Lokomotif si Gombar, Sang Legenda Priangan

Lokomotif si Gombar (DD52) pernah jadi legenda perkeretaapian tanah Priangan. Jadi mallet terakhir yang didatengin Staatspoorwagen (SS), kini jejaknya udah susah ditemuin lagi karena dilebur semua.

Jauh sebelum lokomotif CC206 beroperasi, pernah ada jenis lokomotif uap bertenaga yang sanggup taklukkan jalur ekstrem pegunungan terutama di tanah Pasundan yang sekarang masuk wilayah Daop 2 Bandung. Beberapa ruas disini memang terkenal ekstrem, baik tanjakan atau turunan.

Contoh ruas dari Cicalengka ke Tasikmalaya. Dari Cicalengka sampe Stasiun Nagreg, kereta api akan menanjak karena beda ketinggian dimana Stasiun Nagreg (848 mdpl) sekarang jadi stasiun aktif tertinggi di Indonesia. Sebenarnya sih masih ada Stasiun Cikajang (1246 mdpl), tapi karena non-aktif, status sebagai stasiun tertinggi sementara diambil alih Stasiun Nagreg.

Dari Nagreg ke Cibatu jalurnya turun terus nanjak lagi sampe ke Stasiun Cipeundeuy, dimana semua rangkaian kereta api wajib berhenti disini buat pengecekan rem, sebelum lanjut, ingat nggak PLH Trowek tahun 1995 gara-gara rem blong? Peristiwa itu jadi alasan kenapa sekarang semua kereta wajib berhenti di Cipeundeuy, padahal stasiunnya nggak sebesar Cibatu.

Selain di jalur selatan Priangan Timur, lintasan kereta api ekstrem juga bisa ditemui di Cipatat, bahkan inilah yang sekarang jadi kendala reaktivasi jalur kereta api Bandung-Cianjur dan tertundanya dinas Kereta Api Kiansantang yang udah sangat dinantikan. Selain ada longsor di salah satu petak tentunya.

Untuk lewatin jalur-jalur ekstrem itu, lokomotif yang ada sekarang sebetulnya bisa mengatasi, terbukti di Cicalengka-Tasik semua lokomotif bisa lewat situ, nggak cuma CC206 aja. Tapi belum ada yang bisa menaklukkan Cipatat, dimana CC206 yang bawa idle Kahuripan pernah lewat sana buat nguji jalur Padalarang-Cianjur sebelum terjadi longsor.

Pertama lewat Priangan

Jalur kereta api dari barat ke Timur yang pertama dibangun pemerintah kolonial Belanda memang lewat Priangan, sebelum jalur Cirebon dibuka, awalnya lewat Sukabumi-Cianjur. Tapi karena terlalu jauh dan waktu tempuh perjalanan lebih lama, dibuka jalur baru lewat Cikampek-Purwakarta tahun 1920-an yang sekarang rutin dilewatin Kereta Api Argo Parahyangan.

Sukses bikin jalur utama, pemerintah Kolonial Belanda mulai membuka lintas-lintas cabang, salah satunya jalur kereta api Cibatu-Garut-Cikajang tahun 1926. Tujuannya nggak lain buat mempermudah akses angkutan hasil bumi dan penumpang.

Karena jalurnya cukup ekstrem dan susah dilewatin lokomotif yang ada di zamannya, pemerintah kolonial Belanda lewat perusahaan kereta api nasional, Staatspoorwegen (SS) beli sejumlah lokomotif jenis mallet bertenaga besar yang bisa dinas di jalur ekstrem, termasuk Garut.

Lokomotif mallet pertama yang didatengin tipe BB10 tahun 1899-1908 dari Pabrik Schwartzkopff Jerman. Menyusul lokomotif CC10 seri SS 521 (1904-1909) dari pabrik yang sama dan Hartmaan (Jerman), serta seri SS 551 (1911) dari Werkspoor Belanda.

Nggak cukup itu aja, tahun 1916 Staatspoorwegen beli lagi lokomotif mallet jenis DD50 seri SS1200 kali ini dari Amerika Serikat, ALCO (American Locomotive Company) buat nari kereta api barang. 3 tahun kemudian giliran DD51 seri SS 1209 juga dari ALCO.

Lokomotif si Gombar sendiri baru datang di tahun 1923-1924 atau termasuk angkatan muda dari lokomotif mallet, meski masih ada yang lebih muda lagi yakni CC50 alias Sri Gunung. Lokomotif si Gombar tipenya DD52 seri SS1200 didatengin dari 3 pabrikan berbeda yakni Hanomag (Jerman), Werkspoor (Belanda), dan Hartmaan (Jerman) sebanyak 10 unit.

Awalnya lokomotif uap si Gombar dipake buat narik kereta api barang, tujuannya buat taklukkin jalur Priangan yang terkenal ekstrem dan berbukit. Selain itu, lokomotif si Gombar juga bawa kereta api penumpang dan campuran kereta api barang-penumpang.

Identik sama Garut

Nama si Gombar sebetulnya cuma julukan dari masyarakat Jawa Barat yang dilewatin lokomotif DD52 ini. Lokomotif si Gombar memang dialokasi di Jawa Barat (Daop 2 Bandung) aja, antaralain Dipo Lokomotif Bandung dan Dipo Lokomotif Purwakarta, sempat juga dipindah ke Dipo Lokomotif Cibatu.

Menjelang akhir masa dinasnya, lokomotif si Gombar didinasin buat narik rangkaian kereta api lokal Bandung-Banjar dan kereta api lokal Cibatu-Garut. Kalo kita perhatiin dimana akhir masa tugas sang legenda, berarti jalur kereta api Bandung-Jogja yang sekarang dulunya pernah rutin dilewatin si Gombar meski cuma sampe Stasiun Banjar.

Dan yang pasti jalur kereta api Cibatu-Garut-Cikajang nyaris selalu dilewatin lokomotif si Gombar jenis DD52 ini. gantian sama kakaknya CC50. Masa dinas lokomotif si Gombar berakhir di tahun 1984 seiring ditutupnya jalur kereta api Cibatu-Garut di tahun yang sama karena sarana udah tua, minim perawatan, dan kalah saing sama transportasi jalan raya.

Jalur kereta api Garut-Cikajang malah udah tutup lebih dulu 3 tahun sebelumnya. Kini jejak lokomotif si Gombar tipe DD52 seri SS1200 udah nggak ada lagi karena 2 unit terakhir dilebur semuanya.

Nggak ada jejak yang bisa ditemuin lagi selain foto, dokumentasi, bekas Dipo Lokomotif Purwakarta yang sekarang dipake buat nyimpen bekas rangkaian KRL Ekonomi Jabodetabek, sama relief lokomotif si Gombar di Cibatu yang sekarang turun kelas jadi Sub Dipo Lokomotif Cibatu, satu area sama Stasiun Cibatu.

REFERENCES

Bagus Prayogo, Yoga dkk. 2017. Kereta Api Di Indonesia – Sejarah Lokomotif Uap. Yogyakarta: JB Publisher

Legenda “Si Gombar”: Saat KA Bersahabat Dengan Garut. Pikiran Rakyat. http://www.pikiran-rakyat.com/serial-konten/legenda-%E2%80%9Dsi-gombar%E2%80%9D

Mandiri, Azifa. 2014. Kereta Api Garut Tempoe Doeloe. Blog After Storm Came A Calm. https://azfiamandiri.wordpress.com/2014/01/27/ka-garut-tempoe-doeloe/

 

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: