Kereta Seribu Sebelum Pangandaran

Kereta Seribu Sebelum Pangandaran

Kereta Seribu ternyata udah ada jauh sebelum Pangandaran mulai beroperasi 2 Januari 2019. Cuma bedanya dalam wujud KRL Ekonomi Jabodetabek. Rute Manggarai-Pasar Minggu dulu cuma dibanderol Rp 1.000,00 saja. Bahkan penumpang nakal pun bablas ke Bogor.

Begitulah fenomena yang terjadi di zaman Jahiliyah. Kenapa kita bilang begitu? Nah buat kamu yang lahir tahun 2008 ke atas mungkin akan langsung rasain kondisi perkeretaapian Indonesia kaya sekarang. Aman dan nyaman.

Tahun 2009 tahapan perubahan dimulai seiring masuknya Pak Jonan sebagai Dirut PT. KAI. Hingga kita bisa sama-sama rasakan buah dari perbaikannya sekarang.

Nah, bisa jadi kamu yang lahir sebelum itu setidaknya pernah merasakan apa yang disebut zaman Jahiliyah itu. Zaman dimana stasiun bukanlah tempat yang aman dan nyaman. Siapa aja boleh masuk. Malah nggak jarang dijadiin rumah tunawisma. Udah pasti dong rawan kejahatan.

Dulu pemeriksaan nggak ketat kaya sekarang. Kondisi kereta api pun sama buruknya. Terutama kereta komuter atau angkutan perkotaan. Termasuk KRD dan KRL. Nah dulu harga tiket dibanderol mulai Rp 1.000,00 untuk komuter. Itu aja banyak yang nggak mau beli.

Makanya jangan heran kalo PT. KAI sebelum datang Pak Jonan selalu mengalami kerugian besar. Itu berimbas pada sarana dan prasarana yang ada. Termasuk juga fasilitas stasiun.

Armada Kereta Seribu Buatan 1987 di Stasiun Purwakarta
Armada Kereta Seribu buatan Nippon Sharyo tahun 1987 di Stasiun Purwakarta (PWK)

Kereta Seribu ke Bogor

KRD dulu pernah dibanderol Rp 1.000,00. Termasuk KRD Lokal Bandung Raya tentunya (sekarang KA Lokal Bandung Raya). Tapi untuk kereta seribu yang paling disorot jelas KRL Jabodetabek kelas ekonomi. Armadanya sekarang mulai dirucat satu per satu di Purwakarta.

Kenapa paling disorot? Tujuan kereta ini jelas ke wilayah ibukota Jakarta. Dimana semua media massa berpusat di sana. Karena jadi pusat dari segala aktivitas ekonomi apapun yang terjadi di ibukota pasti bakal dapat sorotan dan lebih cepat viralnya daripada daerah.

Tak terkecuali dalam hal perkeretaapian di sana. Jangan harap dulu ada kereta senyaman MRT Jakarta atau Kereta Bandara. Wong jalurnya aja belum ada dan masih sebatas wacana yang terus muncul dari tahun ke tahun tanpa realisasi. Kasarnya Wacana Forever sampe datang Pakde.

Dulu yang namanya kereta di Jakarta udah kaya pasar berjalan. Segala pedagang, pengamen, pengemis bahkan penjahat dengan segala jenisnya tumpah di situ. Di jam-jam sibuk apalagi. Penumpang luber sampe ke atap kereta.

Nah untuk koridor Manggarai-Pasar Minggu, atau Jakarta Kota/Tanah Abang-Pasar Minggu sebenarnya dibanderol cuma Rp 1.000,00. Itu seharga tiket Kereta Api Pangandaran dan Kereta Api Galunggung di semester 1 tahun 2019.

Cuma anehnya udah dihargain segitu masih banyak aja yang ogah beli tiket. Alasan paling klasik tentu males ngantri, toh jarang diperiksa juga. Atau kalopun beli biasanya dibablasin sampe ke tujuan akhir. Misalnya ke Bogor.

Kalo dipikir secara logis, tiket ke Bogor waktu itu nggak sampe Rp 3.000,00. Cuma Rp 2.500,00 aja naik KRL Ekonomi. Tapi kenapa ya pada malas beli? Malah beli yang Rp 1.000,00 jurusan Pasar Minggu terus dibablasin sampe ke Bogor.

Dulu yang namanya pemeriksaan itu sangat jarang. Bahkan cenderung nggak pernah ada sama sekali. Nah kalo sekalinya ada pemeriksaan, biasanya langsung kasih salam tempel ke kondektur sebesar Rp 1.000,00. Itu udah jadi pemandangan biasa di KRL Jabodetabek.

Tapi itu semua cerita dulu di zaman Jahiliyyah. Sekarang kondisi kereta api udah berubah 180 derajat. Nggak ada lagi yang namanya pasar berjalan. Apalagi salam tempel. Ketauan ada oknum begitu langsung dipecat.

Nah kaitan sama kereta seribu sebelum Pangandaran. Dulu mau beli di loket atau kasih salam tempel tarifnya juga segitu. Cuma buat yang terlanjur beli tiket seribu mau bablas Bogor terus ada pemeriksaan, kasih salam tempel seribu lagi, jadi totalnya Rp 2.000,00.

Lha, kalo gitu mendingan mah beli aja Rp 2.500,00 langsung Bogor daripada harus kasih salam tempel. Bener nggak? Begitulah zaman Jahiliyyah.


Dulu semua tumpah di dalam. Pedagang, Pengamen, Pengemis, hingga Penjahat dengan segala jenisnya. Kereta ibarat pasar berjalan


Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.