Posted on Leave a comment

Kemerdekaan dan Kereta Api Indonesia

Tepat 17 Agustus 2017 Bangsa Indonesia merayakan kemerdekaannya yang ke 72 tahun. Adakah kaitannya sama kereta api Indonesia ? Jelas, karena itu jadi bagian dari sejarah bangsa ini, malah udah lebih dulu ada sebelum Indonesia Merdeka. Sayang setelah merdeka malah banyak jalur kereta api yang mati dan sekarang mulai ada titik terang untuk mengembalikan kereta api sebagai moda transportasi andalan.

17 Agustus memang jadi hari sakral buat Bangsa Indonesia, karena tepat di tahun 1945 berhasil memproklamasikan kemerdekaan dari belenggu penjajah, 350 tahun dijajah Belanda dan 3,5 tahun dijajah Jepang. Hari ini usia NKRI genap 72 tahun. Perjalanan bangsa ini tentu tak lepas dari sejarah kereta api yang malah udah lebih dulu ada dan berusia 150 tahun.


Jejak Sejarah Kereta Api Indonesia

Sejarah Kereta Api Indonesia dimulai tanggal 10 Agustus 1867 seiring beroperasinya jalur kereta api pertama punya NIS yang menghubungkan Stasiun Samarang NIS dan Stasiun Tanggung sepanjang 26 km.

Dalam perkembangannya, pembangunan jalur kereta api terus dilakukan baik pemerintah Kolonial Belanda sendiri lewat SS (Staatspoorwagen) maupun beberapa perusahaan swasta macam NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij). Total panjang jalur kereta api yang dibangun di masa penjajahan Belanda 6.811 km.

Itu udah gabungan semua jaringan kereta api yang ada di Jawa, Sumatera dan Sulawesi Selatan. Belum lagi jalur-jalur punya pabrik gula yang waktu itu ngandalin kereta api dan lori uap sebagai angkutan andalan. Sayang panjang jalur kereta api di Indonesia mulai menyusut di jaman penjajahan Jepang mulai tahun 1942. Tadinya 6.811 km berkurang jadi 5.910 km.

Karena di zaman Jepang banyak jalur yang ditutup dan dipindah ke tempat lain, tujuannya nggak lain buat kepentingan perang militer Jepang. Salah satunya jalur Rancaekek-Tanjungsari yang dibongkar dan dipindah ke daerah Banten, dimana Jepang membangun jalur kereta api Saketi-Bayah tahun 1943.

Kebanyakan jalur kereta api yang dibongkar Jepang punya perusahaan swasta Belanda, kecuali Rancaekek-Tanjungsari punya Staatspoorwagen (SS). Selain Saketi-Bayah, Jepang juga bikin jalur kereta api Muaro-Pekanbaru (1944) dan di Kachanaburi Thailand dengan Jembatan River Kwai yang terkenal (1943).

Banyak Jalur Non-Aktif di Era-Kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, justru kereta api bukannya makin berkembang, sebaliknya malah mengalami kemunduran. Ditandai banyak jalur yang mati atau non-aktif. Terutama jalur kereta api yang dibangun Jepang dan mengorbankan puluhan ribu jiwa Romusha dan Tawanan Perang (POW).

Jalur kereta api Muaro-Pekanbaru malah nyaris sama sekali nggak pernah dipakai setelah jadi. Pembangunannya dinilai asal-asalan. Ditambah lagi jalur ini selesai 15 Agustus 1945 tepat di hari itu juga Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Boleh dibilang jalur ini benar-benar mati sebelum masuk era-DKA (Djawatan Kereta Api).

Jalur Saketi-Bayah setali tiga uang. Meski sempat beroperasi, karena pendapatan yang nggak sebanding sama biaya operasional, jalur ini tutup tahun 1951. Nggak heran sih, karena cuma ngandalin angkutan batubara, secara waktu itu daerah Banten Selatan masih jarang pendudukya. .

Praktis cuma jalur “River Kwai” di Thailand satu-satunya peninggalan Jepang yang masih ada sekarang. Jadi tempat tujuan wisata andalan dan sumber devisa negeri gajah putih itu. Miris memang padahal infrastruktur dan pekerjanya banyak didatangin dari Indonesia.

Jalur kereta api non-aktif mulai banyak di zaman Orde Baru pasca suksesi kepemimpinan dari Bung Karno ke Jenderal Suharto. Di zaman itu marak pembangunan jalan raya, kendaraan angkut, minibus dan sejenisnya yang dinilai lebih efisien daripada kereta api. Kecuali jalur lintas utama, lintasan cabang seperti dibiarkan semakin uzur.

Diantaranya jalu kereta api Bandung Ciwidey. Infrastruktur kereta api yang udah uzur baik jalur dan lokomotifnya membuat lintasan jadi tak aman untuk dilewati. Tahun 1971 terjadilah PLH (Peristiwa Luarbiasa Hebat) di Cukanghaur, Soreang Kabupaten Bandung, ketika rangkaian kereta api barang dari Ciwidey anjlok dan terguling menewaskan 3 orang.

Selain Ciwidey, jalur kereta api Semarang-Jogja via Magelang juga mengalami nasib yang sama. Bedanya penyebab jalur ini ditutup ialah bencana alam, mulai banjir di Jembatan Tempuran sampai lahar dingin Gunung Merapi merusak Jembatan Kali Krasak tahun 1975. Belum lagi kereta api yang dipake benar-benar nggak layak. Cuma loko uap berkecepatan 30-40 km/jam.

Jalur bersejarah inipun tutup tahun 1976 dan cuma menyisakan koridor pendek buat kepentingan pariwisata yakni Tuntang-Ambarawa-Bedono, dimana berdiri museum kereta api Ambarawa di tempat yang dulunya merupakan Stasiun Ambarawa (Willem I).

Puncak penutupan lintasan cabang terjadi di tahun 1980-an. Kali ini giliran 2 jalur cabang di wilayah Daop 2 Bandung yakni jalur kereta api Banjar-Cijulang dan jalur kereta api Cibatu-Garut-Cikajang. Penyebabnya nggak jauh beda, sarana yang udah tua dan kurang terawat, ditambah kalah saing sama angkutan jalan raya.

Belum lagi jalur kereta api dari Halte Pegangsaan ke Salemba di ibukota Jakarta yang juga tutup di periode yang sama. Terlepas ada atau nggak-nya pembangunan jalur kereta api layang (elevated) antara Stasiun Manggarai dan Stasiun Jakarta Kota. Di Daop 1 sendiri, Jalur Kereta Api Rangkasbitung-Labuan dan Cigading-Anyer bahkan udah tutup lebih dulu.

Masih banyak lagi cerita sedih penutupan jalur kereta api, terutama lintasan cabang peninggalan perusahaan Swasta Belanda, di era kemerdekaan. Bangsa kita boleh aja merdeka, tapi sayang itu nggak dirasain sama kereta api.

Untungnya pada masa pemerintahan sekarang, ada titik terang buat paling nggak ngembaliin panjang lintasan kereta api jadi kaya di zaman Belanda dulu, 6.811 km. Beberapa jalur udah hidup lagi, terutama yang terhubung ke pelabuhan, ditambah pembangunan jalur baru menuju Bandara seperti di Kuala Namu.

InSyaaAlloh nggak lama lagi kita akan menikmati kereta api ke Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta MRT, LRT Jabodetabek dan Sumatera Selatan, ditambah KA Cepat Jakarta Bandung dan Jakarta Surabaya. Semoga saja di usianya yang ke 72 tahun, Republik Indonesia bisa mengembalikan Kereta Api sebagai tulang punggung dan moda transportasi andalan.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.