Padalarang Tagog Apu Riwayatmu Kini

Kondisi Petak Padalarang Tagog Apu Kini

Padalarang Tagog Apu adalah salah satu petak bagian dari jalur tertua di Priangan. Lama nggak dilewatin kereta api kondisinya sangat miris. Banyak ditumbuhi rumput dan tanaman berduri. Ballast-nya pun hilang. Reaktivasinya sendiri keduluan jalur Cibatu-Garut

Petak ini terakhir kali dilewati kereta api tahun 2012 ketika Kereta Api Cianjuran alias Argo Peuyeum masih beroperasi. Rangkaian kereta lokal dengan formasi dua kereta ditarik lokomotif BB 301/304 punya Dipo Induk Bandung (BD) yang kini afkir ditumpuk di Purwakarta (PWK).

Pernah sekali ada angin segar jalur akan diaktifkan lagi di tahun 2014. Waktu itu PT. KAI mau dinasin KA Kiansantang melayani rute Bandung-Cianjur bersamaan KA Pangrango (Bogor Paledang-Sukabumi) dan KA Siliwangi (Sukabumi-Cianjur).

Tujuannya buat hidupin lagi jalur heritage Priangan Selatan. Pasalnya inilah jalur kereta api Jakarta Bandung yang pertama dibangun. Bahkan jadi penghubung pertama Jakarta dan Surabaya. Sebelum dibangun jalur yang sekarang lewat Cikampek.

Sayangnya meski sempat di trial sama idle KA Kahuripan yang ditarik CC 206, jalur kereta api Padalarang-Cianjur urung diaktifkan. KA Kiansantang juga nggak jadi dinas. Malah nggak ada kabar lagi sama sekali.

Padahal dua kereta udah dinas, termasuk KA Siliwangi yang melewati Terowongan Lampegan di jalur Cianjur-Sukabumi. Kenapa jalur Priangan Selatan nggak bisa aktif seutuhnya?

Lagi-lagi Force Majeur. Terjadi longsor di salah satu petak jalur kereta api Padalarang-Cianjur. Dalam perkembangannya longsor udah teratasi tapi kenapa KA Kiansantang belum juga dinas? Usut punya usut ternyata jalur kereta apinya sendiri jadi kendala.

Ada jalur ekstrem antara Cipatat hingga Padalarang. Itu juga ditambah kondisi perbukitan di Cipatat yang labil karena dominasi kapur. Jelas sangat berisiko bila dilewati lokomotif tipe CC yang sekarang banyak dinas. Jalur ini cuma bisa dilewati lokomotif BB yang udah uzur.

Itupun cuma bisa narik nggak lebih dari 3 gerbong. Karena kalo bawa 8 gerbong layaknya kereta api di jalur utama nggak akan bisa. Risikonya kereta bisa anjlok. Jalur ekstrem ini pernah diujicoba pake lori. Itupun lorinya sampe selip.

Kondisi Miris Petak Padalarang Tagog Apu

Banyaknya kendala untuk mengaktifkan lagi jalur kereta api membuat kondisinya jadi miris. Meski nggak sampe diokupasi buat bangun rumah kaya kasus jalur non-aktif di tahun 1970-1980an. Kondisi jalur kereta api Padalarang-Cianjur bisa dibilang miris.

Kenapa miris? Bukti kondisi miris jalur legendaris ini bisa diliat di petak Padalarang Tagog Apu. Apalagi menjelang JPL Cihaliwung arah ke Stasiun Padalarang (PDL). Meski utuh, terlihat tanaman liar mulai menutupi badan rel yang telah usang.

Kondisi Petak Padalarang Tagog Apu yang jadi bagian dari Jalur Kereta Api Padalarang Cianjur
Kondisi Petak Padalarang Tagog Apu yang jadi bagian dari Jalur Kereta Api Padalarang Cianjur

Sedikit info, rel di sini masih pake bantalan besi. Beda sama jalur di sebelahnya yang notabene adalah jalur utama dan penting penghubung Bandung, Cikampek dan Jakarta. Padahal jalur ini juga menghubungkan Bandung dan Jakarta. Malah lebih dulu ada ketimbang yang sekarang.

Banyaknya tanaman liar di petak Padalarang Tagog Apu inilah yang bikin miris. Belum lagi ballast yang nyaris nggak ada sama sekali. Jalur kereta api Padalarang-Cianjur seolah dibiarkan. Padahal udah lama masyarakat rindu ada kereta api lagi dari Bandung ke Cianjur.

Petak Padalarang Tagog Apu banyak ditumbuhi tanaman liar karena lama nggak dilewatin Kereta Api reguler.
Lama nggak dilewatin kereta api membuat petak Padalarang Tagog Apu banyak ditumbuhi tanaman liar. Kadang tanaman liar yang tumbuh ini juga berduri.

Kondisi miris ini sedikit tertutupi oleh sinyal muka yang masih berfungsi dengan baik. Posisi sinyal ini nggak jauh dari JPL Cihaliwung. Inilah satu-satunya sinyal elektrik di jalur ini. Meski dikendalikan sepenuhnya dari Stasiun Padalarang (PDL).

Sinyal muka arah Padalarang yang masih berfungsi
Sinyal muka arah Padalarang yang masih berfungsi. Bisa jadi inilah satu-satunya sinyal elektrik di jalur Legendaris. Dikendalikan dari Stasiun Padalarang (PDL). Nggak adanya kereta reguler membuat sinyal ini selalu dalam kondisi hijau alias aman.

Nggak adanya satupun kereta yang lewat membuat sinyal ini hijau terus. Nggak pernah ganti jadi kuning apalagi merah. Kalopun ada kereta yang melintas di sini, nggak lebih dari lori buat inspeksi. Selain itu kereta ukur dan pleasser juga kadang lewat ke sini.

Lanjut ke JPL Cihaliwung kondisinya juga sama miris. Pintu perlintasan di sini lama nggak aktif. Gardu JPL nggak terawat sama sekali. Kondisinya kusam dan ada corat-coret. Belum jelas apakah pintu perlintasannya masih berfungsi atau nggak.

Kondisi rel di sekitarnya nyaris nggak ada ballast sama sekali. Beda sama di di jalur kereta api sebelumnya yang mulai ditumbuhi tanaman liar. Kalo di Cihaliwung ballast-nya nyaris hilang. Karena itu tadi lama nggak dilewatin kereta api reguler.

Kondisi Gardu JPL Cihaliwung (JPL 139). Bangunan miris, kusam dan banyak coretan. Relnya kehilangan Ballast.
Kondisi Gardu JPL Cihaliwung (JPL 139). Bangunan miris, kusam dan banyak coretan. Relnya kehilangan Ballast.

Bisa-Bisa Keduluan Cibatu Garut

Menjelang akhir tahun 2018 Pemerintah Provinsi Jawa Barat punya rencana mau reaktivasi sejumlah jalur kereta api yang selama ini non-aktif. Jalur tersebut antara lain:

  • Jalur Kereta Api Cibatu-Garut
  • Jalur Kereta Api Cikudapateuh-Ciwidey
  • Jalur Kereta Api Banjar-Cijulang
  • Jalur Kereta Api Rancaekek-Tanjungsari

Dari keempat jalur tadi, Padalarang-Cianjur nggak termasuk. Padahal kalo diliat secara kasat mata relnya masih utuh semua. Belum banyak diokupasi dan berdiri bangunan di atasnya. Kondisi yang bisa dilihat dari keempat jalur di atas.

Justru jalur kereta api Cibatu-Garut dapat prioritas utama dibanding yang lain. Pertimbangannya lebih mudah dalam pengerjaan. Masyarakat yang selama ini tinggal di bangunan yang ada di atas rel pun udah sadar sepeuhnya. Bangunan yang mereka tinggali berdiri di tanah PT. KAI.

Banyak warga yang akhirnya membongkar sendiri rumah-rumahnya. Bahkan salah satu ormas yang pernah berkantor di Stasiun Garut (GRT) pun udah pindah. Sadar bahwa semua itu bukan milinya, melainkan milik PT. KAI.

Reaktivasi jalur kereta api Cibatu-Garut paling keliatan progresnya. Untuk anggarannya sendiri sepenuhnya dari PT. KAI. Nah disini banyak yang bertanya-tanya. Kenapa kok Garut yang diduluin, bukannya Cianjur? Padahal masyarakat udah lama menanti?

Banyak faktor memang. Lagi-lagi aspek finansial jadi pertimbangan. Keberadaan jalur ekstrem di sekitar Cipatat menghambat beroperasinya kembali kereta api di jalur Padalarang-Cianjur. Adapun Cibatu-Garut nggak ada jalur ekstrem jadi lebih mudah dikerjakan.

Secara Garut punya potensi ekonomi yang bagus. Terutama potensi wisata alamnya. Ini juga jadi pertimbangan Pemprov dan PT. KAI untuk mendahui Cibatu-Garut daripada Padalarang-Cianjur.

Kabar terakhir progresnya udah mulai pemasangan rel dari Cibatu ke Pasir Jengkol. Target akhir tahun pemasangan rel udah sampe ke Kota Garut. Sehingga Lebaran 2020 si ular besi ditarget kembali menapak di Swiss Van Java.

Sementara Padalarang-Cianjur kayanya begitu-begitu aja. Terkesan belum tersentuh sama sekali. Pembangunan kereta cepat di sekitar Tiber Padalarang yang nggak jauh dari situ membuat kondisi miris kian terasa.

Padahal anggaran pembangunan kereta cepat itu bisa dipake buat reaktivasi Padalarang-Cianjur. Termasuk buat ngakalin jalur ekstrem di Cipatat. Nah kalo kaya gini hampir pasti bakal keduluan sama Cibatu-Garut.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.