Posted on

Matinya Rel Kereta Api Jogja Semarang via Ambarawa

Bangsa Indonesia boleh menghirup udara kemerdekaan, tapi sayang itu nggak dirasain sejumlah jalur kereta api, seperti rel kereta api Jogja Semarang via Ambarawa peninggalan NIS. Tinggal sisa koridor pendek Tuntang-Ambarawa-Bedono.

Keberadaan rel kereta api Jogja Semarang via Ambarawa memang nggak lepas dari pembangunan jalur kereta api pertama di Indonesia dari Semarang ke Tanggung, hingga akhirnya bablas ke Solo. Lintasan itu bercabang di Stasiun Kedungjati, satu ke arah Solo lainnya ke arah Jogja lewat Ambarawa dan Magelang.

Rel kereta api Jogja Semarang via Ambarawa mulai dibuka tahun 1873 barengan sama Stasiun Ambarawa (Willem I) yang kelar 21 Juni 1873. Awalnya pembangunan jalur cabang itu untuk kepentingan militer Pemerintah Kolonial Belanda.

Perang Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun (1825-1830) ternyata bikin susah penjajah dari segala sisi, mulai fisik sampai ekonomi. Biaya yang dikeluarin pun nggak sedikit. Meski pada akhirnya bisa memenangkan perang lewat taktik licik, tetap aja pemerintah Kolonial Belanda harus nanggung banyak kerugian material.

Maka dari itu pemerintah kolonial berusaha jadiin wilayah Ambarawa sebagai pusat militer. Selain dibangun benteng buat pertahanan, guna menunjang dan memudahkan pergerakan militer kolonial dibuat jalur kereta api barengan sama Stasiun Ambarawa (Willem I) yang kita kenal sekarang udah jadi Museum Kereta Api Ambarawa.

Rel Kereta Api Bergigi di Bedono.

Kalo kita lihat di peta sih, jalur yang awal dibangun sebenarnya juga nyampe ke Jogja, lantas bedanya dimana ya antara jalur pertama sama yang lewat Ambarawa? Rel kereta api bergigi di Bedono jadi pembeda. Keberadaannya mulai dari Stasiun Jambu ke Stasiun Bedono dan berakir di Stasiun Gemawang.

Rel kereta api bergigi itu jadi satu-satunya di Pulau Jawa dan jadi yang kedua di Indonesia setelah Sumatera Barat yang juga punya rel kereta api bergigi antara Kayutanam-Padangpanjang, Padangpanjang-Sawahlunto dan Padangpanjang-Bukitinggi. Cuma rel kereta api bergigi di Sumatera Barat peninggalan Staatspoorwagen (SS).

Salah satu alasan kenapa dibikin rel kereta api bergigi untuk menghemat anggaran pembangunan daripada bikin terowongan. Rel kereta api bergigi antara Jambu-Gemawang punya kemiringan 65 derajat dan cuma bisa dilewatin lokomotif uap B28, itupun harus pindah posisi di Stasiun Jambu supaya lebih optimal.

Lokomotif uap B28 punya roda bergigi sehingga bisa melewati rel kereta api bergigi di koridor Jambu-Gemawang. Roda gergigi menjadikan kinerja lokomotif lebih optimal di kemiringan 65 derajat meski kecepatannya cuma 10 km/jam.

Percabangan ke Temanggung-Parakan.

Kelarnya pembangunan rel kereta api Jogja Semarang via Magelang-Ambarawa membuat pemerintah kolonial Belanda lewat NIS berusaha ngembangin lintasan tersebut supaya bukan sekedar buat kepentingan militer saja.

Tahun 1907 dibangun percabangan ke Temanggung-Parakan dari Stasiun Secang di Magelang. Jalur cabang ini dibagun buat kepentingan ekonomi terutama pengangkutan hasil bumi dan juga angkutan penumpang.

Keberadaan jalur-jalur cabang ini membuktikan bahwa di zaman kolonial Belanda dulu Kereta Api benar-benar jadi tulang punggung (backbone) transportasi nasional. Terlepas dari jalan raya yang belum begitu bagus juga sih, dan kebanyakan masih ngandalin andong di jalan raya. Sementara mobil belum begitu banyak.

Taruna Ekspres dan Borobudur Ekspres.

Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, rel kereta api Jogja Semarang via Ambarawa dan jalur kereta api Secang-Parakan masih beroperasi. Memang Belanda yang masih kepengen berkuasa di Indonesia lagi-lagi ngandalin jalur ini buat kepentingan mereka dalam peperangan melawan para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Selepas Belanda pergi dan mengakui kedaulatan Indonesia tahun 1949, jalur ini diperbaiki dan difungsikan sebagaimana mestinya buat menunjang perekonomian Republik Indonesia yang baru pulih dari perjuangan panjang mempertahankan kemerdekaan.

Tercatat ada 2 rangkaian kereta api lokal unggulan pernah mengisi jalur ini, yakni Kereta Api Borobudur Ekspres dan Kereta Api Taruna Ekspres. Dua kereta api beda kepentingan, yang satu buat pariwisata di Magelang dan sekitar, terutama kawasan Candi Borobudur. Satunya lagi buat ngangkut Taruna Militer yang hendak ke Jogja.

Bencana Alam dan Penutupan Jalur.

Indonesia masuk babak baru di masa pemerintahan Orde Baru, dimana angkutan jalan raya begitu dapat prioritas lebih sementara kereta api di nomor sekiankan. Jargon Repelita andalan rezim Orde Baru ternyata kurang bahkan nggak sama sekali menyentuh kereta api. Makanya jangan heran di masa itu kereta api Indonesia mulai mengalami kemunduran.

Lintasan cabang satu per satu mulai tutup, termasuk diantaranya rel kereta api Jogja Semarang via Ambarawa dan jalur kereta api Secang-Parakan. Suramnya jalur legendaris ini dimulai saat musibah banjir melanda Jembatan Tempuran sehingga memutus jalur antara Kedungjati dan Ambarawa. Praktis Jogja ke Semarang lewat jalur ini terputus.

Nggak ada sama sekali usaha perbaikan dan peningkatan kualitas. Semua seolah dibiarin begitu aja. Pembiaran kualitas yang makin buruk terlihat dari layanan kereta api dari Jogja ke Magelang yang masih aja ngandalin loko uap berkecepatan maksimum 30-40 km/jam dan dilintasan yang semakin menua tanpa ada pemeliharaan yang memadai.

Makanya jangan heran kalo pada akhirnya masyarakat kedua kota beralih ke angkutan jalan raya yang dinilai lebih praktis dan meninggalkan kereta api. Secara rezim Orde Baru memang lebih ngutamain pembangunan jalan raya dan angkutan seperti truk, bus dan angkot.

Puncak dari kesuraman ini terjadi tahun 1975 barengan sama Gunung Merapi meletus. Dampak letusannya menimbulkan banjr lahar dingin di Kali Krasak sampai merusak bangunan jembatan kereta api yang ada disitu.

Musibah itu otomatis menghentikan operasional Kereta Api Borobudur Ekspres dan Kereta Api Taruna Ekspres. Lagi-lagi kerusakan itu seperti dibiarin begitu aja. HIngga akhirnya tahun 1976 rel kereta api Jogja Semarang via Ambarawa sekaligus jalur kereta api Secang Parakan ditutup total.

Tinggal koridor Tuntang-Ambarawa-Bedono yang tersisa dan masih aktif sampai sekarang. Itu juga cuma buat kepentingan pariwisata. Stasiun Ambarawa sebagai stasiun terbesar dijadiin Museum Kereta Api.

Meskipun masih bermanfaat setelah dimuseumkan tetap aja warga Jogja yang mau ke Semarang dan sebaliknya nggak bisa lagi merasakan kereta api. Lebih-lebih orang Magelang dan Temanggung yang sampai sekarang cuma bisa ngerasain sampai Jogja atau Semarang aja, selanjutnya nyambung pake angkutan lain.

Kalopun mau nyepur mesti ke Solo dulu, udah gitu jadwalnya benar-benar nggak ketemu. Cuma ada satu kereta api Kalijaga tok dari Solo Balapan ke Semarang Tawang. Lainnya berangkat dari Solo Jebres, dan KRD Prameks udah nggak berhenti disitu lagi.

Praktis Jogja Semarang sekarang sangat ngandalin travel atau bus yang jadwalnya susah diprediksi. Menyesuaikan sama situasi dan kondisi jalan raya. Iya kalo normal 3 jam bisa nyampe. Gimana kalo macet?

InSyaaAlloh bersambung ke “Upaya Reaktivasi Jalur kereta Api Ambarawa-Kedungjati”. Stay tune on LODAYA BANDUNG. Tulisan ini juga pernah dimuat di Manglayang Tour Official Website yang lama, cuma agak dibedain aja di bahasa sama pembahasan supaya nggak kelihatan copas.

 

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.