Posted on

Kereta Api Pasundan, Penyelamat Pemudik dan Thallabul Ilmi

Dari tahun ke tahun Kereta Api Pasundan nyaris selalu jadi penyelamat para pemudik yang nggak kebagian tiket kereta api Kahuripan dan Kutojaya Selatan. Pernah juga ngaterin pulang thullabul ilmi yang baru kelar ngikutin acara Daurah Bantul.

Inilah rangkaian kereta api ekonomi paling legendaris yang ada di Bandung. Udah beroperasi dari tahun 1960-an mulai pake nama Express Siang Djaja, yang punya keunikan yaitu 2 rangkaian dipecah begitu masuk stasiun Kroya, satu rangkaian ke Jakarta sebagai Kereta Api Djaja, sisanya ke Bandung sebagai Kereta Api Express Siang.

Kereta Api Pasundan masuk Stasiun Cipeundeuy Kabupaten Garut Video kereta api Pasundan dari Stasiun Surabaya Gubeng masuk jalur 2 Stasiun Cipeundeuy Kabupaten Garut buat pengecekan rem sebelum lanjut sampe tujuan akhirnya, Stasiun Kiaracondong Bandung Video diambil waktu Kereta Api Lodaya berhenti di Stasiun kecil itu, tujuannya sama buat ngecek rem karena abis ini bakal main perosotan. Kebetulan begitu bentar lagi kelar pemeriksaan rem, Kereta Api Pasundan masuk di jalur 2 Nggak lama berselang, baru deh Si Macan gunung berangkat ke tujuan akhirnya, Stasiun Solo Balapan Punteun kalo videonya butut, ya buat saya mah lebih baik butut tapi asli karya sendiri, daripada bagus tapi boleh ngebajak punya orang. Diambil masih pake HP ASUS Zenfone 2 KL #pasundan #kapasundan #cipeundeuy #stasiuncipeundeuy #garut

A post shared by Abu Ghifari Al Dagowy (@radityabdg0484) on

Usai era putus-nyambung itu, namanya berubah jadi Badrasurya, cukup tenar di era PNKA, PJKA sampai Perumka. Waktu pake nama Badrasurya malah sempat narik gerbong K2 (bisnis) dan K1 (eksekutif) charteran. Bersama Kereta Api Mutiara Selatan merajai jalur Priangan Timur yang lintasannya ekstrem, didominasi landscape pegunungan dan jurang-jurang dalam.

Keberadaan Badrasurya ini cukup lama lho, mulai akhir 70-an atau PJKA sampe di tahun 1990-an atau era-nya Perumka yang punya ciri khas livery warna dasar biru tua. Di era Millenium begitu Perumka ganti jadi PT. Kereta Api (PT. KA), nama Kereta Api Pasundan mulai dikenal lanjutin kiprah Badrasurya di jalur selatan.

So, Kereta Api Pasundan termasuk yang ngalamin era pergantian logo kereta api, mulai roda bersayap nan legendaris, pentagon biru, huruf Z, sampe logo yang sekarang.

Nyelamatin Pemudik.

Sang Legenda kereta api murah di jalur selatan udah 3 periode lho nyelamatin pemudik supaya bisa tetap mudik naik kereta api dan nggak perlu stress macet-macetan di jalan. Ceritanya gini, biasa lah begitu pemesanan tiket kereta api lebaran dibuka, banyak yang titip minta dibookingin tiket kereta api.

Pastilah mereka pengennya kereta api ekonomi reguler bersubsidi, supaya ngirit gitu, nah ternyata bukan sekedar ekonomi. Mereka juga pengennya yang termurah, tergantung tujuannya. Kalo tujuannya sebelum Stasiun Kutoarjo, pilihan mereka jatuh ke Kereta Api Kutojaya Selatan. Buat yang lewat dari stasiun itu, pastilah bakal ngutamain Kereta Api Kahuripan.

Ok, akhirnya dicobalah buat memenuhi keinginan mereka, bookingin tiket kereta api Kutojaya Selatan sama Kereta Api Kahuripan, dan ternyata ini yang terjadi. Biasalah begitu jam 12 malam teng, situs KAI tiba-tiba susah diakses sekalinya bisa diakses langusng pada FULL termasuk 2 kereta itu.

Karena nggak bisa memenuhi kemauan mereka, terpaksa lah mereka dialihin ke Kereta Api Pasundan yang kebetulan tempat duduknya masih tersedia. Begitu dihubungi ke orang yang mau mudik, ternyata mereka nggak keberatan. Asal tetap bisa naik kereta api. Jadilah kereta api Pasundan penyelamat para pemudik.

Thullahul Ilmi Nyaris Nggak Bisa Pulang

Kisah lainnya terjadi waktu pelaksanaan Dauroh Nasional AsySyariah di Masjid Agung Manunggal Bantul tahun 2016 kemarin. Kegiatan ini memang udah jadi rutinitas dimana tiap tahunnya mesti ngundang ulama dari Timur Tengah buat ngisi acara Dauroh atau juga dikenal Tabligh akbar.

Kebetulan acara yang di Masjid Agung Manunggal ini diadain 2 hari. Jadi sebenarnya lebih mirip pesantren kilat (sanlat) daripada Tabligh Akbar. Cuma pengajarnya aja dari Timur Tengah dan tentunya diterjemahin sama ustadz lokal karena nggak semuanya ngerti Bahasa Arab.

Kereta Api termasuk moda transportasi favorite para Thullabul Ilmi, sebutan lain dari peserta dauroh itu, disamping nyewa bus buat jalan rame-rame atau touring motoran rame-rame. Lagi-lagi pilihan utama jatuh pada kereta api ekonomi reguler bersubsidi.

Singkat cerita, tiket buat baik ke Bandung adanya cuma Kereta Api Pasundan, jadilah rombongan yang jumlahnya 3 orang itu pilih Kereta Api Pasundan meskipun harus ngorbanin sesi terakhir dari acara Dauroh. Iyalah daripada nggak bisa pulang ke Bandung. Mau naik bisnis apalagi eksekutif duit nggak cukup.

Waktu itu kereta api Pasundan berangkat dari Stasiun Lempuyangan jam 2 siang-an, jelas nggak keuber kalo harus ngikutin acara ampe kelar. Jadilah cuma ngikutin yang sesi pertama di hari itu dah itu langsung cabut ke Kota Jogjakarta. Karena kalo nggak gitu ya nggak bakal bisa nguber.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.