Kereta Api Lokal Bandung Raya: Kereta Biasa Rasa KRD

Meski udah nggak lagi pake rangkaian KRD, orang masih aja nyebut Kereta Api Lokal Bandung Raya sebagai KRD Lokal Bandung Raya. Boleh jadi karena mindset KRD yang identik sama lokalan.

Udah lama Kereta Api Lokal Bandung Raya nggak lagi pake rangkaian KRD. Malah yang regulernya (bukan patas) lebih dulu ningalin rangkaian KRD sementara patas-nya masih ada yang pake untuk armada Patas Non-AC. Tapi setelah tahun 2014 nyaris udah nggak lagi ditemuin ada rangkaian KRD wara-wiri di jalur Padalarang-Cicalengka.

Dari MCW sampai KRDE ex-Holec

Kereta Api Lokal Bandung Raya awalnya memang pake rangkaian Kereta Rel Diesel (KRD) / Diesel Multiple Unit (DMU). Terutama di tahun 1976 saat kedatangan armada KRD/DMU jenis MCW 301 buatan Nippon Sharyo Jepang yang seangkatan sama KRL Rheostatik Batch-1

Tahun itu pemerintah memang lagi meremajakan armada Kereta Api. KRL Rheostatik Batch-1 diatangin buat ganti lokomotif listrik BonBon peninggalan Belanda. Kedatangannya bareng sama armada KRD MCW 301. Sedianya rangkaian KRD itu bakal dioperasikan di jalur Jakarta Bandung dan Jakarta Cirebon.

Sayang untuk Jakarta Bandung nggak berhasil karena jalurnya didominasi pegunungan, tanjakan dan turunan, sehingga nggak cocok buat rangkaian KRD. Karena kalo dipaksain disitu maka rangkaian kereta nggak akan awet dan cepat rusak. Jadinya cuma Jakarta Cirebon aja yang pake KRD, waktu itu dinamain Gunung Jati, sebelum Cirebon Ekspres tahun 1989.

Armada KRD Jepang ini terus mendominasi koridor Bandung Raya hingga tahun 1990-an, MCW 301 beroperasi sampai akhir 1970-an dilanjutkan MCW 302 di tahun 1980 hingga 1990-an. Rangkaian kereta api konvensional baru dipake di periode Millenium. Kebanyakan merupakan modifikasi dari MCW 301 yang dijadiin kereta biasa tapi tetap pertahankan ciri 4 pintunya.

Tahun 2005, PT. INKA Madiun memodifikasi beberapa rangkaian KRL BN Hoilec yang udah nggak bisa lagi jalan sebagai KRL Jadi KRDE (Kereta Rel Diesel Electric). Di 2006, rangkaian KRDE pertama meluncur buat dinasan KRD Prameks di koridor padat Jogja-Solo.

Daop 2 Bandung sendiri kebagian alokasi KRDE ex Holec tahun 2009 lalu didinasin sebagai rangkaian KRD Baraya Geulis dan KRD Rencang Geulis yang statusnya waktu itu KRD Patas atau setara ekspres karena cuma berhenti di beberapa stasiun.

KRD Baraya Geulis dan KRD Rencang Geulis menemani satu rangkaian KRD MCW 302 yang juga jadi KRD Patas kelas Bisnis (KD2). Sementara untuk rangkaian Kereta Api Lokal Bandung Raya udah pake konvensional dimana mayoritas rangkaiannya ex KRD MCW 301 yang udah purnatugas di tahun 1979.

Single Operation dan Akhir Rangkaian KRD.

Rangkaian KRD masih beroperasi di koridor Padalarang-Cicalengka sampai tahun 2014. Meski waktu itu udah ada Kereta Api Patas AC Bandung Raya pake rangkaian gerbong K3 yang udah dilengkapi AC Split.

Nggak lama setelah Gapeka 2014 berlaku, PT. KAI Daop 2 Bandung ngambil kebijakan single operation yang meniadakan KRD Patas Non AC dan Patas AC, serta cuma mengoperasikan rangkaian Kereta Api Lokal Bandung Raya yang juga udah pake AC.

Berlakunya single operation jadi akhir operasional rangkaian KRD di koridor Padalarang-Cicalengka. Sejak saat itu, baik KRD Hydraulic jenis MCW 302 maupun KRDE ex-Hollec semuanya berhenti beroperasi alias dikandangin di Dipo Lokomotif Bandung.

Nggak jelas gimana nasib rangkaian KRDE ex-Hollec setelah purnatugas di Daop 2 Bandung. KRD MCW 302 yang sebagian rangkaiannya pernah dinas sebagai KRD Prameks dan KRD Bumi Geulis di Daop 1 (Bogor-Sukabumi) masih lebih mujur. Dikonversi jadi Railclinic 2 dan sekarang dinas di Sumatera.

Tetap Disebut KRD

Meski udah pake rangkaian kereta konvensional, gerbong ekonomi 106 penumpang dan beberapa gerbong ex-MCW 301, tetap aja Kereta Api Lokal Bandung Raya disebut KRD sama sebagian orang.

Nampaknya image sebagai KRD Lokalan nggak segampang itu bisa dihilangin. Apalagi kalo dulunya memang pake armada KRD. Sedikit info, di tahun 1990-an atau eranya Perumka, sebagian rangkaian KRD udah ditarik lokomotif, walaupun sebagian masih jalan sebagai KRD tanpa lokomotif.

Intinya mau pake KRD atau kereta biasa, Kereta Api Lokal Bandung Raya tetap punya peran penting buat Baraya Commuters. Terutama mereka yang tinggal di bagian barat (Padalarang) dan timur (Cicalengka) tapi aktivitasnya di Kota Bandung.

Satu keunggulan mutlak yang nggak dipunyai sama angkutan jalan raya ialah Kereta Api Lokal Bandung Raya bebas dari macet. Walaupun kadang-kadang juga harus disilang sama KAJJ di jalur yang masih single track. Memang sih KAJJ Jawa di Daop 2 lebih banyak pagi sama sore. Siang paling Kereta Api Serayu aja.

 

4 thoughts on “Kereta Api Lokal Bandung Raya: Kereta Biasa Rasa KRD

  1. Pingback: Kendala E-Ticketing: Kereta Api Patas dan Lokal Cibatuan

  2. Kristanto Y

    informasi yang sungguh berguna, tapi saya masih bingung, kalo KRD kan berdasarkan propulsi nya menggunakan Mesin Diesel, baik Elektrik maupun Hidrolik, nah menurut artikel ini semua KRD sudah diganti dengan rangkaian kereta konvensional, jadi Kereta Api nya menggunakan Lokomotif, dan apa perbedaannya dengan rangkaian KRD? dan Lokomotif yang digunakan pada Kereta Api Lokal Bandung merupakan jenis apa, apakah dengan Mesin Uap, atau tetap Diesel Elektrik atau Diesel Hidrolik? Mohon pencerahannya..Thx

    1. rm.aboeghifary Post author

      Dulu memang iya pake KRD tipe Shinko MCW 301 sm MCW 302 tp seiring waktu krn masalah suku cadang MCW 301 dimodifikasi jd kereta biasa (no rangkaian K3 0 76 XXX), sementara MCW 302 msh ada yang dinas terakhir sbg patas non AC dan akhirnya di stop juga setelah ada single operation. Jd aja sekarang pk kereta biasa semuanya, ky Kaligung di Daop 4.

      Beda kereta biasa sm KRD dr penariknya, kereta biasa butuh lokomotif buat penarik sementara KRD gk butuh penarik. Dr tipe aja kan udh beda, KRD itu Diesel Multiple Unit jadi unit kereta berpenggerak mesin diesel.

      Lokomotif penarik Lokal Bandung Raya tipe diesel electric CC 201 dan CC 203, kadang CC 206. Lokomotif uap sekarang ada di Ambarawa, Solo dan Sawahlunto buat KA Wisata. Lokomotif Diesel Hidrolik kalopun msh ada sebatas buat langsiran.

      1. Kristanto Y

        Terima Kasih atas penjelasannya,,
        Jadi kalo gitu dengan sebutan KRD pun sebenernya masih cocok ya..kan Lokomotifnya masih pake tenaga Diesel, mungkin biar praktis aja ya disebutnya.
        ato mungkin ke depannya bisa disebut Kereta Komuter Bandung Raya saja..tidak bergantung pada jenis keretanya..

        Salam

Leave a Reply

%d bloggers like this: