Posted on Leave a comment

Mengambil Pelajaran dari Tragedi JAL 123

Tragedi JAL 123 merupakan salah satu kecelakaan pesawat tunggal terburuk yang pernah ada, malah paling buruk di Jepang. Dari musibah ini kita bisa mengambil pelajaran berharga yakni namanya maintenance itu nggak bisa main-main. 

Japan Airlines Flight 123 dulu merupakan penerbangan domestik rutin berjadwal yang melayani rute Tokyo Haneda Airport (HND) – Osaka International Airport/Itami (ITM). Meski cuma seukuran Jakarta-Surabaya, penerbangan ini menggunakan jumbo jet Boeing 747-146SR karena tingginya minat warga Jepang menggunakan pesawat.

Boeing 747-146SR sendiri merupakan varian dari Boeing 747 generasi awal. Namun yang bedakan sama “si Queen” pada umumnya ialah varian Boeing 747-146SR ini diset buat jarak pendek kaya Tokyo-Osaka tapi bisa angkut 500-an penumpang dan kru.

Mengambil-Pelajaran-dari-Tragedi-JAL-123

Japan Airlines Flight 123 mengalami musibah setelah rear pressure bulkhead di bagian belakang pecah hingga menyebabkan pesawat mengalami dekompresi dan kehilangan hydraulic power karena bagian ekor yang merupakan vertical stabilizer ikut terlepas, sehingga pesawat terbang tak menentu selama 30 menit sebelum jatuh.

Segala upaya dilakukan oleh Captain Masami Takahama untuk bisa mendaratkan kembali Flight 123 ke Tokyo Haneda Airport (HND) atau pangkalan militer AS di Yokota. Namun karena kehilangan vertical stabilizer semua jadi sia-sia.

Pesawat malah kehilangan daya angkat hingga akhirnya jatuh di gugusan pegunungan Otsusaka, Gunma Perfecture, 100 km dari Tokyo. Tercatat 505 penumpang dan 15 kru pesawat meninggal dunia, termasuk Captain Takahama dan seorang aktor ternama Kyu Sakamoto.

Ajaibnya 4 penumpang bisa selamat dari musibah terburuk dalam sejarah penerbangan Jepang. Setelah melalui penyelidikan mendalam diketahui penyebab kecelakaan ialah perbaikan tak sempurna di bagian rear pressure bulkhead setelah pesawat mengalami insiden tailstrike di Itami 7 tahun sebelumnya.

Akibatnya rear pressure bulkhead jadi lemah ketika pesawat sedang menuju ke cruising altitude hingga akhirnya pecah ketika pesawat mulai masuk ke ketinggian 24.000 feet. Cuma gara-gara pasang mur nggak sempurna harus korbanin 520 jiwa pada penerbangan tanggal 12 Agustus 1985 itu.

Maintenance Pesawat Nggak Bisa Main-Main

Tragedi JAL 123 bukan satu-satunya kecelakaan pesawat yang disebabkan maintenance tak sempurna. Nggak usah jauh-jauh, di Indonesia juga pernah ada kecelakaan karena sebab yang sama di awal tahun 2007 ketika pesawat Adam Air 541 dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado jatuh di Laut Sulawesi.

Belakangan diketahui karena kerusakan di bagian navigasi. Itupun bermula dari perbaikan yang kurang sempurna. Karena kalo tau alatnya bermasalah harus diganti sama yang baru.

Memang kasus Adam Air bukan gara-gara rear pressure bulkhead pecah sebagaimana Tragedi JAL 123, melainkan masalah dalam sistem navigasi. Cuma masalah itu sendiri diawali perbaikan yang kurang sempurna.

Selain itu masih ada lagi insiden Alaska Airlines 261 dalam penerbangan dari Mexico ke San Fransisco. Pada fase awal pesawat mengalami masalah hingga pilot memutuskan terbang manual dan coba mendarat di LAX namun akhirnya pesawat hilang kendali dan jatuh di laut.

Ternyata masalahnya juga karena maintenance dimana sebelum insiden terjadi Alaska Airlines diketahui telah memangkas waktu maintenance pesawat dengan alasan optimalisasi pesawat. Kebijakan yang akhirnya mendatangkan malapetaka yang menewaskan semua penumpang dan kru.

Dari tiga insiden di atas, diantaranya Tragedi JAL 123, kita bisa ambil pelajaran yakni namanya maintenance itu nggak bisa main-main. Okelah pengen harga murah dan kurangi service ini dan itu, terutama makan gratis atau selimut gratis.

Tapi yang namanya biaya maintenance nggak boleh diutak-atik. Keselamatan tetap jadi prioritas dan nomor satu. Mau itu Full Service atau Low Cost Carrier (LCC).

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.