Advertisements
Lodaya Bandung Railway Heritage

Railway Heritage atau Lodaya Bandung Railway Heritage adalah kegiatan menelusuri jejak sejarah Perkeretaapian Indonesia. Termasuk bekas jalur non-aktif di Daop 2 maupun luar.

Indonesia pernah punya pajang lintasan kereta api 6.811 km sampe tahun 1939. Tepatnya di era kolonial Belanda. Sayang setelah masa-masa perang kemerdekaan berakhir di tahun 1950, panjang lintasan berubah jadi 5.910 km (berkurang 901 km).

Berkurangnya panjang lintasan mulai terjadi di zaman penjajahan Jepang. Sebagian lintas cabang dibongkar militer Jepang untuk pembuatan jalur di sejumlah daerah mulai Saketi-Bayah, Muaro-Pekanbaru, hingga Birma (Myanmar).

Di antara lintas cabang yang dibongkar Jepang, 3 diantaranya ada di wilayah Daop 2 Bandung yakni jalur KA Rancaekek-Tanjungsari, Dayeuhkolot-Majalaya, dan Tasikmalaya-Singaparna. Bekas-bekas ketiganya nyaris nggak terlihat, kecuali Jembatan Cincin.

Pengurangan lintasan makin mencapai puncaknya pada dekade 1970-1980an, atau era PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api). Banyak lintas cabang yang ditutup dengan alasan kurang efisien dan kalah saing sama angkutan jalan raya.

Padahal banyak dari lintas cabang itu punya potensi ekonomi untuk dikembangkan. Khususnya pariwisata. Cuma sayang dari pemerintah sendiri waktu itu kurang kasih dukungan buat perkeretaapian Indonesia. Terutama di lintas-lintas cabang itu.

Setelah banyak lintas cabang ditutup mulailah muncul istilah jalur non aktif atau jalur rel mati. Tersebar luas di berbagai wilayah, terutama di Jawa dan Sumatera. Untuk Daop 2 Bandung sendiri yang kita kenal ada 4 jalur non-aktif dan keempatnya kini masuk program reaktivasi:

  • Jalur KA Cibatu-Garut-Cikajang
  • Jalur KA Bandung-Ciwidey
  • Jalur KA Rancaekek-Tanjungsari
  • Jalur KA Banjar-Cijulang

Apakah cuma empat di atas? Nyatanya nggak, di sekitar jalur aktif saat ini juga banyak ditemukan lintasan non-aktif. Misalnya di sekitaran Padalarang (PDL) dan Kiaracondong (KAC). Jalur non-aktif di kawasan tersebut seperti jarang terekspos.

Karena itu banyak meninggalkan jejak dan sangat menarik buat jadi bahan penelusuran. Seperti bekas jalur non-aktif sejajar jalur utama di Padalarang. Jalur tersebut kini tengah “direaktivasi” sebagai bagian dari jalur Kereta Cepat Jakarta Bandung.

Railway Heritage, Nggak Selamanya di Daop 2

Karena itu Komunitas Lodaya Bandung coba hadirkan satu kegiatan yang khusus mempelajari jejak sejarah perkeretaapian Indonesia. Kegiatan tersebut dikasih nama Lodaya Bandung Railway Heritage. Bentuk edukasi juga sebetulnya tapi beda sama Gathering and Education.

Di Gathering and Education itu edukasinya lebih ke sosialisasi keselamatan dan gimana caranya membeli tiket kereta melalui jalur resmi. Termasuk cara booking online tiket lokalan via KAI Access. Sementara Railway Heritage lebih spesifik lagi ke sejarah kereta api Indonesia.

Jalur rel mati di Daop 2 Bandung memang bukan cuma yang udah disebut di atas. Tapi masih banyak jalur lain yang belum banyak terekspos. Itulah yang akan coba kita pelajari dan telusuri.

Kegiatan ini juga nggak sebatas di Daop 2 Bandung aja. Komunitas Lodaya Bandung akan coba telusuri jejak-jejak sejarah yang ada di luar Daop 2. Misalnya bekas jalur SCSM (Semarang Cheribond Stromtram Maatschappij) antara Cirebon-Kadipaten di Daop 3 Cirebon.

Lodaya Bandung Railway Heritage

Jejak Sejarah Nggak Harus Jalur Rel Mati

Perlu dicatat juga disini jejak sejarah Kereta Api Indonesia nggak harus jalur rel mati. Ada jejak sejarah lain yang juga menarik untuk ditelusuri. Misalnya kedatangan seniman kelas dunia, Charlie Chaplin, ke Stasiun Cibatu (CB) Kabupaten Garut.

Stasiun yang sama juga pernah jadi pusatnya lokomotif CC 50. Lokomotif uap bertenaga besar yang disebut Mallet. Makanya Dipo Lokomotif Cibatu dulu mendapat sebutan Mecca of Mallet.

Bahkan jalur aktif dan padat perka pun tak luput dari sejarah. Sebut aja jalur kereta api Bandung Jakarta yang sekarang. Jalur tersebut dulunya jadi favorit warga Belanda dengan layanan kereta si empat cepat (De Vlugger Vier). Sekarang diterusin KA Argo Parahyangan.

Advertisements
%d bloggers like this: