Kereta Jepang di Indonesia dari Masa ke Masa

Hampir 99% rangkaian KRL Commuter Line sekarang ini berasal dari negeri matahari terbit, rata-rata bekas setelah sebelumnya pernah dinas di sana. Ternyata keberadaan kereta Jepang di Indonesia udah dari dulu.

Memang sih sebelum kedatangan armada KRL JR 205 yang sekarang begitu dominan di jalur KRL Commuter Line Jabodetabek, bersama JR 203, Tokyo Metro 5000, 6000 dan 7000 series, Tokyo Metro 05, sampe Tokyu 1000, 8000 dan 8500 series, armada perkeretaapian lokal pernah didominasi kereta Jepang.

Rangkaian kereta Jepang di Indonesia sebagai lokalan, termasuk KRL, udah ada dan mulai dinas di tahun 1976 dengan datangnya armada KRL Rheostatik Mild Steel Batch-1 bersama KRD Shinko MCW 301. Keduanya sama-sama berasal dari satu pabrik, Nippon Sharyo.

Kereta Jepang terus berdatangan sampe dekade 1980-an, baik rangkaian kRL Rheostatik Mild Steel, KRL Rheostatik Stainles Steel, hingga KRD Shinko MCW 302. Awalnya rangkaian KRL cuma didinasin di jalur Jakarta-Bogor dan Lingkar Jakarta karena infrastrukturnya udah siap, sementara sisianya pake KRD termasuk di jalur Bekasi, Tangerang dan Jalur Kulon.

Begitu juga di luar ibukota, misalnya Daop 2 Bandung, rangkaian Kereta Jepang pernah mendominasi sampe tahun 1990-an dalam bentuk armada KRD MCW 301 dan KRD MCW 302. Sayangnya karena trouble keberadaan kRD MCW 301 nggak berlangsung lama dan akhirnya diretrofit jadi kereta biasa.

Adapun rangkaian KRD MCW 302 masih terus dinas sebagai Kereta Api Patas Bandung Raya Non-AC sampe tahun 2014. Rangkaian ini pun akhirnya harus pensiun setelah pemberlakuan single operation, Kereta Api Lokal Bandung Raya. Rangkaian lokal yang udah Full AC otomatis meniadakan Patas Bandung Raya AC lebih-lebih Non-AC.

Rangkaian tersebut, yang sebagainnya limpahan dari Daop 1 Jakarta bekas Bumi Geulis, akhirnya dirubah jadi Railclinic 3 dan didinasin di Pulau Sumatra. Saat ini KRD MCW 302 memang masih ada yang dinas, antaralain:

  • Daop 4 Semarang (Kedungsepur),
  • Daop 6 Jogjakarta (KRD Prameks, kadang nge-backup Railbus Batara Kresna di jalur Wonogiri)
  • Daop 8 Surabaya (KRD Surabaya-Sidoarjo a.k.a. Komuter Susi)

Selebihnya udah banyak yang dirubah mulai jadi kereta penolong Jaka Tingkir, Kereta Inspeksi Wijayakusuma, Railone, Railclinic sampe Railclinic+:Library.

Sejarah Panjang

Perkeretaapian Indonesia memang punya sejarah panjang dan udah dimulai dari zaman penjajahan Belanda. Terlepas dari segala kekejaman yang ada waktu itu, pihak Belanda sebetulnya udah ngebangun moda transportasi massal unggulan yakni Kereta Api, berikut sarana dan pra-sarana penunjangnya.

Jalur-jalur yang ada sekarang hampir 98% peninggalan Belanda, kecuali jalur Semarang Tawang-Semarang Poncol dibangun Jepang dan jalur Citayam-Nambo yang dibangun setelah Indonesia Merdeka yakni di zaman pemerintahan Orde Baru.

Selain berhasil bangun infrastruktur, pemerintah kolonial Belanda juga banyak datengin armada lokomotif uap termasuk yang bisa dinas di jalur pegunungan Priangan (sekarang dibawah Daop 2 Bandung). Sampe di tahun 1942 Belanda menyerah tanpa syarat karena kalah perang lawan Jepang, bergantilah rezim kolonial Belanda ke rezim Dai Nippon Jepang.

Perkeretaapian Indonesia sedikit-sedikit mulai mengalami kemuduran di era Dai Nippon, salah satu buktinya penutupan sebagian jalur cabang diantaranya Rancaekek-Tanjungsari (SS) dan Maos-Purwokerto Timur (SDS). Rel di jalur tersebut dibongkar buat dipindahin ke tempat lain dalam rangka kepentingan militer Jepang.

Di zaman ini justru yang ada malah kisah memilukan pembangunan jalur maut atau The Death Railway yakni jalur Muaro-Pekanbaru dan jalur Saketi-Bayah. Sebenarnya masih ada satu lagi yaitu di Thailand (Kachanaburi) dengan jembatan River Kwai-nya. Itu juga relnya banyak diambil dari Pulau Jawa.

Untuk armadanya sendiri, pemerintah militer Jepang masih ngandalin peninggalan Belanda, meski demikian sempat didatengin 2 armada lokomotif asli buatan Jepang yakni C32-01 dan C32-02 yang ditempatin di Dipo Sidotopo Surabaya (Sekarang Daop 8). Lokomotif ini buatan tahun 1932. Nggak jelas pastinya masuk Indonesia, paling antara 1942-1945.

Lokomotif C32 ini boleh jadi armada Kereta Jepang pertama di Indonesia dan jadi satu-satunya di masa penjajahan Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1945, baru di tahun 1960-an PNKA kedatangan Kereta Jepang yakni Lokomotif E-60 buatan Nippon Sharyo, datang barengan sama unit buatan Esslingen Jerman.

Kurang lebih selang 10 tahun kemudian giliran armada KRL Rheostatik dan KRD Shinko datang ke Indonesia, bahkan terus sampe tahun 1987. Di awal millenium baru barulah rangkaian KRL AC Toei 6000 series berdatangan dengan status Hibah dari Kaisar Jepang. Setelah itu berturut-turut armada JR 103 sampe Tokyu 8500 series yang datang di era Divisi Jabodetabek.

Saat PT. KRL Commuter Jabodetabek mulai jadi operator KRL tahun 2009 armada yang mulai berdatangan antaralain Tokyu 8613F dan 8618F di 2009, JR 203, TM 05 dan Tokyo Metro 7000 (2010), Tokyo Metro 6000 (2011), JR 203 dan JR 205 (2013). Dari semua armada itu, JR 205 paling dominan di Jalur KRL Jabodetabek.

Rata-rata rangkaian KRL Commuter Line yang ada sekarang memang bekas dari Jepang, dalam artian sebelumnya pernah dinas di Negeri Matahari Terbit itu. Persentasenya sekitar 99% berasal dari sana, cuma 1% yang bukan (KRL i9000 alias Kfw buatan INKA yang dinas di jalur Jakarta Kota-Kampung Bandan-Tanjung Priok alias Pink Line)

Kalo mau dibikin rincian Kereta Jepang di Indonesia dari masa ke masa , berikut rinciannya:

No Jenis Kereta Tahun Kedatangan Keterangan
1 Lokomotif Uap C32 JNR 01-02 Series 1942-1945 Didatangin Pemerintah Militer Jepang di zaman penjajahan Jepang antara 1942-1945
2 Lokomotif Uap E10-60 1964-1967 Dibeli PNKA barengan sama unit dari Esselingen Jerman
3 KRL Rheostatik Mild Steel Batch-1 1976
4 KRD Shinko / MCW 301 1976
5 Lokomotif BB 305-01 1976 Dibeli dari Nippon Sharyo Jepang punya PT. Semen Indonesia (Sekarang Holcim)
6 KRL Rheostatik Mild Steel Batch-2 1978
7 KRD Shinko / MCW 302 1981-1987
8 KRL Rheostatik Mild Steel Batch-3 1984
9 KRL Rheostatik Stainless Steel Batch-1 1986
10 KRL Rheostatik Stainless Steel Batch-2 1987
11 Toei 6000 Series 2000 Hibah dari Jepang, sebelumnya dinas di jalur Toei Metro
12 JR 103 2004 Ex-JR East
13 Tokyo Metro 5000 2006 Ex-Tokyo Metro Tozai Line
14 Toyu Rapid 1000 2006 Ex-Toyu Rapid Line
15 Tokyu 8000-8500 series 2006-2009 Ex-Tokyu Corporation
16 Tokyo Metro (TM) 05 2010 Ex-Tokyo Metro
17 Tokyo Metro 7000 2010 Ex-Tokyo Metro
18 JR 203 2010 Ex-JR East
19 Tokyo Metro 6000 2011 Ex-Tokyo Metro
20 JR 205 2013 Ex-JR East dan sekarang paling dominan di jalur KRL Commuter Line

Dari tabel di atas, diurut dari sejarahnya Kereta Jepang di Indonesia jumlahnya udah 20 jenis. Itu baru jenis doang belum jumlah armadanya. Untuk armada lokomotif uap CC 32 dan E10-60 memang udah nggak bersisa alias dirucat semuanya. Kalopun jenis E10-60 masih bisa kita liat di Sawahlunto itu buatan Esselingen Jerman.

Cuma dari 20 jenis itu nyelip satu lokomotif diesel BB 305-01 buatan Nippon Sharyo punya PT.Semen Indonesia (sekarang Holcim). Lokomotif diesel ini mulai dinas 1976 dan sekarang udah pensiun.

InSyaaAlloh nanti bakal dijelasin satu per satu, meski sebagian udah sempat dibahas di sini. Next post: Lokomotif C32 JNR 01-02 Series.

References

 

 

 

One thought on “Kereta Jepang di Indonesia dari Masa ke Masa

  1. Pingback: Kereta Jepang di Indonesia (1): Lokomotif Uap C32 JNR C12

Leave a Reply

%d bloggers like this: