Menikmati Sungai Cisadane dari Kereta Api Pangrango

Salah satu pemandangan eksotis yang bisa kita nikmati dari Kereta Api Pangrango ialah Sungai Cisadane. Inilah moment paling seru dari rangkaian perjalanan dari Bogor ke Sukabumi. Pokoknya nggak bakal rugi deh.

Inilah bedanya ke Sukabumi lewat jalan biasa sama naik kereta api. Selain nggak bakal kena macet parah di titik rawan kaya Cicurug, pemandangannya juga beda. Kalo naik mobil atau bus lewat jalan raya Ciawi pemandangannya cenderung biasa aja, tapi bakal beda banget kalo naik Kereta Api Pangrango.

Secara jalur kereta api yang dilewatin kereta api Pangrango sendiri merupakan jalur legendaris dan paling tua di tanah Priangan, bagian dari jalur kereta api Manggarai-Padalarang, mulai dibangun 5 Oktober 1881 dari Bogor ke Cicurug, lanjut Cicurug-Sukabumi (21 Maret 1882), dan Sukabumi-Cianjur (10 Mei 1883).

Nggak cukup cuma nyampe Stasiun Cianjur, meski saat ini yang aktif lagi baru nyampe situ, tanggal 17 Mei 1884 giliran Cianjur-Bandung dan akhirnya nyampe juga ke Cicalengka tanggal 10 September 1884. Jadi sejatinya jalur yang dilewatin kereta api Pangrango itu nyampe Bandung lho, malah udah ada duluan daripada jalur yang sekarang (dibangun 1901).

Tapi sayang jalur legendaris ini mengalami periode sulit justru setelah Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan Belanda. Terutama sejak era-Orde Baru dimana pembangunan jalan raya begitu gencar sementara kereta api kaya dibiarin hidup segan mati tak mau. Termasuk jalur legendaris Bogor-Bandung ini.

Pemerintah waktu itu lebih perhatiin jalur ke Bandung yang lewat Cikampek-Purwakarta (jalur saat ini), memang sih secara jarak lebih pendek, makanya dijadiin jalur utama buat angkutan penumpang dan barang. Ditambah lagi jalurnya juga nggak terlalu ekstrem.

Praktis jalur Bogor-Padalarang cuma dilewatin kereta api yang kelasnya nggak jauh dari bumel atau lebih rendah dari kelas ekonomi (K3). Dari Bogor ke Sukabumi aja misalnya, sampe tahun 2006 cuma dilayani rangkaian KRD Ekonomi bumel 3 gerbong sebanyak 3 trip, sama sih kaya Kereta Api Pangrango sekarang.

Sementara dari Bandung ke Sukabumi dilayani kereta api lokal (Kereta Api Argo Peuyeum) dengan formasi 2 gerbong K3 ditarik lokomotif BB 301/BB 304. Itupun cuma sampe 2001 karena Terowongan Lampegan longsor. Rutenya otomatis dipotong jadi cuma nyampe Stasiun Cianjur doang dan akhirnya benar-benar pensiun di tahun 2012.

Untuk petak Bogor-Sukabumi sediri, sejak KRD Bumel nggak lagi dinas di 2006 jalurnya sempat non-aktif, baru di 2008 aktif lagi setelah PT. KAI meluncurkan KRD Bumi Geulis kelas bisnis (KD2). Rangkaiannya lagi-lagi kereta uzur yang udah direvitalisasi, bekas rangkaian KRD Prameks Jogja-Solo.

Masa dinas Bumi Geulis ada sekitar 4 tahun sampe bulan Desember 2012, setelahnya KRD ini berhenti beroperasi karena mengalami kerusakan. Jadilah jalur legendaris lagi-lagi vakum tanpa dilewati kereta api, malah sekarang semua ruas “offline”, Kereta Api Argo Peuyeum terpaksa dipensiunkan juga karena alasan yang sama.

Ternyata kali ini vakumnya jalur legendaris itu nggak nyampe setahun. Tepat 9 November 2013, PT. Kereta Api Indonesia luncurkan kereta api Pangrango rute Bogor Paledang-Sukabumi. Beda sama sebelumnya yang pake KRD atau Diesel Multiple Unit (DMU), Kereta Api Pangrango itu kereta konvensional ditarik lokomotif.

Kereta Api Pangrango punya layanan 2 kelas: eksekutif (K1) dan ekonomi AC (K3) 106 penumpang. Tiketnya bisa dibooking online via channel external KAI maksimal H-30 atau sebulan sebelum berangkat. Harga tiket sekali jalan Rp 20.000,00 s.d. Rp 25.000,00 untuk kelas ekonomi (K3) dan Rp 50.000,00 s.d. Rp 60.000,00 untuk kelas eksekutif (K1).

Pemandangan Sungai Cisadane.

Begitu lepas dari Stasiun Bogor Paledang yang terletak 100 meter sebelah selatan Stasiun Bogor, kita bakal mulai disuguhin pemandangan Sungai Cisadane dengan latar Gunung Salak. Pemandangan ini bisa kamu nikmatin kalo dapet kursi di sebelah kanan. Aliran sungai berarus lumayan deras dan berbatu seolah dinaungin Gunung Salak.

View ini bisa dinikmatin bahkan sampe Kereta Api Pangrango meninggalkan Stasiun Batu Tulis di Bogor Selatan. Setelah itu Kereta Api Pangrango nyeberangin Sungai Cisadane, jadi gantian deh sekarang yang duduk di sebelah kiri kebagian pemandangan Sungai Cisadane yang hulunya di Taman Nasional Gede-Pangrango.

Pemandangan aliran Sungai Cisadane bisa kamu nikmatin sampe Stasiun Maseng di Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Selepas Stasiun Maseng pemandangan lebih didominasi lansekap pedesaan dan sesekali kita bakal lihat progres proyek pembangunan jalan Tol Bocimi (Bogor-Ciawi-Sukabumi).

So, inilah salah satu pemandangan indah nan eksotis yang bakal kita temuin di jalur kereta api Manggarai-Padalarang petak Bogor Paledang-Maseng. Aliran sungai Cisadane yang mengalir deras dan berbatu, serta dinaungin Gunung Salak.

Mau tau pemandangan Sungai Cisadane-nya kaya gimana? See these photos below:

ka-pangrango-cisadane-1

ka-pangrango-cisadane-2

ka-pangrango-cisadane-3

ka-pangrango-cisadane-4


REFERENCES

Katam, Sudarsono. 2014. Kereta Api Di Priangan Tempoe Doeloe. Bandung: Pustaka Jaya.

Kereta api Bumi Geulis. WIkipedia.id. https://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_api_Bumi_Geulis

Stasiun Maseng. Wikipedia.id. https://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Maseng

Leave a Reply

%d bloggers like this: