Advertisements

Lokomotif Kobong antara Plus dan Minus

Lokomotif kobong sering jadi daya tarik tersendiri buat Railfans. Boleh jadi karyanya bisa punya nilai lebih kalo dapet momen seperti ini. Nggak jarang bila dilewatin CC 201 atau 203 nyaris selalu minta. Tapi sebenarnya ada plus minus dibalik momen tersebut.

Di bismania kita kenal istilah om telolet om. Permintaan ke supir bis buat bunyiin klakson bernada unik. Om telolet om pernah jadi fenomena sekitar tahun 2016-2017. Kebanyakan bis-bis AKAP SHD atau HDD yang punya klakson unik tersebut.

Bedanya di Railfans ada om kobong om. Memang nggak sepopuler telolet. Tapi kobong bisa bikin hasil karya kita punya nilai tambah. Mau itu foto atau video. Kobong artinya asap hitam mengebul dari corong lokomotif. Kadang mengeluarkan api. Hingga ada embel-embel kompor meletup.

Lokomotif Kobong Karena Throttle

Kenapa lokomotif bisa sampe kobong atau keluar asap hitam pekat ngebul? Hal ini bisa terjadi karena perpindahan Throttle. Umumnya loko jalan pake Throttle 1, tapi ketika langsung pindah ke 3 atau lebih biasanya keluar asap tebal. Karena mesin bekerja lebih keras dari seharusnya.

lokomotif kobong antara plus dan mnus 1
Contoh lokomotif kobong. Foto: Muhammad Ghaniy.

Hal seperti ini umum terjadi di jalur-jalur extreme. Karena kereta harus menanjak. Throttle 1 jelas nggak cukup. Jadi mau nggak mau harus dinaikin ke 3 atau lebih. Sehingga namanya ngebul disini nggak bisa lagi dihindari.

Namun dalam kasus tertentu ada aja kondisi ngebul pekat di jalur datar. Kenapa bisa terjadi? Perpindahan throttle tadi tentunya. Kalo di datar bisa aja 1 ke 2. Cuma nggak jarang kadang dari 1 langsung ke 3 dan seterusnya. Sehingga kebul nggak bisa dihindari.

Kebul kaya gini juga bisa terjadi dalam kondisi lokomotif melaju kencang. Dalam kasus ini, posisi throttle umumnya di atas 3. Dalam sebagian kasus, loko yang baru berangkat dari stasiun asal pun suka langsung ke throttle 3. Hingga mengeluarkan asap meski tipis.

Keluar asap karena melaju kencang. Foto: Heru Hamzah.

Plus dan Minus

Nggak sedikit Railfans yang sering berburu momen seperti itu. Bahkan nggak jarang pula sengaja minta ke masinis supaya bisa kobong. Seperti sering terjadi di Stasiun Jatinegara (JNG). Nggak diminta pun masinis seolah sengaja bikin kaya gitu. Mungkin sekedar memberi salam.

Sekalipun bisa menambah estetika tetap aja yang namanya kobong punya risiko. Terutama risiko teknis lokomotif itu sendiri. Seringnya pindah throttle dari 1 ke 3 bahkan sampe ke 5 bisa bikin mesin cepat aus. Loko pun lebih berisiko lost power.

Hal negatif lainnya tentu dari segi kesehatan. Kobong biar gimanapun juga adalah gas buang. Mengandung Karbon Monoksida (CO) yang bisa merusak paru-paru. Apalagi kalo kobongnya di tempat seperti Stasiun Jatinegara (JNG) yang sangat ramai aktivitas penumpang.

Maka dari itu ada baiknya apabila kita hunting normal aja. Momen kaya gini sejatinya hanyalah bonus. Buat apa menambah estetika kalo toh di sisi lain juga bermudharat.

Si Raja Kobong

Di Indonesia, terutama Pulau Jawa, rata-rata pake lokomotif CC 201, CC 203 dan CC 206 untuk dinasan kereta barang dan penumpang. Mau berjadwal ataupun KLB. Dari ketiga lokomotif itu CC 201 dan CC 203 adalah yang seringkali kobong. Cuma manakah yang pantas disebut Raja Kobong?

Mungkin sebagian akan bilang CC 203 adalah Raja Kobong. Loko jenis ini memang terkenal bisa lari cepat. Bahkan sebelum kedatangan CC 206 merupakan loko yang biasa bawa dinas kereta unggulan. Meski demikian CC 201 juga nggak jarang kebul. Jadi kalo ditanya manakah Raja Kobong, dua-duanya juga bisa kaya gitu

Kontributor Foto:

Heru Hamzah (@heruhmzh01)
Ipan (@idf05_)
Muhammad Erlangga Sulistyono (@erlanggasulistyono)
Muhammad Ghaniy (@muhamadghaniyrfd2)

Advertisements

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: