Posted on Leave a comment

Nikkin Kyoiku dan Amagasaki Rail Crash

Nikkin Kyoiku (Retraining Program), sanksi disiplin di West Japan Railway Company (JR West) diketahui telah menyimpang jauh dari tujuan asal. Disebut-sebut sebagai penyebab Amagasaki Rail Crash (Amagasaki Derailment)

Sejatinya Retraining Program atau Nikkin Kyoiku ialah program pelatihan ulang yang ditujukan buat masinis dan kru di West Japan Railway Company (JR West). Terutama buat mereka yang diketahui telah melakukan kesalahan seperti melanggar lampu sinyal merah, mengaktifkan rem darurat dan sejenis.

inspirasi-dari-nikkin-kyoiku-dayshift-education-jr-west-1Delay lebih dari 30 detik juga bisa berakibat kru dikirim mengikuti Nikkin Kyoiku, dimana kita tau jadwal perjalanan (Perka) Kereta Api di Jepang sangat teratur dan terintegrasi satu sama lain. 30 detik itu batas toleransi yang dikasih sama operator JR West. Sesuatu yang nggak ada, lebih-lebih di Indonesia, 5 menit aja masih maklum.

Seperti kita tau, etos kerja dan disiplin orang Jepang itu sangat tinggi. Itulah yang menjadikan negara mereka maju. Nikkin Kyoiku sejatinya merupakan bagian dari kultur disiplin tersebut, dimana setiap pelanggaran disiplin akan diikut sertakan dalam Retraining Program tersebut.

Adapun jenis-jenis pelanggaran yang bisa berakibat dikirim ikut Nikkin Kyoiku (Retraining Program) antara lain:

  1. Melebihi batas peron berhenti kereta api di sebuah stasiun sepanjang 5 meter.
  2. Melanggar batas kecepatan ketika menjalankan kereta api. Terdapat sensor di rel yang akan membunyikan alarm secara otomatis di ruang kemudi, jika kereta melebihi batas.
  3. Kereta mengalami keterlambatan jadwal lebih dari 30 detik.
  4. Melanggar lampu merah di jalur kereta api, yang menyala pada saat-saat tertentu.
  5. Menggunakan rem darurat

Nggak hanya itu, jenis pelanggaran kecil kaya terlambat ikut meeting juga bisa berakibat Nikkin Kyoiku.

Kontroversi Nikkin Kyoiku (Retraining Program)

Namun sayang dalam praktiknya Nikkin Kyoiku diketahui telah menyimpang dari tujuan asal. Alih-alih retraining atau program pelatihan ulang bernilai positif yang bertujuan untuk meningkatkan skill, Nikkin Kyoiku malah jadi semacam ospek dan sangat jauh dari mendidik.

Kaya gimana ya Nikkin Kyoiku atau Retraining Program?

  1. Membentak-bentak dan menekan masinis kereta, akan kesalahan dan akibat dari kesalahan yang dilakukannya. Tidak jarang kata-kata kasar dilontarkan oleh sang “trainer”, seperti “Omae baka da na !” (You stupid !/ Kamu bodoh !), “Nani wo shiteiru no ka !” (What are you doing !?/Kamu becus gak sih!?).
  2. Menyuruh peserta pelatihan menulis tangan laporan berpuluh-puluh lembar, dengan harus menyelesaikan 1 halaman dalam satu jam. Hampir pasti sang “trainer” menyuruh menulis ulang laporan tersebut dengan alasan yang diada-ada.
  3. Menyuruh peserta pelatihan melakukan pekerjaan kasar diluar masinis. Tugas seperti membersihkan toilet, menyikat rel kereta api, adalah diantaranya.

Dari contoh di atas, jelas banget Nikkin Kyoiku telah melenceng dari tujuan asal yakni pelatihan. Malah lebih mirip sama ospek. Biasanya program ini dilaksanakan dalam waktu 13 hari, tapi juga bisa hitungan minggu bahkan bulan. Banyak pesertanya yang mengalami stress, tertekan, dan akhirnya memilih keluar.

Hubungan sama Amagasaki Rail Crash (Amagasaki Train Derailement)

Pada 25 April 2005, jam 09:19 waktu setempat, salah satu kecelakaan kereta api terbesar yang pernah dialami Jepang terjadi. Kecelakaan terjadi di dekat Stasiun Amagasaki, Perfektur Hyogo, Jepang, daerah dekat Osaka.

inspirasi-dari-nikkin-kyoiku-dayshift-education-jr-west-2Kereta yang mengalami kecelakaan ini sedang beroperasi di JR Line, Fukuchiyama Line, dibawah operator West Japan Railway Company (JR West), dinas sebagai Rapid atau kalo di Indonesia namanya Kereta Patas yang terdiri dari 7 kereta.

Kereta ini mengalami kecelakaan dengan empat kereta keluar dari rel, dua kereta terdepan terparah karena menabrak kompleks apartemen. 107 penumpang, termasuk masinis, meninggal dunia akibat kecelakaan ini, dan 562 lainnya terluka.

Penyebab pasti dan terbukti dari kecelakaan ini adalah kereta melaju terlalu cepat ketika memasuki tikungan tajam, memasuki stasiun Amagasaki. Kecepatan kereta api ketika melewati tikungan adalah 116 km/jam, sedangkan batas kecepatannya 106 km/jam.

Kenapa kereta melaju terlalu cepat? Setelah diselidiki ternyata masinis kereta yang celaka tersebut, Ryujiro Takami (23), pernah mengikuti Nikkin Kyoiku dan teringat pelatihan penuh tekanan tersebut. Ternyata hal itulah yang bikin Takami melakukan sejumlah kesalahan sehingga berujung kecelakaan fatal. Urutannya sebagai berikut:

  1. Takami melanggar lampu merah yang menyala.
  2. Setelah berhenti pada salah satu stasiun, Takami melaju cepat untuk mengejar keterlambatan waktu. Hal ini mengakibatkan Takami dihentikan oleh sensor selama beberapa detik karena melebihi batas kecepatan, sehingga kereta semakin terlambat.
  3. Takami berhenti diluar batas sejauh 40 meter di Itami Station, sebelum Amagasaki. Lalu dia memundurkan kereta tersebut.
  4. Setelah meninggalkan Itami Station, Takami menelepon kondektur melalui telepon kereta, dan meminta dia mengarang laporan bahwa dia tidak berhenti melewati batas.
  5. Karena diburu waktu yang terlambat, dan beberapa penumpang marah, terlebih ketakutan akan “Nikkin Kyouiku”, Takami melaju kencang mencapai stasiun Amagasaki. Ketika memasuki tikungan tajam menuju stasiun Amagasaki, Takami mengetahui dia terlalu cepat, kemudian mengerem. Namun rem yang dia gunakan rem biasa, padahal indikator di kereta menunjukkan perlunya rem darurat karena terlalu cepat. Kenapa Takami melakukan ini ? Ya, karena penggunaan rem darurat akan menambah pelanggarannya dan memastikan dia masuk program “Nikkin Kyouiku”.

Dua pelanggaran pertama aja udah hampir dipastikan Takami balik lagi ikut Nikkin Kyoiku. Karena trauma sama pelatihan model ospek tersebut, terjadilah overshoot platfrm sejauh 40 meter di Itami Station (urutan ke-3). Hingga akhirnya Takami menelepon kondektur (urutan ke-4).

Disini Takami meminta Kondektur untuk mengarang laporan dan akhirnya kondektur memutuskan untuk berusaha membantu Takami, bilang cuma melebihi jarak nggak lebih dari 8 meter. Tujuannya supaya hukuman Takami bisa dikurangi. Ketakutan Takami mencapai puncaknya pada kejadian terakhir yang berujung kecelakaan fatal.

Nah disinilah Nikkin Kyoiku dianggap berperan dalam Amagasaki Rail Crash (Amagasaki Derailment), meski demikian sanski ini tetap ada hingga sekarang. Menurut kesaksian seorang penumpang. kereta melaju terlalu cepat, berhenti melebihi batas dan rem mendadak di tikungan. Takami sendiri termasuk 1 dari 107 korban tewas.

Show Must Go On

Meski dianggap sebagai salah satu sebab terjadinya Amagasaki Rail Crash (Amagasaki Train Derailement), JR West tetap jalanin Nikkin Kyoiku atau Retraining Program. Sasarannya masinis atau kru yang melakukan pelanggaran.

JR West beralasan bukan salah programnya tapi kesalahan tetap ada di masinis dan kru. Bagi mereka pelayanan dan ketepatan waktu jadi prioritas utama. Hal ini sempat memunculkan protes maksudnya agar JR West lebih mendahulukan keselamatan.

Jadi kesimpulannya Nikkin Kyoiku atau Retraining Program masih tetap ada hingga sekarang. Terlepas dari segala kontroversi yang mengiringinya.


Referensi: 

Bekerja Baik dan Bekerja Tanpa Kesalahan, Beda. Kantorkita.Net. https://kantorkita.net/bekerja-baik-dan-bekerja-tanpa-kesalahan-beda.html

“Nikkin Kyoiku” . Pelatihan Keras Masinis Kereta Api di Jepang. Kaskus. https://www.kaskus.co.id/thread/50cd61938327cf2120000016/quotnikkin-kyouikuquot–pelatihan-keras-masinis-kereta-api-di-jepang/1/?order=asc

S06E05 Runaway Train HDTV ZiLLa. NatGeo Second From Disaster. https://www.youtube.com/watch?v=hzZZTA1pAvs

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.