Posted on 1 Comment

Kereta Api Argo Kok Ekonomi ? Bukan Hal Baru!

Baru-baru ini sebagian pengguna dikejutkan sama rangkaian kereta api Argo Parahyangan Tambahan yang ternyata kelas ekonomi semuanya. Memang sih ekonominya premium, tapi sebagian ngerasa janggal aja, kok bisa-bisanya kereta api argo tapi kelasnya ekonomi? Padahal sebenarnya itu bukan hal baru karena dulu juga pernah ada.

Apalah arti sebuah nama? Mungkin pepatah yang satu ini pas buat rangkaian Kereta Api Argo Parahyangan yang memang lain daripada yang lain. Biasanya kereta api argo selalu identik sama kelas eksekutif nan mewah, bahkan kemewahannya bisa menyaingi pesawat, tapi rangkaian yang sehari-harinya melayani warga Bandung yang mau ke Jakarta dan sebaliknya ini benar-benar beda. Kereta Api Argo Parahyangan, argo tapi ada kelas ekonominya, meski bukan ekonomi 106 penumpang.

Berawal dari Merger Kereta Api Argo Gede dan Kereta Api Parahyangan

Adanya kereta api Argo Parahyangan sendiri awalnya memang nggak lepas dari merger atau penggabungan dua rangkaian kereta sekaligus yakni Kereta Api Argo Gede dan Kereta Api Parahyangan. Waktu itu PT. Kereta Api Indonesia (Persero) mau pensiunkan sang legenda Priangan Barat yang udah dinas selama hampir 30 tahun lebih karena okupasinya minim akibat kalah saing sama Travel Bandung Jakarta.

Kereta Api Parahyangan, legenda yang pertama kali dinas pada 31 Juli 1971, pernah berjaya di era 1980-an hingga 1990-an. Banyak cerita dan nostalgia mengiringi perjalanan sang legenda. Malah ada yang sampai ketemu jodohnya disitu. Sayang segala cerita manis itu pelan-pelan mulai pudar setelah Perumka di tahun 1995 meluncurkan Kereta Api Argo Gede.

Puncak memudarnya kejayaan Kereta Api Parahyangan terjadi di tahun 2004 bersamaan dengan dioperasikannya jalan tol Cipularang, yang waktu itu bisa mempersingkat waktu tempuh Bandung-Jakarta sampai 2 jam saja. Di saat itu pula bermunculan travel-travel.

Segala upaya menyelamatkan hidup sang legenda terus dilakukan PT. Kereta Api Indonesia, salah satunya menurunkan harga tiket, tapi ternyata itu nggak banyak membantu, yang ada malah terus tergerus keberadaan travel-travel yang juga ngasih diskon gede-gedean ke pelanggannya.

Okupasi minim malah sampai dalam satu trip ada 2-3 gerbong kosong melompong. Sementara biaya operasional terus membengkak. Maka jangan heran, sang legenda terus merugi di usia senjanya. Hingga opsi penutupan dipilih PT. Kereta Api Indonesia demi menyelamatkan keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Sementara itu rangkaian kereta api Argo Gede malah lebih diminati karena masih bisa bersaing sama travel dari segi kenyamanan dan waktu tempuh. Maka jangan heran, PT. Kereta Api Indonesia waktu itu berniat cuma mau mengoperasikan Kereta Api Argo Gede saja,

Untuk mengakomodasi penumpang kelas bisnis Parahyangan, di beberapa perjalanan Kereta Api Argo Gede akan ditambahkan gerbong bisnis. Supaya pengguna kelas bisnis nggak benar-benar kehilangan pasca pensiunnya sang Legenda.

Tapi sebelum itu direalisasikan, PT. Kereta Api Indonesia lebih dulu ngadain sosialisasi semacam Focus Group Discussion (FGD) ke pelanggannya. Dari diskusi itulah nama Argo Parahyagan muncul. Sebenarnya warga Bandung maupun Jakarta nggak mau benar-benar kehilangan Kereta Api Parahyangan yang udah puluhan tahun menemani.

Hingga akhirnya Kereta Api Argo Gede yang semula direncanakan bakal ditambah kelas bisnis diganti namanya jadi Kereta Api Argo Parahyangan. Nama tersebut dipilih tujuannya supaya pelanggan Argo Gede tetap bisa menikmati layanan eksekutif argo sementara pelanggan kelas bisnis Parahyangan tetap juga bisa menikmati gerbong bisnis yang murah meriah.

Nah, 27 April 2010 disitulah semuanya bermula, Kereta Api Argo Parahyangan lahir sebagai reinkarnasi sang legenda Parahyangan. Jadi satu-satunya kereta api argo yang anti-mainstream, karena kalo biasanya cuma ada eksekutif, tapi ini malah ada kelas bisnis-nya juga, udah gitu waktu itu belum dipasang AC dan masih pake kipas angin.

Sempat Full K1 hingga Akhirnya Ditambah Gerbong Ekonomi AC Plus K3 2016

Cuma keberadaan kelas bisnis nggak berlangsung lama. Di tahun 2011, Kereta Api Argo Parahyangan mulai balik ke khitah sebagai kereta api eksekutif argo Full K1, walaupun masih ada gerbong bisnis di jam-jam tertentu. Hal ini berlangsung sampai Lebaran 2016 dimana kelas bisnis mulai ada lagi di semua perjalanan (kecuali KA 37 dan 38 yang pake rangkaian idle Turangga).

Akhirnya mulai 21 Oktober 2016 layanan Kereta Api Argo Parahyangan berubah drastis dari semula eksekutif argo – bisnis jadi eksekutif argo – ekonomi AC plus. Perubahan ini imbas dari dibalikinnya kereta api Mutiara Selatan jadi full kelas bisnis, dari sebelumnya ekonomi AC plus.

Ini terjadi karena gerbong ekonomi AC plus K3 2016 diprotes keras dengan alasan jarak antar kursi terlalu sempit dan nggak cocok buat jarak jauh, hingga akhirnya dialihkan ke rangkaian jarak pendek dan Kereta Api Argo Parahyangan mau nggak mau dapat alokasi rangkaian K3 2016 ini.

Maka berubahlah layanan kelas di Kereta Api Argo Parahyangan, untuk pertama kalinya ada kelas ekonomi. Padahal dari zamannya Parahyangan dulu belum pernah ada gerbong ekonomi dan kelas ekonomi yang pake K3 2016 ini ada di semua perjalanan Kereta Api Argo Parahyangan reguler, kecuali KA 33 dan 34 yang full eksekutif.

Kontroversi muncul baru-baru ini dimana satu rangkaian kereta api Argo Parahyangan Tambahan benar-benar full ekonomi AC plus. Memanfaatkan idle Mantap Lebaran yang pake rangkaian terbaru K3 2017 alias ekonomi premium. Sindiran “argo kok ekonomi” makin nyaring terdengar.

Bukan Hal Baru.

Sindiran “Argo kok ekonomi” sebenarnya bukanlah barang baru. Jangan lupa sama 2 rangkaian kereta api ekonomi yang benar-benar kelas rakyat tapi dapat julukan argo, yakni Kereta Api Sri Tanjung dijuluki “Argopuro” dan Kereta Api Cianjuran dikasih label “Argo Peuyeum”.

Malah sebutan “Argo Puro” dan “Argo Peuyeum” waktu rangkaian ekonomi masih belum ber-AC kaya sekarang. Masih identik sama umpel-umpelan dan kumuh. Aneh memang dalam kondisi butut kaya gitu malah nggak ada yang protes dilabelin “Argo” eh gilirannya ada gerbong ekonomi yang kelasnya benar-benar elite dan beda malah disindir-sindir.

Entah apa yang ada di pikiran mereka. Tapi sudahlah, mungkin si penyindir belum tau kalo dulu ada yang namanya “Argo Puro” sama “Argo Peuyeum” disematkan di kereta api ekonomi yang benar-benar ekonomi. Kapasitan 106 penumpang. Belum dipasang AC dan masih tau sendirilah kondisinya.

Note: In Syaa Alloh akan lanjut pembahasan tentang “Argo Puro” dan “Argo Peuyeum”. Kebetulan tulisan ini dibuat hanya sehari sebelum hari raya Idul Fitri, maka pada kesempatan ini admin kepengen sekalian ngucapin “Taqobalallohu Minal Wa Minkum, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.”

Advertisements

1 thought on “Kereta Api Argo Kok Ekonomi ? Bukan Hal Baru!

  1. Nama KA Argopuro diambil dari nama Gunung Argopuro di daerah Jember. Skrg sudah ganti nama menjadi KA Sri Tanjung jurusan Banyuwangi – Yogyakarta pp.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.