Posted on

Mengenang 30 Tahun Tragedi Bintaro 1

Tragedi Bintaro 1 tanggal 19 Oktober 1987 akan selalu dikenang sebagai sejarah kelam perkeretaapian Indonesia. Komunikasi buruk jadi penyebab utama nyawa 156 orang melayang, sebagian dalam kondisi mengenaskan.

Hari ini, 19 Oktober 2017, tepat 30 tahun lalu terjadi sebuah tragedi kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia. Dua kereta api tabrakan adu banteng di Pondok Betung Bintaro Jakarta Selatan antara KA 225 Lokal Rangkasbitung-Jakarta Kota dan KA 220 Patas Tanah Abang-Merak. Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH) yang kita kenal sebagai Tragedi Bintaro 1.

Kok Tragedi Bintaro 1, berarti ada Tragedi Bintaro 2 dong? Iya, cuma Tragedi Bintaro 2 kejadiannya 9 Desember 2013, lokasinya nggak jauh dari TKP Tragedi Bintaro 1, bedanya Tragedi Bintaro 2 itu KRL Commuter Line arah Serpong nabrak truk BBM yang mogok di PJL Pondok Betung. Tarbarak Kereta sama kendaraan lain, bukan kereta vs kereta.

Tapi sekarang yang mau kita bahas Tragedi Bintaro 1, kejadiannya tanggal 19 Oktober 1987. Kalo kita searching di google “Tragedi Bintaro 1” banyak banget kronologisnya. Dari sekian banyak kronologis itu satu kesimpulan bisa kita ambil yakni Tragedi Bintaro 1 terjadi akibat human error atau kesalahan manusia.

Karena yang punya peran sampe peristiwa memilukan itu terjadi nggak jauh dari masinis kedua kereta api sama petugas PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api) di Stasiun Serpong, Stasiun Sudimara dan Stasiun Kebayoran.

Tragedi Bintaro 1 terjadi di jalur kereta api Tanah Abang-Merak atau sekarang lebih dikenal sebagai jalur kulon. Orang juga nyebut jalur ini “Green Line” mengacu pada layanan KRL Commuter Line di jalur ini, meski baru nyampe Stasiun Rangkasbitung.

Waktu kejadian dulu jalur kulon belum dielektrifikasi, jadi belum ada layanan KRL dimana KRL baru lewat disini tahun 1990-an sampe Stasiun Serpong. Sistem persinyalan masih full mekanik dan jalurnya masih single track. Jadi benar-benar masih peninggalan Kolonial Belanda. Kalo sekarang kan sinyalnya udah elektrik, double track dan dilewatin KRL.

Untuk urutan stasiunnya sendiri, dari Stasiun Tanah Abang, ada Stasiun Palmerah, Stasiun Kebayoran, langsung Stasiun Sudimara dan Stasiun Serpong. Stasiun Pondok Ranji sama Stasiun Jurangmangu belum dibangun. Nah kecelakaannya sendiri itu di blok antara Stasiun Kebayoran Lama dan Stasiun Sudimara.

Merajut Kembali Kronologis Tragedi Bintaro 1

Bagi kamu yang udah pernah berkunjung ke website Manglayang Tour yang lama, waktu itu pernah ada postingan yang judulnya “Merajut kembali Tragedi Bintaro 1987”. Website itu udah lama non-aktif dan Manglayang Tour-nya juga lagi vakum nggak ada kegiatan. Tapi alhamdulillah, mimin masih nyimpen tulisannya buat direpost lagi di sini.

Jadi gini, seperti tadi udah dikasih tau di awal, ada beberapa versi kronologis Tragedi Bintaro 1. Karena itu kita coba nyatuin lagi kepingan-kepingan kronologis itu. Ngomong-ngomong PLH paling tragis sepanjang sejarah ini pastinya nggak akan lepas dari sosok bernama Slamet Suradio atau akrab dipanggil Mbah Slamet.

Beliau adalah masinis KA 225 Rangkasbitung-Jakarta Kota dan jadi pihak yang paling disalahkan atas Tragedi Bintaro 1. Tapi menurut pengakuan beliau sendiri waktu itu putusin berangkat karena udah ngantongin surat PTP (Perpindahan Tempat Persilangan) dari Stasiun Sudimara ke Stasiun Kebayoran.

Masih menurut beliau, selama KA 225 belum nyampe di Stasiun Kebayoran, nggak boleh ada kereta api manapun yang lewat di petak itu. Cuma masalahnya di berita versinya beda lagi. Djamhari, PPKA Stasiun Sudimara memang ngakuin ngasih surat PTP ke Mbah Slamet tapi menurutnya bukan berarti jalur udah aman dilewati karena harus kontak ke Kebayoran.

Hasilnya PPKA Stasiun Kebayoran Lama tetap kepengen persilangan di Stasiun Sudimara karena menurutnya KA 220 Tanah Abang-Merak adalah kereta api patas (Patas Merak) yang kelasnya lebih tinggi dan harus lebih diprioritaskan, daripada KA 225 yang cuma lokalan.

Karena itu Djamhari memerintahkan juru langsir menjalankan tugasnya, pindahin KA 225 dari jalur 1 ke jalur 3 Stasiun Sudimara, semboyan pun diberikan, cuma Mbah Slamet nggak bisa pastiin apakah itu Semboyan 46 langsir atau Semboyan 40 tanda aman berangkat. Buat make sure, beliau tanya ke penumpang di lokomotif dan dijawab “iya, udah waktunya berangkat.”

Maka saat itu juga KA 225 bergerak menuju Stasiun Kebayoran Lama, para petugas di Stasiun Sudimara pun panik. Nah, karena ada beda versi, yuk kita susun ulang atau rajut kembali kronologis Tragedi Bintaro 1:

  1. Tragedi Bintaro 1 bermula ketika PPKA Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 tanpa lebih dulu cek kondisi Stasiun Sudimara. Kalo nggak ada keterlambatan, KA 225 bisa disilang sama KA 200 di sana, nyatanya KA 225 terlambat 5 menit
  2. KA 225 tiba di Stasiun Sudimara jam 06.45 (harusnya 06.40). Stasiun Sudimara yang waktu itu punya 3 jalur jadi penuh sama kereta api. KA 225 masuk di jalur 1, jalur 2 ada Kereta Api Indocement jurusan Jakarta, jalur 3 gerbong barang tanpa lokomotif. Jadi persilangan disitu merupakan sesuatu yang mustahil.
  3. PPKA Stasiun Sudimara, Djamhari, pengen pindahin persilangan ke Stasiun Kebayoran. PTP (Perubahan Tempat Persilangan) dikasih ke Mbah Slamet selaku masinis KA 225, ngasih info kalo persilangannya pindah ke Stasiun Kebayoran. Nah, disinilah masalah mulai terjadi.
  4. Harusnya sebelum bikin PTP, PPKA Stasiun Sudimara minta izin dulu sama PPKA Stasiun Kebayoran, kalo udah disetujui baru bikin PTP. Tapi nyatanya surat PTP cuma dikasih ke masinis, baru setelahnya kontak Stasiun Kebayoran, dimana KA 220 udah ada di sana dan siap berangkat.
  5. Singkat cerita, PPKA Stasiun Kebayoran, Umrihadi, maunya persilangan tetap di Stasiun Sudimara karena status KA 220 Tanah Abang-Merak itu Kereta Api Patas yang kelasnya lebih tinggi dan harus dapat prioritas lebih dulu. Karena itu PPKA Stasiun Sudimara akhirnya mutusin KA 225 dilangsir ke jalur 3. Rencananya jalur 1 dilewatin KA 220.
  6. Keputusan langsir KA 225 ke jalur 3 tanpa menarik kembali PTP yang udah terlanjur dibuat. Juru langsir menjalankan tugasnya, begitu peluit tanda langsir ditiup (Semboyan 46), tapi ternyata KA 225 malah terus melesat ke arah Stasiun Kebayoran. Para petugas stasiun pun panik.
  7. Seorang juru langsir berhasil naik ke gerbong paling belakang tapi sayangnya gagal sampe ke rangkaian terdepan karena kondisi kereta yang penuh sesak. Petugas lainnya coba ngejar pake motor tapi lagi-lagi nggak berhasil akibat kemacetan di jam sibuk.
  8. PPKA Stasiun Sudimara, Djamhari coba menghentikan laju KA 225 dengan gerak-gerakkan sinyal mekanik, ini juga nggak membuahkan hasil. Nggak kehabisan akal, Djamhari coba ngejar KA 225 sambil bawa bendera merah. Usaha ini pun lagi-lagi menemui kegagalan. Pengejaran sejauh 2,5 km sampe Jurangmangu itupun sia-sia.
  9. Terus berusaha supaya tabrakan nggak terjadi, Djamhari coba hubungi penjaga PJL Pondok Betung lewat semboyan genta darurat, tapi kabarnya petugas PJL nggak hafal semboyan genta malah anggap itu genta percobaan. KA 225 terus melaju tanpa bisa diberhentiin dengan kecepatan 40 km/jam, dari arah berlawanan KA 220 melaju 25 km/jam.
  10. Dua rangkaian kereta api berlawanan arah kini ada di jalur yang sama. Keduanya melaju seolah menyambut atau dituntun menuju maut. Nggak ada yang bisa menghentikan. Segala upaya nggak satupun berhasil.
  11. Tepat jam 07.10 pagi, ditikungan S di tikungan S km 18,75 sekitar 200 meter dari PJL Pondok Betung Bintaro (belakang SMAN 86), kedua kereta bertemu, tabrakan nggak bisa dihindari, braaak…jegeeer….. benturan dahsyat 2 kereta mengakibatkan dua gerbong paling depan KA 225 dan KA 220 langsung menelan kedua lokomotif. Efek teleskopik ini tewaskan banyak penympang dan mereka yang bernasib malang langsung tergiling kipas radiator lokomotif. 156 korban meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka (sebagian dalam kondisi cacat dan menanggung derita sampai sekarang). Semua korban meninggal dunia ada di gerbong 1 dan lokomotif.
  12. Akibat Tragedi Bintaro 1, Mbah Slamet (masinis KA 225) dihukum 5 tahun penjara dan kehilangan pekerjaan (dipecat Perumka secara tidak hormat tahun 1994). Adung Syafe’i kondektur KA 225 dihukum penjara 2 tahun 6 bulan. PPKA Stasiun Kebayoran, Umrihadi, dihukum 10 bulan penjara.
  13. Tragedi Bintaro 1 tercatat sebagai sejarah kelam perkeretaapian Indonesia. Dari jumlah korbannya aja 156 orang tewas (sebagiannya mengenaskan) sampe sekarang masih yang paling banyak diantara PLH-PLH lainnya. Saking mengerikannya Tragedi Bintaro 1 jadi inspirasi para seniman kaya Iwan Fals bikin lagu 1910 dan Kang Ebiet (Ebiet G. Ade) juga ciptain lagu berjudul “Masih Ada Waktu”. Selain lagu, Tragedi Bintaro 1 juga dibikin film berjudul Tragedi Bintaro produksi Safari Film 1989. Di film itu kelihatan banget gimana “second from disaster” antara KA 225 sama KA 220 meskipun sebenarnya lebih banyak mengangkat kisah tentang salah satu korban selamat, Juned, dan keluarganya.

Pasca Tragedi Bintaro 1, jalur Tanah Abang-Merak (jalur kulon/green line) dibenahin besar-besaran. Di tahun terjadi PLH memilukan tersebut, jalur kulon memang terkenal semrawut banget. Banyak penumpang gelap atau tanpa tiket di sini, kadang lebih galak daripada petugas PJKA-nya. Nggak jarang suka menghajar kondektur.

Pembenahan dimulai dengan mengganti sistem persinyalan dari mekanik ke elektrik, elektrifikasi (pemasangan Listrik Aliran Atas/LAA) supaya bisa dilewatin KRL di tahun 1990-an, pembangunan 2 stasiun: Pondok Ranji dan Jurangmangu di antara Stasiun Sudimara dan Stasiun Kebayoran.

Di antara pembenahan-pembenahan jalur kulon, yang palng besar tentu pembangunan double track di tahun 2007, andai double track udah dibangun 20 tahun sebelumnya. Sampe sekarang jalur kulon termasuk lintasan penting penghubung Jakarta dan ujung barat pulau Jawa.

Tingginya pengguna jasa angkutan kereta api akhirnya membuat PT. KAI mengoperasikan KRL Commuter Line sampe Stasiun Rangkasbitung. Ini pencapaian besar lainnya dari pembenahan jalur kulon alias green line. Walaupun harus ngorbanin pengguna Kereta Api Krakatau dari Jakarta ke Merak.

Malapetaka Akibat Komunikasi Buruk

Balik lagi ke Tragedi Bintaro 1, jadi intinya malapetaka di Senin pagi 19 Oktober 1987 ini terjadi karena komunikasi buruk. Jadi kalo dilihat berbagai kronologis yang ada di blog atau forum-forum diskusi muaranya tetap sama yakni human error dan komunikasi buruk. Ini urutan komunikasi buruk yang pada akhirnya mengakibatkan nyawa 156 jiwa melayang:

  1. Kepala Stasiun Serpong memberangkatkan KA 225 tanpa mengecek kondisi Stasiun Sudimara yang sudah penuh kereta api.
  2. Di Stasiun Sudimara, karena nggak mungkin bisa bersilang sama KA 220, PPKA langsung bikin PTP dan langsung dikasih ke masinis. Itu artinya KA 225 dipersilakan berangkat dan silang sama KA 220 di Stasiun Kebayoran. Karena menurut masinis sebelum keretanya nyampe Kebayoran nggak boleh ada kereta lain melintas.
  3. PTP ini jelas bentuk komunikasi buruk dan menyalahi prosedur. Harusnya PPKA Stasiun Sudimara koordinasi dulu sama PPKA Stasiun Kebayoran, minta izin sampe di-acc (setujui),baru PTP bisa dikasih ke masinis. Tapi yang terjadi malah nggak ada koordinasi dan langsung dikasih ke masinis.
  4. PPKA Stasiun Kebayoran ternyata nggak setuju dan tetap maunya silang di Stasiun Sudimara. KA 220 sebagai kereta api Patas Merak harus dapat prioritas lebih tinggi. Karena itu PPKA Sudimara langsung perintahkan juru langsir pindahin KA 225 ke jalur 3 tanpa menarik lagi PTP yang udah terlanjur dikasih ke masinis.
  5. Ada pergantian PPKA di Stasiun Kebayoran, dimana PPKA baru dikasih info ada 2 kereta api belum masuk Stasiun Sudimara, termasuk KA 225, sementara KA 220 udah ada di Stasiun Kebayoran dan siap berangkat. Lagi-lagi miskominikasi, dikiranya KA 225 belum masuk padahal jelas-jelas udah masuk Stasiun Sudimara.
  6. Udah nonton film Tragedi Bintaro? Kalo udah di salah satu scene PPKA Kebayoran yang baru menelepon PPKA Sudimara, tanya “Gimana KA 220 aman?” PPKA Sudimara jawab “KA 220 aman!” Maksudnya bilang aman karena KA 225 lagi proses langsiran dari jalur 1 ke jalur 3. Nantinya jalur 1 dilewatin KA 220. Saat itu juga KA 220 berangkat dari Stasiun Kebayoran.
  7. Balik ke Stasiun Sudimara, juru langsir menjalankan tugasnya, meniup peluit tanda langsir (semboyan 49), tapi karena kereta api yang penuh sesak, penumpang berjubel sampe ke lokomotif dan atap kereta api, masinis KA 225 nggak bisa pastiin apa itu Semboyan 40 (aman berangkat) atau Semboyan 49 (langsir). Terlepas dari benar atau nggaknya masinis tanya ke seorang penumpang buat mastiin, atau boleh jadi didesak penumpang supaya berangkat, KA 225 langsug meluncur ke arah Stasiun Kebayoran. Petugas dan juru langsir panik.
  8. Segala cara dilakuin buat berhentiin KA 225, tapi semuanya nggak ada yang berhasil. Malapetaka nggak bisa dihindari dan seolah dituntun menuju maut. KA 225 dan KA 220 tabrakan head to head atau adu banteng di km 18,75 dekat SMAN 86 Bintaro Jakarta Selatan. 156 orang tewas, sebagian dalam kondisi mengenaskan.

 

Setiap kejadian ada hikmahnya, termasuk Tragedi Bintaro 1. Apa faidah atau pelajaran yang bisa kita ambil disini? Nggak banyak, satu aja, “komunikasi”. Tragedi Bintaro 1 terjadi karena komunikasi buruk.

Diakui memang waktu itu belum ada alat komunikasi dari stasiun yang langsung bisa ngontak masinis kaya sekarang. Belum semua lokomotif dilengkapi fasilitas radio komunikasi. Terutama jalur kulon waktu itu masih ngandalin antar stasiun.


DAFTAR PUSTAKA

 

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.