Kereta Api Lodaya

Kereta Api Lodaya

Kereta Api Lodaya mulai dinas 11 Maret 1992. Melayani rute Solo Balapan-Bandung PP. Semula kereta ini bernama Fajar Padjajaran dan Senja Mataram dengan layanan eksekutif-bisnis. Kemudian berubah jadi Lodaya dan kini jadi kereta stainless steel gabungan eksekutif-premium.

Kereta komersial favorit untuk ngetrip ke Bumi Mataram ya ini. Ongkosnya lumayan terjangkau untuk ukuran non-subsidi. Di saat kereta lainnya mematok tarif lumayan mahal. Kita juga bisa ambil rute terpendek. Misalnya di Priangan Timur dan ada tarif khusus.

Dulu identik sama kelas bisnis-nya. Secara awal beroperasinya juga full kereta bisnis meski akhirnya berubah jadi eksis. Percis sama sang legenda KA Parahyangan. Namun sayang virus kaleng-kaleng mulai datang di tahun 2018. Trainset pun ikut jadi kaleng-kaleng di akhir tahun 2018.

Sejarah Kereta Api Lodaya

Kereta penghubung Priangan dan Bumi Mataram ini mulai dinas 11 Maret 1992. Waktu itu rutenya cuma Bandung-Jogjakarta. Namanya aja bukan Lodaya kaya sekarang. Tapi Fajar Pajajaran dan Senja Mataram. Dua nama yang berbeda. Dibawah operator Daop 2 Bandung.

Kereta Api Fajar Pajajaran melayani perjalanan pagi dari Bandung ke Jogja dan sebaliknya. Sementara Kereta Api Senja Mataram melayani perjalanan malam hari. Semula layanannya kereta bisnis. Tapi nggak lama berselang ditambah kereta eksekutif sehingga masuk golongan eksis (eksekutif-bisnis).

Nama Lodaya baru dipake pada 2 Mei 2002 atau 8 tahun setelahnya. Okupasi yang bagus membuat PT. KA waktu itu memperpanjang rutenya dari semula cuma Bandung-Jogjakarta jadi Bandung-Solo Balapan PP. Nah Lodaya diambil dari singkatan Solo-Bandung Raya.

Namun nama tersebut ternyata bukanlah sekedar singkatan Solo-Bandung Raya. Dilihat dari sejarahnya, Lodaya identik sama budaya sunda. Lodaya merupakan sosok maung (macan putih) jelmaan Prabu Siliwangi ketika berhadapan dengan putranya Raden Kian Santang.

Nama Lodaya juga banyak dipake di Jawa Barat. Mulai Jalan Lodaya, Stadion Lodaya di Kota Bandung, Lapangan Sakti Lodaya di Tasikmalaya, dan tentu saja Lodaya Bandung. Jadi bukan sekedar nama kereta singkatan Solo-Bandung Raya.

Pada saat penamaan pun PT. KA telah mempertimbangkan aspek sejarah dan budaya. Sebagaimana penamaan kereta-kereta yang lain. Sosok Lodaya sebagai Maung sebenarnya mudah ditemukan di Kota Bandung. Tugu penanda Kota Tua yang “dijaga” 4 ekor macan putih.

Kalo nggak mau susah nyebut Tugu Penanda Kota Tua, cukup sebut aja Tugu Lodaya atau Patung Lodaya. Karena keberadaan 4 ekor macan putih tadi. Jadi sekali lagi bukan sekedar nama kereta.

Di awal masa dinas, Kereta Api Lodaya berada di bawah operasional Daop 2 Bandung. Berlangsung selama kurang lebih 25 tahun. Di tahun 2018 menjelang Ramadhan, Kereta Api Lodaya mutasi dari Daop 2 Bandung ke Daop 6 Yogyakarta.

Tiga Kali Berubah Layanan Kelas hingga Stamformasi Kereta

Kereta Api Lodaya termasuk rangkaian kereta yang lumayan sering gonta-ganti layanan kelas. Tepatnya selama tiga kali pergantian. Pertama kali dinas layanannya full kereta bisnis. Waktu masih melayani Bandung-Jogjakarta dengan nama Fajar Pajajaran dan Senja Mataram.

Namun karena adanya permintaan, kereta eksekutif pun ditambahkan. Baik kereta api Fajar Pajajaran maupun Senja Mataram waktu itu selalu jadi favorit turis asing yang berkunjung ke Bandung dan hendak melanjutkan perjalanan ke Jogja.

Tingginya minat membuat PT. KA akhirnya memperpanjang rute dari semula Bandung-Jogja jadi Bandung-Solo. Perpanjangan rute termasuk pemberhentian di Stasiun Klaten (KT). Nama Fajar Pajajaran dan Senja Mataram pun akhirnya dirubah jadi Lodaya.

Kebanyakan orang mengartikan Lodaya sebagai singkatan dari Solo-Bandung Raya. Tapi sebenarnya Lodaya itu terkait sejarah kerajaan Sunda. Sosok maung jelmaan Prabu Siliwangi ketika berhadapan dengan Raden Kian Santang.

Fajar Pajajaran yang berangkat pagi berubah jadi Lodaya Pagi. Sementara Senja Mataram jadi Lodaya Malam. Walaupun sebenarnya sama-sama aja sih tetap Lodaya. Ketika berubah nama dan perpanjang rute, stamformasinya:

Bandung-Solo :
Lokomotif + 1 Pembangkit + 2 kereta Eksekutif (K1) + 1 Kereta Makan + 4 kereta bisnis (K2).

Solo-Bandung :
Lokomotif + 4 kereta bisnis (K2) + 1 kereta makan + 2 kereta eksekutif (K1) + 1 Pembangkit.

Sekilas stamformsinya sama kaya sang legenda KA Parahyangan. Memang iya sih, karena sama-sama punya Dipo Bandung (BD) jadi sering tukar-tukaran rangkaian. Tergantung KDK dan mana yang SO (Siap Operasi). Itu pun terjadi di semua kereta dan masih berlaku sampe sekarang.

Di era PT. Kereta Api Indonesia (KAI), formasi nggak banyak berubah. Paling cuma jarang bawa pembangkit karena udah ada KMP (Kereta Makan Pembangkit). Kereta eksekutif (K1) nya juga ditambah 2 kereta lagi jadi total 4 kereta. Sehingga formasinya menjadi:

Bandung-Solo :
Lokomotif + 4 kereta eksekutif (K1) + 1 Kereta Makan Pembangkit (KMP) + 4 kereta bisnis (K2)

Solo-Bandung :
Lokomotif + 4 kereta bisnis (K2) + 1 Kereta Makan Pembangkit (KMP) + 4 kereta eksekutif (K1)

Biasanya Kereta Api Lodaya bawa rangkaian kereta buatan tahun 1980-an untuk kereta bisnis. Adapun kereta eksekutif lebih bervariasi. Mulai keluaran tahun 1960-an sampe tahun 2002. Lagi-lagi tergantung mana yang Siap Operasi (SO).

Di awal masa dinas, Kereta Api Lodaya ditarik lokomotif CC 201. Seiring berjalan waktu CC 203 “si sprinter” gantian bawa dinas Maung Penghubung Priangan dan Mataram. Sebelum akhirnya peran keduanya digantikan CC 206 “Puongs” mulai tahun 2014.

Ketika si Maung Masih Membawa Kereta Bisnis
Ketika si Maung masih bawa Kereta Bisnis (K2). Foto by Erlangga Sulistyono.

Kereta Api Lodaya ditarik Loko CC 203 membawa Kereta Eksekuitif angkatan 1964 buatan Nippon Sharyo Jepang.
Kereta Api Lodaya ditarik Loko CC 203 membawa Kereta Eksekuitif angkatan 1964 buatan Nippon Sharyo Jepang. Kereta ini merupakan rehab dari K3 64. Foto: Muhammad Ghaniy.

Mutasi ke Daop 6 Yogyakarta

Tahun 2017 jadi babak baru dalam perjalanan si Maung. Penuhnya Dipo Bandung membuat si Maung mau nggak mau harus dimutasi ke Dipo Solo Balapan (SLO). Meski waktu itu masih dioperasikan Daop 2 Bandung. Namun untuk rangkaian udah pake punya Solo Balapan (SLO).

Mutasi tersebut dibarengi dengan kedatangan 1 trainset kereta eksekutif tahun 2009 ex Gajayana (K1 o9). Meski demikian rangkaian eksekutif lawas masih tetap disiagakan buat armada cadangan. K1 09 merupakan salah satu rangkaian kereta eksekutif terbaik di Indonesia.

Sayangnya kebersamaan dengan kereta terbaik itu nggak berlangsung lama. Terlebih ketika Kereta Api Lodaya mutasi ke Daop 6 Yogyakarta jelang Ramadhan 2018. Mutasi itu dibarengi perubahan stamformasi rangkaian jadi:

Solo-Bandung:
Lokomotif + 4 kereta eksekutif (K1) + Kereta Makan Pembangkit (KMP) + 4 kereta bisnis (K2)

Bandung-Solo:
Lokomotif + 4 kereta bisnis (K2) + Kereta Makan Pembangkit (KMP) + 4 kereta eksekutif (K1)

Secara waktu itu juga kereta api Senja Utama Solo mulai menambah layanan kereta eksekutif. Hingga antara Lodaya dan Senja Utama Solo nggak jarang bertukar rangkaian. Karena sama-sama punya Dipo Solo Balapan dan dioperasikan Daop 6 Yogyakarta.

Cuma untuk kereta eksekutifnya mau nggak mau harus kembali gunakan trainset lawas. Pernah satu hari full K1 64 buatan Nippon Sharyo Jepang. Pernah juga bawa K1 08 yang sebelumya dipake Taksaka dan Argo Dwipangga punya Dipo Yogyakarta (YK).

Terus kenapa ya Kereta Api Lodaya akhirnya mutasi ke Daop 6 Yogyakarta? Banyak yang bilang perpindahan itu karena Gopar Effect. Ya, kereta api Argo Parahyangan di saat yang sama lagi booming. Imbas dari Tol Cikampek yang macet. Penuh terus, nggak ngaruh weekend atau bukan.

Tingginya minat penumpang Kereta Api Argo Parahyangan tentu membuat Daop 2 Bandung sebagai operator titisan sang legenda meraup untung besar. Nah sementara di sisi lain, pendapatan Daop 6 Yogyakarta dari KAJJ masih kurang karena hanya penuh di saat weekend atau liburan.

Karena itulah Kereta Api Lodaya dimutasi ke Daop 6 Yogyakarta untuk membantu menaikkan pendapatan. Bagus sih, supaya nggak jomplang. Toh Daop 2 Bandung udah menang banyak dari Gopar.

Kereta Api Lodaya Stainless Steel

Tahun 2018 PT KAI mulai mengganti rangkaian-rangkaian usang dengan rangkaian baru berbody stainless steel. Semua demi meningkatkan kenyamanan para penumpang. Sesuai dengan slogan “Anda adalah Prioritas Kami”.

Kereta Api Lodaya termasuk yang kebagian kereta baru yang sering dijuluki kaleng-kaleng ini. Kebetulan trainset si Maung sendiri udah usang. Bahkan kadang bawa dinas rangkaian buatan tahun 1960-an. Termasuk K1 64 dari pabrikan MRT Jakarta, Nippon Sharyo.

Akhir 2018 Kereta Api Lodaya pun ganti rangkaian jadi stainless steel. Berakhirlah era kereta bisnis yang berlangsung sejak 1992. Ya, kereta bisnis identik sama si Maung. Meski juga bawa dinas kereta eksekutif (K1). Trainset kaleng-kaleng nggak ada kereta bisnis (K2).

Ganti Kereta jadi Stainless Steel
Kereta Api Lodaya berbody Stainless Steel siap melintas JPL 148 Braga Bandung. Nggak jauh dari Stasiun Bandung (BD)

Ganti kaleng-kaleng otomatis juga ganti stamformasi. Berikut stamformasi KA Lodaya setelah ganti jadi stainless steel:

Solo-Bandung:
Lokomotif + Kereta Pembangkit (P1 18/19) + 4 Kereta Eksekutif (K1 18/19) + 1 Kereta Makan (M1 18/19) + 4 Kereta Premium (K3 18/19)

Bandung-Solo:
Lokomotif + 4 kereta Premium (K3 18/19) + 1 Kereta Makan (M1 18/19) + 4 Kereta Eksekutif (K1 18/19) + Kereta Pembangkit (P1 18/19)


Jadwal dan Harga Tiket

Mau jalan-jalan ke Jogja, Klaten, Solo naik Kereta Api Lodaya? Ini jadwal selengkapnya:

A. KA Lodaya 79 (Solo Balapan – Bandung)

StasiunDatangBerangkat
Solo Balapan (SLO)07.10
Klaten (KT)07.3607.38
Yogyakarta (YK)08.0308.08
Wates (WT)08.3408.36
Kutoarjo (KTA)09.0509.10
Kebumen (KM)09.3509.37
Sidareja (SDR)11.1011.12
Meluwung (MLW)11.2711.35
Banjar (BJR)11.5412.08
Tasikmalaya (TSM)12.5513.00
Cipeundeuy (CPD)13.4613.56
Kiaracondong (KAC)15.3515.38
Bandung (BD)15.48

B. KA Lodaya 80 (Bandung – Solo Balapan)

StasiunDatangBerangkat
Bandung (BD)07.20
Kiaracondong (KAC)07.3007.36
Cipeundeuy (CPD)09.1509.25
Tasikmalaya (TSM)10.1110.16
Banjar (BJR)11.0311.15
Sidareja (SDR)11.4711.49
Maos (MA)12.3112.33
Ijo (IJ)13.0513.14
Gombong (GB)13.2313.25
Kutoarjo (KTA)14.1114.45
Wates (WT)14.4414.46
Yogyakarta (YK)15.1215.20
Klaten (KT)15.4415.47
Solo Balapan (SLO)16.15

C. KA Lodaya 81 (Solo Balapan – Bandung)

StasiunDatangBerangkat
Solo Balapan (SLO)19.10
Klaten (KT)19.3619.38
Yogyakarta (YK)20.0320.08
Wates (WT)20.3420.36
Kutoarjo (KTA)21.0521.06
Gombong (GB)21.4921.55
Kroya (KYA)22.2022.26
Sidareja (SDR)23.1923.27
Cipari (CPI)23.3623.45
Banjar (BJR)00.1100.29
Tasikmalaya (TSM)01.1601.21
Cipeundeuy (CPD)02.0702.20
Kiaracondong (KAC)03.5904.05
Bandung (BD)04.15

D. KA Lodaya 82 (Bandung-Solo Balapan)

StasiunDatangBerangkat
Bandung (BD)18.55
Kiaracondong (KAC)19.0519.07
Cipeundeuy (CPD)20.4621.03
Tasikmalaya (TSM)21.4921.54
Banjar (BJR)22.4122.54
Maos (MA)00.0600.12
Kroya (KYA)00.2700.37
Kebumen (KM)01.1501.19
Kutowinangun (KWN)01.2901.37
Kutoarjo (KTA)01.5401.58
Wates (WT)02.2802.31
Yogyakarta (YK)02.5703.05
Klaten (KT)03.3003.32
Solo Balapan (SLO)03.58

Harga Tiket Kereta Api Lodaya, kereta eksekutif mulai Rp 310.000 s.d. Rp 350.000,00. Kereta Premium mulai Rp 225.000 – Rp 250.000,00. Tersedia tarif parsial untuk rute tertentu. Misalnya Bandung ke Banjar mulai Rp 80.000,00 s.d. 90.000,00 (eksekutif) dan Rp 70.000,00 – 80.000,00 (premium).

Tarif parsial bisa dibooking 2 jam sebelum berangkat di loket stasiun, vending machine yang ada di stasiun, atau via KAI Access dengan pembayaran menggunakan LinkAja atau channel lainnya.

Advertisements