Kereta Api Mutiara Selatan, Mulai Menapaki Langkah Jadi “Raja Selatan”

Sempat jadi ekonomi plus, Kereta Api Mutiara Selatan pelan-pelan mulai menapaki langkah jadi “Raja Selatan”. Mulai 13 Maret 2017 kelas eksekutif dibalikin lagi jadi mirip kaya waktu pertama kali beroperasi tahun 1972.

Kereta Api Mutiara Selatan termasuk salah satu kereta api yang punya sejarah panjang. Berkali-kali ganti layanan kelas malah sempat jadi kereta api ekonomi plus pake rangkaian K3 2016 walaupun cuma bertahan 2 minggu. Dulu termasuk kereta api unggulan khususnya di jalur selatan Jawa Barat dan sekarang jadi unggulan lagi malah bisa jadi “Raja Selatan”.

Setahun Setelah Parahyangan

Kereta Api Mutiara Selatan pertama kali dinas pada 17 Agustus 1972. Karena diluncurkan di tanggal kemerdekaan Indonesia, Kereta Api Mutiara Selatan boleh dibilang jadi hadiah ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-27 tahun.

Waktu itu layanan kereta api Mutiara Selatan terdiri dari kelas eksekutif (K1) dan bisnis (K2), melayani rute Bandung ke Surabaya via jalur selatan mulai dari Priangan Timur, Kabupaten Cilacap, Kebumen, Purworejo, Jogja, Klaten, Solo, Madiun, Jombang sampai Surabaya. Termasuk rangkaian kereta api unggulan di zamannya.

Era 1970-an koridor Bandung Surabaya sebenarnya udah ada kereta api ekspres siang yang udah beroperasi dari zaman orde lama. Rangkaian kereta api ini punya keunikan, yakni nyampe di Stasiun Kroya rangkaiannya digabung sama kereta api Djaja dari Jakarta sehingga dari situ namanya jadi Ekspres Siang Djaja. Begitu juga dari Surabaya pas berhenti di Kroya pisah rangkaian satu ke Jakarta via Cirebon, lainnya ke Bandung.

Karena kereta api lainnya punya ritual putus nyambung itulah menjadikan Kereta Api Mutiara Selatan unggulan di dekade 70-an, bersama Kereta Api Bima dan Mutiara Utara yang berangkat dari Jakarta.

Kereta Api Mutiara Selatan diluncurkan 1 tahun setelah Kereta Api Parahyangan di koridor Bandung Jakarta (Priangan Barat) yang mulai beroperasi 31 Juli 1971. Jadi bisa dibilang Kereta Api Mutiara Selatan itu adiknya Parahyangan. Posisinya waktu itu sama-sama unggulan. Bedangan sang abang di Priangan Barat sementara adiknya mengisi Priangan Timur.

Penurunan Layanan Kelas.

Posisi sebagai kereta api unggulan di jalur selatan tetap bertahan setidaknya sampai awal tahun 1990-an dengan formasi eksekutif dan bisnis. Hingga menjelang millenium baru layanan kereta api Mutiara Selatan mulai mengalami penurunan. Tepat di 11 Oktober 1999, kereta api Mutiara Selatan berubah jadi kereta api bisnis (K2) Full.

Mulai beroperasinya Kereta Api Turangga di 2 September 1995 dan Kereta Api Argo Wilis tanggal 8 November 1998 membuat posisi kereta api Mutiara Selatan sebagai unggulan di jalur selatan dan koridor Bandung Surabaya mulai tergeser, apalagi Kereta Api Turangga berubah jadi full eksekutif 11 Oktober 1999.

Nasib yang sama juga dialami sang kakak, Kereta Api Parahyangan, yang posisinya sebagai unggulan di Priangan Barat diambil alih Kereta Api Argo Gede,

Jadi Ekonomi Plus

28 Septembet 2016 jadi babak baru buat kereta api Mutiara Selatan. Seiring mulai diperkenalkan rangkaian gerbong ekonomi K3 2016 pada masa angkutan Lebaran 2016 dan sempat dioperasikan jadi kereta api tambahan. Media begitu gembar gembor gerbong baru ini bakalan lebih bagus daripada kelas bisnis dan nyaingin eksekutif, istilahnya ekonomi rasa eksekutif.

Selepas masa angkutan lebaran 2016 berakhir, PT. Kereta Api Indonesia mulai alokasikan gerbong K3 2016 ke rangkaian kereta api bisnis (K2) full. 3 kereta api dapat alokasi yakni Kereta Api Fajar Utama Jogja, Kereta Api Senja Utama Jogja dan Kereta Api Mutiara Selatan.

Maka jadilah layanan kereta api Mutiara Selatan berubah jadi ekonomi plus pake gerbong K3 2016 yang disebut ekonomi rasa eksekutif. Nggak cuma berubah kelas, rutenya diperpanjang sampai Stasiun Malang.

Ternyata kenyataan memang nggak seindah bayangan. Alih-alih bisa nyaingin kelas eksekutif, gerbong K3 2016 malah banyak diprotes sama pengguna kereta api. Mereka ngeluhin interior K3 2016 terutama jarak antar kursi terlalu sempit dan dianggap nggak cocok buat jarak jauh. Kecuali di baris 11-12 yang agak luas.

Lebih-lebih di Kereta Api Mutiara Selatan yang udah dibablasin ke Malang, banyak yang bilang nggak cocok pake K3 2016. Protes bermunculan, bahkan sampai ada yang bikin petisi di Change.Org minta gerbong kelas bisnis dibalikin lagi.

Akhirnya PT. Kereta Api Indonesia menjawab keluhan pelanggan termasuk petisi tersebut. Tanggal 21 Oktober 2016 layanan kereta api Mutiara Selatan dibalikin jadi kelas bisnis. Sementara gerbong K3 2016-nya dioper ke saudara tuanya yang sekarang udah jadi Kereta Api Argo Parahyangan.

Cuma PT. KAI waktu itu menyebut dibalikinnya kelas bisnis untuk sementara waktu aja karena ke depannya memang semua kelas bisnis bakal diganti ekonomi plus. Kekurangan yang ada di K3 2016 coba dibenahi lagi, terutama jarak antar kursi yang sempit itu.

Kembalinya Kelas Eksekutif.

Masuk 2017 Kereta Api Mutiara Selatan lagi-lagi memulai babak barunya. Layanan kelas bisnis masih ada, malah di tanggal 13 Maret 2017 kelas eksekutif dikembaliin lagi di Kereta Api Mutiara Selatan, sehingga jadi unggulan lagi di jalur selatan.

Malah gerbong eksekutif di kereta api Mutiara Selatan dinilai jauh lebih bagus daripada rangkaian eksekutif lainnya di rute yang sama, dan mulai menyaingi kenyamanan Kereta Api Argo Wilis yang sekarang masih jadi “Raja Selatan”.

Gerbong yang dipake memang bukan K1 2016, malah sejatinya gerbong tua yang udah diretrofit dan jendelanya mirip pesawat. Sepintas mirip sama yang ada di Kereta Api Turangga, tapi bedanya di gerbong punya Kereta Api Mutiara Selatan udah nggak lagi ditemuin ada “tembok ratapan”, julukan railfans buat posisi tempat duduk yang nggak kebagian jendela.

Kini kereta api Mutiara Selatan pelan-pelan mulai menapaki langkah kembali menjadi “Raja Selatan” seperti dulu ketika mulai berdinas. Semoga aja ke depan dapat alokasi gerbong yang lebih baru lagi, gerbong eksekutif yang lebih baru dari K1 2016 dan ekonomi premium yang lebih nyaman dari K3 2016 kalo memang kelas bisnis benar-benar mau dihapus.

One thought on “Kereta Api Mutiara Selatan, Mulai Menapaki Langkah Jadi “Raja Selatan”

  1. Pingback: Kereta Api Malabar, Pelopor Layanan Multikelas

Leave a Reply

%d bloggers like this: