Kereta Api Jogja Semarang: Bagusnya Semi Ekspres dan KAJJ

Ditutup karena sepi peminat tapi belakangan malah kaya dikangenin. Begitulah kereta api Jogja Semarang. Sebenarnya sih potensial cuma konsepnya aja yang harus tepat, selain tarif tentunya.

Terakhir kali kereta api Jogja Semarang beroperasi 24 Juni 2013 yakni KRD Banyubiru. Kereta Api yang pake rangkaian KRDI buatan PT.INKA itu berhenti beroperasi karena okupasinya minim ditambah harga tiket Rp 24.000,00 waktu itu dinilai kemahalan. Padahal keretanya pake KRD, bukan kereta biasa yang ditarik lokomotif.

Berbagai upaya penyelamatan pernah dilakukan PT. KAI seperti merubah rutenya dari semula lewat Brumbung jadi via Ngrombo. Tujuannya buat narik penumpang dari Cepu. Nyatanya usaha ini juga gagal sehingga satu-satunya jalan ya harus pensiun dini daripada merugi.

Maka sejak saat itulah masyarakat Jogja yang mau ke Semarang atau sebaliknya nggak bisa lagi menikmati kereta api. Meski 7 bulan kemudian ada Kereta Api Kalijaga rute Semarang-Solo tapi jadwalnya nggak begitu bersahabat buat warga Jogja. Kereta Api Kalijaga berangkat jam 5 pagi sementara KRD Prameks pertama dari Tugu jam 5.30. Jelas nggak bisa nguber.

Dikangenin Lagi.

Kini setelah 4 tahun berlalu orang udah mulai kangen sama kereta api Jogja Semarang via Solo (Joglosemar). Pengennya bisa nyepur lagi tanpa gonta-ganti kereta. Selain via Solo, nyepur dari Jogja ke Semarang sebenarnya bisa via Purwokerto karena ada Kereta Api Kamandaka rute Purwokerto-Semarang PP.

Cuma masalahnya kalo ngambil alternatif via Purwokerto itu sama kaya muterin Pulau Jawa. Pengennya dekat yang ada malah makin ngejauh. Waktu tempuhnya jadi lebih lama, karena dari Jogja ke Purwokerto naik Kereta Api Joglokerto aja udah 3 jam, ditambah Kamandaka ke Semarang 4 jam total jadi 7 jam.

Nggak adanya kereta api langsung bikin masyarakat yang pengen traveling Jogja-Semarang jadi terbatas alternatifnya. Cuma ngandelin angkutan jalan raya kaya Travel. Dalam kondisi normal mungkin nyampe sih 3 jam, apalagi sekarang sebagain udah ada jalan tol, masalahnya kalo musim liburan bisa-bisa kejebak macet.

Tol sendiri bukan diset buat jangka panjang. Kita bisa ngambil contoh Jalan Tol Cipularang, waktu awal-awal dibuka Bandung Jakarta bisa 2 jam 30 menit malah bisa kurang dari itu. Sampe-sampe Kereta Api Parahyangan harus menyudahi masa dinasnya di tahun 2010 karena penumpangnya pindah ke angkutan jalan raya.

Tapi karena kendaraan bermotor terus tumbuh sementara panjang ruas jalan nggak juga nambah, segitu-gitunya aja, macet nggak bisa dihindari. Tol Cipularang sekarang udah over capacity. Alih-alih 2 jam nyampe, yang ada sekarang Bandung Jakarta doang bisa 5 jam! Jadi aja kereta api Argo Parahyangan sama Serayu kebanjiran peminat.

Nah belajar dari Tol Cipularang, rasanya usulan dari Kereta Api Kita yang bikin semacam penjajakan buat Kereta Api Jogja Semarang harus kita dukung buat direalisasikan. Karena kereta api itu punya banyak kelebihan, diantaranya bebas macet dan bisa ngangkut lebih banyak penumpang ketimbang angkutan jalan raya kaya travel.

Bagusnya Kereta Api Biasa, Semi Ekspres dan KAJJ

Sebenarnya kejadian Kereta Api Pandanwangi sama Kereta Api Banyubiru berhenti beroperasi nggak perlu terjadi, asalkan ada konsep yang jelas dari kereta api yang melayani rute Joglosemar (Jogja Solo Semarang). Kalo konsepnya lokalan yang harus berhenti di tiap stasiun bisa jadi kurang cocok karena waktu tempuh jadi lebih lama.

Jangan heran kalo masyarakat jadi enggan nyepur karena kelamaan dan lebih milih bus atau travel, sekalipun tarif kereta api-nya murah. Begitu juga penetapan tarif harus sebanding sama kelas kereta apinya. KRDI Banyubiru tarifnya Rp 24.000,00 padahal statusnya waktu itu lokalan atau commuter.

Walaupun rutenya dirubah ke Ngrombo, tujuannya buat ngambil penumpang dari Cepu, itu juga nggak berhasil. Kali ini bukan cuma soal tarif tapi juga waktu tempuh jadi lebih lama. Memang Jogja-Solo yang waktu tempuhnya setara Bandung-Jakarta nggak ideal pake KRD, lebih cocok pake kereta api biasa. KRD diset buat perjalanan maksimum 1 jam 30 menit.

Oke, kereta api biasa, sekarang gimana konsepnya supaya bisa menarik minat penumpang? Bukan sebatas kita-kita aja lho yang kangen ada sepur Joglosemar? Konsep Kereta Api Joglokerto mungkin bisa diterapkan.

Ya, Kereta Api Joglokerto yang melayani rute Purwokerto-Solo Balapan PP nggak berhenti di setiap stasiun yang dilewatin. Kereta Api Joglokerto cuma berhenti di Stasiun Kroya, Stasiun Sumpiuh, Stasiun Gombong, Stasiun Kebumen, Stasiun Kutoarjo, Stasiun Jenar, Stasiun Wates, Stasiun Tugu Jogjakarta, Stasiun Lempuyangan, dan Stasiun Klaten.

Itu artinya status Kereta Api Joglokerto semi ekspres, atau malah ekspres kali ya. Makanya konsep Joglokerto bisa dipake di rute Jogja-Semarang via Solo. Dengan catatan dari Jogja cuma berhenti di Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, Stasiun Klaten, Stasiun Purwosari, Stasiun Solo Balapan, Stasiun Gundih, Stasiun Kedungjati, Stasiun Brumbung, Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol.

Yang disebut tadi semuanya stasiun utama, jadi nggak berhenti di setiap stasiun layaknya KRD. Kereta Api Jogja Semarang dengan konsep Semi Ekspres/Ekspres ini statusnya harus KAJJ (Kereta Api Jarak Jauh), bukan lokalan atau commuter, jadi disitu harus ada fasilitas restorasi.

Ada restorasi dan toilet di setiap gerbong inilah yang bedain sama angkutan jalan raya. Karena semua udah tersedia di kereta api, kita yang butuh makan, minum atau sekedar jajanan ringan tinggal ke restorasi aja atau minta bantuan prami. Begitu juga yang mau ke toilet udah ada di setiap gerbong.

Nah, kalo konsepnya seperti ini, InSyaaAlloh Kereta Api Jogja Semarang nggak bakalan gatot alias gagal total lagi dan nggak akan senasib sama 2 pendahulunya: Kereta Api Banyubiru dan Kereta Api Pandanwangi.

Leave a Reply

%d bloggers like this: