Posted on

Kereta Api Bogor Bandung (2): Bukan Cerita Baru

Ritual ganti kereta di Stasiun Bogor ternnyata bukan cerita baru. Dulu di zaman kolonial juga pernah terjadi karena jalur kereta api Bogor Bandung dikelola Staat Spoorwagen (SS), sementara yang ke Batavia punya NIS.

Sekarang dari Jakarta ke Sukabumi memang nggak bisa langsung. Kita harus ganti kereta dulu di Stasiun Bogor, itu juga dari Stasiun Bogor mesti jalan kaki lagi ke arah selatan Taman Topi Square, yakni Stasiun Bogor Paledang, buat naik Kereta Api Pangrango. Sebelumnya di zaman KRD Ekonomi dan Bumi Geulis juga nyaris serupa cuma bedanya masih di Stasiun Bogor.

Kenapa naiknya nggak di Stasiun Bogor? Rupanya stasiun terbesar di kota hujan itu memang dikhususin buat aktivitas naik turun penumpang KRL Commuter Line. Pintunya juga udah berubah, bukan yang dulu lagi. Sekarang penumpang KRL keluar masuk di gedung baru sebelah barat, adapun gedung lama ditetapin sebagai Bangunan Cagar Budaya.

kereta-api-bogor-bandung-2-hall-stasiun-bogor-dd

Hall Utama yang dulu buat jualan tiket dan aktivitas penumpang sekarang dikosongin dan dipake hanya kalo ada event aja. Satu sisi memang kelihatan lebih rapi daripada dulu yang semrawut abis. Meski Stasiun Bogor udah banyak berbenah, penumpang yang mau lanjut Kereta Api Pangrango nggak bisa langsung naik dari situ, harus nyeberang dulu ke Bogor Paledang.

Kalopun Kereta Api Pangrango bablas ke Stasiun Bogor itu bukan buat naik turun penumpang melainkan cuma sebatas aktivitas langsiran pindah posisi lokomotif. Mengingat Stasiun Bogor Paledang cuma punya satu jalur dan nggak mungkin dipake langsiran. Jadi mau nggak mau tetap harus di Stasiun Bogor.

Bukan Cerita Baru

Ternyata ritual ganti kereta di Stasiun Bogor zaman masih pake KRD Ekonomi dan KRD Bumi Geulis, sama jalan kaki ke Stasiun Bogor Paledang buat naik Kereta Api Pangrango, bukan cerita baru. Ritual ini pernah ada di zaman kolonial Belanda, waktu jalur kereta api Batavia-Priangan mulai beroperasi tahun 1884.

Kenapa mesti pindah-pindah kereta api di Stasiun Bogor (dulu Buitenzorg)? Jalur kereta api Bogor Bandung via Sukabumi dikelola sama perusahaan kereta api nasional Hindia Belanda yang dikenal sebagai Staat Spoorwagen (SS). Adapun jalur Bogor ke Batavia udah lebih dulu dibangun dan dikelola sama NIS, perusahaan kereta api swasta Belanda.

Karena dianggap kurang menguntungkan, pemerintah Belanda berencana ambil alih jalur ke Batavia yang dikelola sama NIS. Hasil bumi yang didapetin dari tanah Priangan jadi bisa langsung diangkut ke Batavia, dan yang mau diekspor diangkut langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok.

Seluruh jaringan kereta api penghubung Batavia dan Priangan baru bisa diambil alih sama pemerintah sepenuhnya di tahun 1910 dimana pemerintah ngeluarin uang sebesar 10,6 juta Gulden buat take over jalur Batavia-Buitenzorg. Staat Spoorwagen (SS) juga punya kepentingan buat membenahi jaringan kereta api yang ada di Batavia.

Di saat yang sama pemasukan dari NIS sendiri semakin minim bahkan merugi, karena ada saingan jalur kereta api Batavia-Bandung via Purwakarta 106.166,08 meter lebih pendek daripada jalur Batavia-Buitenzorg(Bogor)-Bandung sejauh 241.870 meter.

Bisa Menguntungkan buat Bogor

Saat ini lagi ada wacana buat nyambung lagi jalur kereta api Bogor-Bandung yang terputus di Cianjur, karena segmen Cianjur-Padalarang sekarang masih non aktif dan ada beberapa kendala teknis yang menghambat reaktivasi jalur bersejarah itu agar bisa beroperasi penuh. Sepintas memang lebih jauh tapi kalo untuk Bogor sih InSyaaAlloh bisa menguntungkan. Kenapa?

Warga Bogor yang mau ke Bandung udah nggak perlu lagi ke Jakarta dulu naik KRL Commuter Line dan repot nyocokin jadwal KRL sama Kereta Api Argo Parahyangan atau Kereta Api Serayu. Itu juga nggak bisa naik langsung dari Stasiun Gambir dan Stasiun Pasar Senen.

Kalo mau naik dari Stasiun Gambir (Kereta Api Argo Parahyangan), mesti turun di Stasiun Gondangdia atau Stasiun Juanda terus jalan kaki ke Stasiun Gambir atau naik moda transportasi lain. Begitu juga dari Bogor ke Stasun Pasar Senen naik KRL Yellow Line jurusan Jatinegara itu nggak berhenti di Stasiun Pasar Senen.

Penumpang mesti turun di Stasiun Gang Sentiong dulu pindah jalur dan naik lagi KRL arah Kampung Bandan yang berhenti di Stasiun Pasar Senen. Repot kan? Apalagi kalo kamu bawa barang lumayan banyak. Di KRL juga belum tentu dapat tempat duduk.

Kalo ada kereta api Bogor-Bandung yang langsung meski lewat Sukabumi-Cianjur itu bisa lebih efisien tanpa harus pindah-pindah moda transportasi. Sekalipun nantinya mesti 2x estafet di Stasiun Sukabumi (ganti Kereta Api Siliwangi) dan Stasiun Cianjur (pindah ke Kereta Api jurusan Bandung) nggak serepot kalo harus jalan kaki dari Gondangdia/Juanda ke Staisun Gambir.

Pemerintah pusat sendiri sangat mendukung konektivitas kereta api Bogor Bandung, apalagi di petak Bogor-Sukabumi mulai dibangun double track yang dimulai dari Cigombong. Ya kita tunggu aja semoga cepat terealisasi, supaya kamu yang dari Bogor nggak perlu repot, begitu juga kita dari Bandung bisa langsung ke Bogor.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *