu-8618f

Sama kaya rangkaian KRL Commuter Line lainnya, KRL Tokyu 8618F juga punya penomoran, salah satunya ini “K1 1 89 24 BOO”:

  • K1 = Kelas 1
  • 1 = Gerbong berpenggerak (KRL/Electric Multiple Unit) pake pantograf LAA
  • 89 = Tahun produksi 1989
  • 24 = nomor urut gerbong 24
  • BOO = punya dipo KRL Bogor

KRL Tokyu 8500 sejatinya mulai dinas tahun 1975 tapi trainsetnya diproduksi bertahap, kebetulan untuk yang seri Tokyu 8618F ini bikinan tahun 1989, itu artinya di Jepang udah mulai dinas di awal tahun 1990-an. Belum begitu tua sih, makanya sekarang masih dinas di jalur utama, terutama jalur Depok-Bogor yang super sibuk dan padat.

InsyaAlloh bersambung ke bagian 2 “Penomoran Gerbong KA di Indonesia (2): Kereta Api Eksekutif Tanpa Penggerak ” 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: