Kronologis Tragedi Bintaro 1 versi PJKA

Dari banyak versi yang ada dan berseliweran di dunia maya, inilah release resmi kronologis Tragedi Bintaro 1 tanggal 19 Oktober 1987 yang makan korban tewas 150 penumpang versi PJKA.

Mumpung belum terlalu jauh, masih hangat dan baru jarak sebulan lebih sedikit dari tulisan sebelumnya berjudul “Mengenang 30 Tahun Tragedi Bintaro 1” yang isinya “second from disaster” kecelakaan kereta api terbesar di Indonesia itu gabungan dari berbagai sumber di dunia maya.

kronologis-tragedi-bintaro-1-versi-pjka

Ya harus diakui memang banyak versi yang beredar di dunia maya, pernah juga ditayangin di salah satu TV Swasta dan rekamannya InSyaaAlloh masih ada di YouTube, selama masih diizinin dan nggak kena copyright ya, karena sekarang YouTube mulai ketatin postigan video terutama kalo ada background musik yang ada hak cipta atau copyright-nya.

Termasuk juga soal Tragedi Bintaro 1, selain kronologis-nya juga masih ada postingan film Tragedi Bintaro 1 baik yang cuma potongan pas tabrakan atau full version dan InSyaaAlloh itu juga masih ada. Tapi sekali lagi ya, selama pihak YouTube nggak nyabut semua video itu baik yang versi berita atau film gara-gara copyright (video-nya ada di bawah)

Tragedi Bintaro 1 versi PJKA

Nah nggak sengaja nih mimin ketemu sama artikel bagus judulnya Peristiwa Luar Biasa Hebat Bintaro (Versi PJKA) di Blog Roda Sayap punya sdr. Faisal Ammar. Begitu dibaca kayanya menarik juga dan beda lho sama beragam versi yang berseliweran di dunia maya.

Oke nggak usah panjang lebar, yuk disimak kronologis Tragedi Bintaro 1 versi PJKA dan karena PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) —sekarang PT.KAI— itu nama operator pas kejadian jadi kita anggap aja ini versi resminya dan jadi pegangan ke depan:

Stamformasi Rangkaian:

  • KA 220 Tanah Abang – Merak
    BB 306-16 // KB3-65601 // K3-66501 // K3-66501 // K3-64528 // K3-64541 // K3-64519 // K3-64506
  • KA 225 Rangkasbitung – Jakarta Kota
    BB 306 16 // K3-65626 // K3-65654 // K3-65639 // K3-65604 // K3-65656 // K3-65648 // K3-64611

Urutan Perka (Perjalanan Kereta Api) 19 Oktober 1987

  • 06.25 KA 220 tiba di Stasiun Kebayoran (KBY)
  • 06.35 KA 251 berangkat Stasiun Sudimara (SDM)
  • 06.45 KA 251 tiba Stasiun Kebayoran (KBY)
  • 06.50 KA 220 Berangkat Stasiun Kebayoran (KBY)
  • 06.52 KA 225 berangkat Stasiun Sudimara (SDM) (tanpa perintah)
  • 07.05 KA 220 dan KA 225 tabrakan

Kronologis kejadian:

  1. KA 225 menurut jadwal seharusnya masuk di stasiun Sudimara jam 06.40 dan menunggu bersilang dengan KA 220 yang masuk di stasiun Sudimara jam 06.49.
  2. KA 225 terlambat 5 menit. Pada saat itu, di stasiun Sudimara sudah ada KA 1035 (KA Barang) yang berada di jalur II, maka KA 225 oleh PPKA Sudimara dimasukkan ke jalur III dikarenakan jalur I kondisinya kurang baik dan hanya digunakan untuk langsiran dan menyimpan sarana. Jadi, emplasemen Sudimara dianggap sudah penuh dan tidak dapat menerima persilangan KA. KA 1035 sendiri tidak dapat diberangkatkan karena menunggu disilang KA 220 dan disusul beberapa KA.
  3. Dikarenakan stasiun Sudimara tidak dapat menerima persilangan, maka harus dipindahkan ke stasiun Kebayoran. Untuk memindahkan persilangan tersebut, sesuai peraturan, PPKA Sudimara harus meminta ijin terlebih dahulu kepada stasiun Kebayoran. Bila ijin diberikan, PPKA Sudimara membuat bentuk Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) dan memberikannya kepada masinis dan kondektur KA 225.
  4. Namun kenyataannya PPKA Sudimara telah membuat bentuk PTP dan diserahkan kepada masinis dan kondektur KA 225 tanpa persetujuan PPKA Kebayoran. Penyerahan bentuk PTP tersebut juga menyalahi aturan karena diwakilkan kepada PLKA KA 225. Seharusnya PPKA sendiri yang wajib menyerahkan kepada masinis dan kondektur. Setelah PTP diberikan, PPKA Sudimara menghubungi PPKA Kebayoran untuk meminta ijin memindahkan persilangan. PPKA Kebayoran menjawab: “Gampang, nanti diatur”.
  5. Setelah komunikasi antara PPKA Sudimara dan PPKA Kebayoran, di stasiun Kebayoran terjadi pergantian petugas PPKA dari dinas malam ke dinas pagi. Pada saat serah terima dinasan, PPKA dinas malam memberitahu kepada penggantinya bahwa KA yang belum masuk dari arah Sudimara adalah KA 251, 225, dan 1035. Saat itu KA 251 sudah dalam perjalanan menuju Kebayoran dan bersilang dengan KA 220 yang sudah menunggu di Kebayoran.
  6. Setelah KA 251 masuk Kebayoran, PPKA Kebayoran meminta “aman” ke PPKA Sudimara untuk memberangkatkan KA 220. PPKA Sudimara menjawab: “Tunggu aman saya, saya lagi sibuk”. Semestinya PPKA Sudimara menjawab “Tidak, tunggu” untuk tidak memberikan ijin “aman” kepada stasiun Kebayoran dan mengabarkan bahwa Sudimara masih ada KA yang harus berangkat ke Kebayoran. Kemudian komunikasi kedua PPKA ditutup.
  7. Ternyata PPKA Kebayoran tetap memberangkatkan KA 220 walaupun stasiun Sudimara belum memberikan “aman”. PPKA Kebayoran berasumsi bahwa KA 225 belum masuk Sudimara dan dari kebiasaan bahwa persilangan resmi tetap di Sudimara. Setelah KA 220 berangkat, PPKA Kebayoran mengabarkan kepada PPKA Sudimara bahwa KA 220 telah berangkat dari Kebayoran. Sesuai aturan, KA hanya boleh diberangkatkan setelah stasiun yang dituju KA telah memberikan “aman”.
  8. Mendapat pemberitahuan bahwa KA 220 telah berangkat, PPKA Sudimara menjadi bingung karena PTP terlanjur telah diberikan kepada masinis dan kondektur KA 225. PPKA Sudimara kemudian memutuskan untuk memindahkan KA 225 dari jalur III ke jalur I dengan cara melangsir sampai ujung wesel kemudian mundur ke jalur 1.
  9. Untuk melaksanakan langsiran tersebut, PPKA Sudimara memerintahkan seorang petugas stasiun. Berdasarkan prosedur yang seharusnya, PPKA harus mengisi pada bentuk T.83 atau Laporan Harian Masinis perihal langsiran di stasiun Sudimara dan menjelaskan rencana langsiran secara lisan kepada masinis.
  10. Setelah petugas yang diperintahkan untuk langsir tersebut mengambil bendera merah dan selompret untuk melangsir KA 225, saat ybs berjalan kira-kira 7 meter ke arah KA ternyata KA 225 bergerak sendiri tanpa perintah. Ybs belum membunyikan selompret saat KA 225 mulai bergerak. Ybs menjadi panik dan berlari berusaha menghentikan KA 225 dengan meniup selompret, namun usahanya sia-sia karena KA 225 terus melaju menuju Kebayoran. KP yang berada diluar kereta berlari memasuki kereta dan tidak berusaha menghentikan kereta.
  11. Petugas langsir tersebut kemudian melapor kepada PPKA bahwa KA 225 berangkat tanpa ijin. PPKA Sudimara berusaha menghentikan KA 225 dengan mengayun-ayunkan sinyal masuk dari arah Kebayoran. Dan lagi, usaha ini tidak berhasil dilakukan untuk menghentikan KA 225.
  12. Selanjutnya, PPKA Sudimara berusaha mengejar KA dengan melambai-lambaikan bendera merah, namun usahanya tetap tidak berhasil dan dia kembali ke stasiun dan langsung pingsan.
  13. Tabrakan antara KA 220 dan 225 tak terhindarkan. Data menunjukkan pada saat tabrakan terjadi KA 220 melaju dengan kecepatan 25 km/jam dan KA 225 berkecepatan 36 km/jam. Di lintas tersebut kecepatan maksimum yang diperbolehkan maksimal 60 km/jam.

Nah itu tadi kronologis resmi versi PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) dari dokumen PJKA ditulis ulang sama mas Bima Budi Satria, dari Blog Roda Sayap punya Faishal Ammar.

Dibantah Sama Mbah Slamet

Cuma sayang kronologis resmi diatas ternyata nggak diakui (dibantah) sama Mbah Slamet, masinis KA 225 dari Rangkasbitung ke Jakarta Kota. Menurut beliau, adanya surat PTP (Pemindahan Tempat Persilangan) itu sama aja kaya izin berangkat dari Stasiun Sudimara. Jadi selama KA 225 belum nyampe Stasiun Kebayoran nggak boleh ada satu pun kereta lewat.

Kronologis diatas juga jadi dasar dakwaan dan penahanan Mbah Slamet selama 5 tahun. Keluar dari tahanan, Mbah Slamet harus menghadapi ujian berikutnya yakni dipecat dari Perumka. Karena itu beliau sama sekali nggak dapat uang pensiun. Akhirnya mbah Slamet pulang kampung ke Purworejo dan memilih jadi pedagang asongan di sana.

Hampir setiap ada kecelakaan kereta api, masinis selalu jadi pihak yang paling disalahin, tak terkecuali Mbah Slamet. Kalopun betul beliau dianggap salah karena berangkatin KA 225 tanpa izin, harusnya yang ngasih PTP itu juga salah. Kenapa PTP dibikin nggak koordinasi dulu sama Stasiun Kebayoran?

Intinya sih sama kaya tulisan sebelumnya “Mengenang 30 Tahun Tragedi Bintaro 1” kecelakaan ini terjadi karena miss komunikasi, dalam hal ini poor communication atau komunikasi yang buruk. Termasuk human error iya.

Arsip Video Tragedi Bintaro 1:

A. “Second From Disaster” Tragedi Bintaro 1 versi Film Tragedi Bintaro produksi Safari Film 1989. Potongan scene proses keberangkatan KA 220 dan 225 berikut tabrakannya:

B. Film Tragedi Bintaro, Safari Film 1989, Full Version:

C. Tragedi Bintaro 26 Tahun Silam, Menolak Lupa Metro TV 2013:


REFERENCES: 

Ammar, Faishal. 2017. Peristiwa Luarbiasa Hebat Bintaro (versi PJKA). Blog Roda Sayap. https://rodasayap.blogspot.com/2017/10/peristiwa-luarbiasa-hebat-bintaro-versi.html

5 Fakta Tragis Tragedi Bintaro, dari Nasib Masinis hingga’Kuburan’ Lokomotif Maut. Tribun Travel. http://travel.tribunnews.com/2016/10/19/kilas-balik-19-oktober-5-fakta-tragis-tragedi-bintaro-dari-nasib-masinis-hingga-lokomotif-maut

Getirnya Hidup Mbah Slamet sang Masinis `Tragedi Bintaro I`. Liputan 6.Com. http://news.liputan6.com/read/774904/getirnya-hidup-mbah-slamet-sang-masinis-tragedi-bintaro-i

Leave a Reply

%d bloggers like this: