Posted on

Kereta Api Lodaya Korban Argo Parahyangan (Gopar)?

Imbas tol Cikampek dan Cipularang macet okupasi Kereta Api Argo Parahyangan naik. Setiap harinya nyaris tak ada kursi kosong. Meski keretanya nggak dipake, Kereta Api Lodaya tetap bisa disebut korban titisan Sang Legenda, sejak kereta api Bandung-Jakarta jadi pilihan utama, sang macan pindah dipo hingga akhirnya mutasi ke Daop 6 Yogyakarta. 

Inilah kenyataan yang harus dialami oleh Kereta Api Lodaya, harus tersingkir ke Daop 6 Yogyakarta gara-gara Kereta Api Argo Parahyangan. Kita tak menyangkal fakta bahwa pindahnya Kereta Api Lodaya ke Dipo Solo Balapan (SLO) hingga mutasi ke Daop 6 Yogyakarta setelah okupasi Kereta Api Argo Parahyangan mengalami kenaikan dan frekuensi perjalanannya bertambah, gara-gara Jalan Tol Cikampek dan Cipularang sering macet.

Semula 12 Trip Kereta Api Argo Parahyangan

Kereta Api Argo Parahyangan pertama kali dinas 27 April 2010, tepat sehari setelah Kereta Api Parahyangan pensiun. Inilah kereta api argo pertama yang keretanya campuran eksekutif argo dan bisnis (K2), hasil kawin antara Parahyangan dan Argo gede. Semula ada 12 Trip Kereta Api Argo Parahyangan dengan rincian 6 trip nomor ganjil dari Bandung ke Gambir dan 6 trip genap dari Gambir ke Bandung.

Tapi karena Jalan Tol Cikampek kerap dilanda kemacetan ditambah lagi banyak proyek kaya elevated toll, LRT dan Kereta Cepat Jakarta Bandung, kemacetannya semakin parah dan nggak kenal waktu. Karena itulah kereta api Argo Parahyangan kembali dilirik buat alternatif Bandung-Jakarta.

12 Trip Kereta Api Argo Parahyangan ditambah 2 trip KA 33 dan 34 idle Turangga yang akhirnya jadi Kereta Api Argo Parahyangan reguler, belakangan diikuti KA 31 dan 32 idle Harina, yang juga udah ganti trainset jadi Stainless Steel campuran eksekutif dan ekonomi seperti Kereta Api Lodaya. Itu juga masih ditambah Kereta Api Argo Parahyangan Premium. Semua kereta tersebut dioperasikan Daop 2 Bandung.

Kereta Api Lodaya Terdampak Harus Mutasi ke Daop 6 Yogyakarta

Tanpa disadari ternyata Kereta Api Argo Parahyangan banyak makan korban. Demi optimalisasi rangkaian yang ada, sejumlah kereta idle pun dikerahkan. Misalnya idle Kereta Api Turangga untuk KA 33 dan 34, idle Kereta Api Harina untuk KA 31 dan 32. Nggak ketinggalan dari Daop 1 Jakarta ikut menggerakkan kereta idle-nya kaya Kereta Api Sembrani dan Kereta Api Senja Utama Solo.

Itu belum ditambah Kereta Api Argo Parahyangan Premium dibawah Daop 2 Bandung dan 2 Kereta Api Argo Parahyangan Tambahan lainnya yang dioperasikan Daop 1 Jakarta, PLB si pelopor stainless dan ex-Kereta Api Argo Wilis. Banyaknya perjalanan kereta api Argo Parahyangan jelas bikin Stasiun Bandung berikut Dipo Kereta Api Bandung jadi penuh kereta. Meski secara finansial jelas pendapatan Daop 2 Bandung bertambah.

Namun disisi lain ternyata harus ada kereta api jarak jauh yang dikorbankan. Bukan ikut didinasin sebagai Argo Parahyangan Tambahan, tapi dimutasi ke Dipo dan Daop lain. Sialnya, Kereta Api Lodaya harus terima nasib pindah kandang ke Dipo Solo Balapan (SLO) dan tak lama kemudian ke Daop 6 Yogyakarta.

Apakah gara-gara Gopar, Kereta Api Lodaya harus pindah ke Daop 6 Yogyakarta atau bukan memang belum begitu jelas, tapi kita nggak bisa mengabaikan fakta bahwa pindanya kereta api Lodaya mulai dari keretanya ke Dipo Solo Balapan (SLO) hingga operasional dibawah Daop 6 Yogyakarta itu terjadi setelah penambahan perjalanan Kereta Api Argo Parahyangan rute Bandung-Jakarta yang menyebabkan padatnya Dipo dan Stasiun Bandung.

Maka dari itu Kereta Api Lodaya boleh dibilang salah satu korban dari Argo Parahyangan (Gopar). Bukan dipake keretanya tapi harus pindah ke Solo Balapan (SLO) dan Daop 6 Yogyakarta.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.