Kereta Api Argo Parahyangan: Titisan Legenda dan Campuran Pertama

Meneruskan kiprah sang legenda, Kereta Api Argo Parahyangan jadi yang pertama operasikan rangkaian campuran. Awalnya eksekutif argo-bisnis kini jadi eksekutif argo-ekonomi plus. Peminatnya semakin tinggi seiring mulai macetnya tol Cikampek dan Cipularang.

Ngomongin rangkaian kereta api yang satu ini pasti kita akan selalu keinget sama pendahulunya, Kereta Api Parahyangan, legenda di koridor Bandung Jakarta atau Priangan Barat. Kereta Api yang dulunya bernama De Vlugge Vier ini pernah berjaya di tahun 1980-an hingga awal 1990-an. Malah pernah sekali waktu narik 14 gerbong, jauh sebelum duo Kertajaya-Tawang Jaya sekarang.

Sayang masa-masa indah itu mulai memudar di tahun 1995 seiring beroperasiya Kereta Api Argo Gede yang waktu itu diklaim lebih cepat dari sang Legenda. Puncak keterpurukan Kereta Api Parahyangan terjadi ketika Tol Cipularang dibuka tahun 2004.

Sejak itu penumpangnya mulai beralih ke moda transportasi travel yang dinilai lebih efisien dari segi waktu. Segala upaya penyelamatan semisal penurunan tarif gede-gedean diupayakan PT. Kereta Api Indonesia. Sayang semua tak membuahkan hasil sehingga sang Legenda harus mengakhiri masa tugasnya tepat 26 April 2010.

Kereta Api Argo Parahyangan: Campuran Pertama

27 April 2010, PT. Kereta Api Indonesia menggabungkan Kereta Api Argo Gede dan Kereta Api Parahyangan, hingga lahirlah Kereta Api Argo Parahyangan, sekaligus meneruskan kiprah sang legenda yang purnatugas sehari sebelumya.

Kereta Api Argo Parahyangan jadi rangkaian kereta api argo pertama yang kelasnya campuran antara eksekutif argo dan bisnis. Terbilang anti-mainstream memang, karena biasanya kereta api argo identik sama eksekutif elite yang kelasnya lebih tinggi diatas eksekutif biasa (satwa).

Nama Argo Parahyangan dipilih setelah PT. KAI ngadain semacam Focus Group Discussion (FGD) sama para pelanggannya. Awalnya, setelah Kereta Api Parahyangan dipensiunkan, PT. KAI rencananya cuma mau operasiin satu rangkaian aja di koridor Bandung Jakarta, yakni Kereta Api Argo Gede.

Salah satu alasannya, karena okupasi kereta api Argo Gede waktu itu lebih baik daripada Kereta Api Parahyangan, walaupun dari segi tarif lebih mahal. Makanya daripada kekeuh jalanin 2 rangkaian, mendingan 1 rangkaian aja yang udah jelas okupasinya bagus di jalur yang waktu itu bersaing ketat sama moda bus travel.

Rencana itu ternyata dapat reaksi agak mengecewakan dari pelanggannya, mengingat mereka udah nggak bisa lagi nikmati layanan kereta api murah Bandung-Jakarta. Demi mengakomodasi para penumpang yang nggak mau kehilangan kelas bisnis, PT.KAI berencana nambah 1-2 gerbong kelas bisnis di kereta api Argo Gede dan menyesuaikan lagi jadwalnya.

Tapi keliatannya para pelanggan benar-benar nggak mau kehilangan Kereta Api Parahyangan yang udah begitu melegenda di Priangan Barat. Maka dari sinilah nama Argo Parahyangan lahir. PT. KAI jelas kepengen tetap pertahanin market kereta api Argo Gede, tapi di sisi lain nggak mau mengabaikan pelanggan setia kereta api Parahyangan bisnis.

Dalam rangka mengakomodasi 2 market itu dalam satu rangkaian perjalanan kereta api, jadilah Kereta Api Argo Parahyangan. Gabungan Argo Gede sama Parahyangan. Inilah riwayat singkatnya kenapa ada kereta api argo tapi rangkaiannya campuran. Semua semata-mata demi pelanggan. Istilahnya sekarang “Anda adalah prioritas kami”.

Malah kereta api Argo Parahyangan jadi kereta api argo pertama yang campuran. Benar-benar anti-mainstream. Di saat kereta api argo selalu identik kelas eksekutif elite, ada juga yang kelas ekonomi sekalipun namanya nggak resmi seperti Argo Peuyeum (KA Cianjuran) dan Argo Puro (KA Sri Tanjung). Intinya layanannya satu kelas bukan campuran.

Eksekutif Argo – Bisnis

Awal pengoperasian tanggal 27 April 2010, Kereta Api Argo Parahyangan melayani kelas eksekutif argo dan kelas bisnis dalam satu rangkaian. Jadi benar-benar buktiin sebagai bentuk akomodasi 2 market yang berbeda. Waktu itu layanan campuran ada di semua keberangkatan.

Mulai 2011, PT Kereta Api Indoensia mengembalikan layanan Kereta Api Argo Parahyangan ke khitahnya sebagai eksekutif argo. Walaupun demikian, kelas bisnis masih ada di jam-jam tertentu, di dua keberangkatan dari Bandung dan 2 keberangkatan dari Jakarta.

Waktu dimulai pemasangan AC split di gerbong bisnis dan ekonomi 106, kelas bisnis di Kereta Api Argo Parahyangan kebagian alokasi AC split. Bahkan di awal 2013, kelas bisnisnya udah dipasangin AC split dan stop kontak meski untuk stop kontak belum semuanya.

Layanan kelas bisnis ada lagi pada masa angkutan lebaran tahun 2016 dalam rangka memaksimalkan keterisian satu gerbong kelas bisnis yang sebelumnya cuma dijadiin gerbong aling-aling. Sementara di KA 21 dan 27 dari Bandung sama KA 24 dan 30 dari Jakarta, 3 rangkaian gerbong kelas bisnis semuanya dimaksimalkan.

Kelas Bisnis jadi Ekonomi Plus

Masa angkutan lebaran 2016, gerbong kelas ekonomi 2016 terbaru diperkenalkan. Awalnya tersedia rangkaian kereta api tambahan yang pake rangkaian gerbong baru itu. Selepas masa angkutan lebaran selesai, gerbong K3 2016 itu mulai dioperasikan secara reguler di 3 rangkaian kereta api: Fajar Utama Jogja, Senja Utama Jogja dan Mutiara Selatan.

Sayang ada kekurangan di interior K3 2016. Jarak antar kursi yang sempit banyak diprotes para pelanggan, bahkan sampai dipetisi di Change.Org. Menjawab tuntutan pelanggan, PT. Kereta Api Indonesia mengembalikan 3 rangkaian itu jadi kelas bisnis, sementara K3 2016 dialokasi buat rangkaian jarak pendek dan Kereta Api Argo Parahyangan jadi salah satu yang dapat alokasi K3 2016.

21 Oktober 2016 jadi babak baru buat titisan sang legenda Kereta Api Argo Parahyangan. Pertama kalinya sejak tahun 1971, waktu eranya Parahyangan, mengoperasikan gerbong ekonomi.

Kereta Api Argo Parahyangan dapat limpahan gerbong K3 2016 dari Kereta Api Mutiara Selatan. Sementara gerbong bisnisnya dipindah ke rangkaian kereta api jurusan Malang via Surabaya Gubeng itu. Tukeran gerbong gitu.

Sejak saat itu sampai sekarang, formasi rangkaian kereta api Argo Parahyangan jadi 4 gerbong eksekutif argo, 1 gerbong restorasi MP3 2016 (bagian dari K3 2016), dan 4 gerbong ekonomi K3 2017 ditarik lokomotif CC 206.

Adanya gerbong ekonomi K3 2016 jadi perhatian sebagian warganet, ada yang nyindir kereta api argo kok ada ekonominya. Padahal kalo kamu pelajari dari awal sejarahnya Kereta Api Argo Parahyangan, rangkaiannya udah campuran eksekutif argo sama bisnis, cuma sekarang bisnisnya diganti ekonomi K3 2016.

Sekalipun disindir kaya gitu, okupasi Kereta Api Argo Parahyangan terbilang sangat bagus, dengan semakin macetnya jalan tol, masyarakat yang biasa commuter dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya mulai ngelirik kereta api lagi.

Makanya jangan heran setiap weekend, long weekend, musim-musim lebaran, apalagi lebaran dan akhir tahun, tiket kereta api Argo Parahyangan selalu ludes terjual. Buat perjalanan weekend aja kamu mesti booking maksimal 1 minggu sebelumnya, atau nggak bakal kebagian tiket.

6 thoughts on “Kereta Api Argo Parahyangan: Titisan Legenda dan Campuran Pertama

  1. Pingback: Kereta Api Mutiara Selatan, Mulai Menapaki Langkah Jadi “Raja Selatan” – Lodaya Bandung

  2. Pingback: Kereta Api Ekonomi Bandung Jakarta

  3. Pingback: Jelajahi Bumi Priangan bersama Kereta Api Serayu

  4. Pingback: Menimbang Manfaat KA Cepat Jakarta Bandung

  5. Pingback: Gangguan Sinyal, Kereta Api Argo Parahyangan Bisnis Kembali

  6. Pingback: Stasiun Plered, Akses ke Gunung Parang

Leave a Reply

%d bloggers like this: