Posted on 2 Comments

Japan Airlines (JAL) dan Tragedi JAL 123

Di antara hasil hunting di Tokyo Haneda ialah Japan Airlines (JAL) tipe Boeing 777 dan Boeing 787 Dreamliner. Bicara tentang Japan Airlines rasanya kurang lengkap tanpa membahas Tragedi JAL 123, 12 Agustus 1985. 

Japan Airlines (JAL) bersama All Nippon Airways (ANA) mendominasi stok di gallery begitu mendarat di Tokyo Haneda (HND). Keduanya merupakan maskapai penerbangan utama di Jepang, melayani rute domestik dan internasional. Keduanya juga banyak operasikan pesawat baru kaya jenis Boeing 777-300 ER dan Boeing 787 Dreamliner.

Rasanya kurang lengkap kita ngomongin Japan Airlines (JAL) tanpa sekalian bahas peristiwa kelam yang pernah menimpa maskapai penerbangan yang sempat pailit ini pada 12 Agustus 1985 atau sekitar 33 tahun silam.

Musibah tersebut dikenal dengan Tragedi JAL 123, menimpa Japan Airlines (JAL) penerbangan domestik dari Tokyo ke Osaka/Itami. Tercatat 505 orang dan 15 kru tewas dalam tragedi di Pegunungan Otsusaka, Gunma Perfecture, 100 km dari Tokyo.

01-JAPAN-AIRLINES-(JAL)-DAN-TRAGEDI-JAL-123

JAL 123 Tokyo Haneda (HND) – Osaka Itami (ITM), Boeing 747-146SR

Japan Airlines (JAL) dengan nomor JAL 123 merupakan penerbangan domestik rutin yang melayani rute Tokyo Haneda (HND) – Osaka Itami (ITM). Karena tingginya minat warga Jepang yang naik pesawat, Japan Airlines (JAL) mengoperasikan Boeing 747-146SR.

Sejatinya pesawat jumbo jet jenis Boeing 747 didesign buat penerbangan jarak jauh, tapi khusus varian 747-146SR untuk jarak pendek tapi bisa angkut 500-an penumpang. Jadi cocok untuk melayani rute domestik di Jepang seperti Tokyo-Osaka yang setara Jakarta-Surabaya.

Hari itu, 12 Agustus 1985, Boeing 747-146SR punya Japan Airlines (JAL), Flight JAL 123 stand by di Tokyo Haneda (HND). Jumbo jet ini bersiap untuk penerbangan domestik menuju Osaka International Airport Itami (ITM). Pesawat mengangkut 509 penumpang dan 15 kru. Di antaranya seorang artis terkenal Kyu Sakamoto.

Jam 18.00 pesawat take off dari runway 6L Tokyo Haneda (HND). Fase awal penerbangan terlihat normal dan nggak ada kendala berarti. Petaka dimulai 12 menit setelah pesawat coba menuju cruising altitude. Seketika ledakan terjadi di bagian belakang, merobek real pressure bulkhead dan vertical stabilizer (ekor) pesawat terlepas.

Copotnya vertical stabilizer membuat pesawat nggak bisa dikendalikan karena kehilangan semua tekanan hidrolik. Mulai saat itu JAL 123 ibaratnya layangan putus yang terbang tak tentu arah ditambah naik turun tak teratur.

Dalam kondisi tak terkendali, pilot berusaha mendaratkan JAL 123 kembali ke Tokyo Haneda (HND). Karena kehilangan vertical stabilizer, pilot coba mainkan throttle mesin jet pesawat setelah sebelumnya mengaktifkan squak 7700 atau tanda darurat, meminta supaya ATC Tokyo memberi jalan kembali ke Tokyo Haneda.

Kehilangan vertical stabilizer membuat pesawat tak bisa dikendalikan secara normal. Dalam keadaan begini, pilot mencoba memainkan throttle engine. Dengan itu pesawat bisa sedikit dikendalikan tapi tetap bergerak tak tentu arah dan naik turun tak beraturan.

Usaha berikutnya coba menurunkan roda pesawat dengan harapan bisa turun dari ketinggian 24.000 feet sehingga penumpang di kabin tak kekurangan oksigen. Mengingat beberapa menit setelah terjadi ledakan, kabin penumpang mengalami dekompresi dan lama-lama cadangan oksigen kritis.

Pesawat berhasil turun ke ketinggian 7.000 meter tapi tetap nggak bisa mengarah ke Tokyo Haneda. Pangkalan Militer Amerika Serikat di Yokota mencoba tawarkan bantuan untuk JAL 123 mendarat di sana. Karena tak bisa dikendalikan, JAL 123 malah terus berbelok ke arah gugusan pegunungan Otsusaka di Gunma Perfecture.

32 menit setelah ledakan pertama yang merobek rear pressure bulkhead sekaligus membuat bagian ekor terlepas hingga menjadikan pesawat seperti layangan putus, Jam 18.56 waktu setempat, JAL 123 jatuh di gugusan tersebut dekat Gunung Takamagahara, Gunma Perfecture, 100 km dari Tokyo.

Dalam tragedi JAL 123, 505 penumpang dan 15 kru tewas termasuk Kyu Sakamoto dan 3 awak kokpit yakni Kapten Pilot Masami Takahama, Co-Pilot Yutaka Sasaki, dan First Officer Hiroshi Fukuda.

Meski demikian tetap ada keajaiban dalam Tragedi JAL 123 yang disebut-sebut sebagai kecelakaan tunggal terburuk dalam sejarah penerbangan. 4 penumpang ditemukan selamat dan semuanya perempuan, duduk di bagian belakang pesawat yang relatif utuh.

Keempat penumpang selamat itu antara lain: Yumi Ochiai (kru pesawat yang lagi nggak bertugas), Keiko Kawakami, Hiroki Yoshizaki dan Mikko Yoshizaki (sepasang ibu dan anak perempuannya).

Tragedi JAL 123, Kesalahan Maintenance

Dalam penyelidikan disebut penyebab Tragedi JAL 123 karena kesalahan maintenance. 7 tahun sebelumnya, tahun 1978, pesawat mengalami tailstrike di Osaka Itami Airport (ITM) dan merusak real pressure bulkhead.

02-JAPAN-AIRLINES-(JAL)-DAN-TRAGEDI-JAL-123

Meski pihak Japan Airlines (JAL) telah meminta bantuan Boeing untuk memperbaiki kerusakan tersebut, ada kesalahan pemasangan baut sehingga rear pressure bulkhead jadi lemah, hingga akhirnya pecah di penerbangan tanggal 12 Agustus 1985 sekaligus membuat vertical stabilizer atau ekor ikut terlepas dari kedudukannya.

Akibat Tragedi JAL 123, reputasi Japan Airlines (JAL) jadi rusak. Presiden Japan Airlines (JAL), Yasumoto Takagi, mengundurkan diri. Dua orang mekanik Japan Airlines (JAL) di Tokyo Haneda (HND) yang ikut memperbaiki kerusakan, Tominaga dan Susumu Tajima, bunuh diri karena tak kuat menanggung malu dan rasa bersalah.

Itulah gambaran Tragedi JAL 123 tanggal 12 Agustus 1985 yang dirangkum dari berbagai sumber. Dari sini kita bisa ambil pelajaran bahwa yang namanya maintenance nggak bisa asal-asalan dan nggak boleh terjadi kesalahan. Sekalipun pada bagian terkecil. Contohnya ini cuma gara-gara salah pasang mur (baut) 520 jiwa melayang.

Pelajaran lainnya tentu yang namanya musibah termasuk kematian itu di tangan Alloh Ta’ala. Begitu juga dengan 4 orang yang selamat dalam Tragedi JAL 123, mereka boleh jadi memang belum waktunya untuk kembali kepada Sang Pencipta.

Sedikit catatan buat kamu yang pengen tau kaya gimana kondisi kokpit JAL 123 pada saat musibah terjadi, mulai ledakan yang merobek real pressure bulkhead dan bagian ekor copot sampe pesawat hilang kendali hingga jatuh di Gunma Perfecture, simak video berikut:

Video ini saat ekor pesawat atau vertical stabilizer copot gara-gara pecahnya rear pressure bulkhead di ketinggian hampir 24.000 feet


Referensi

FLASHBACK INSIDEN JAL : Gara-gara Retak Kecil, Kecelakaan Terparah Sepanjang Sejarah Ini Terjadi. Flightzona.Com. https://www.flightzona.com/2016/01/16/1034/

Japan Airlines 123 (JA8119) – 1985. Air Crash Information. http://aircrash-info.blogspot.com/2012/05/japan-airlines-ja8119-1985.html

KISAH: Keajaiban Selamatkan 4 Orang dari Kecelakaan Legendaris Japan Airlines 123. Okezone.Com. https://news.okezone.com/read/2017/05/22/18/1696863/kisah-keajaiban-selamatkan-4-orang-dari-kecelakaan-legendaris-japan-airlines-123

Rekaman Kokpit Saat-Saat Terakhir Tragedi JAL 123 Ini Bikin Merinding. Flightzona.Com. https://www.flightzona.com/2016/01/21/rekaman-kokpit-saat-saat-terakhir-tragedi-jal-123-ini-bikin-merinding/

Tragedi JAL 123, Kecelakaan Pesawat Terparah Sepanjang Sejarah Penerbangan. Kricom.Id. https://www.kricom.id/tragedi-jal-123-kecelakaan-pesawat-terparah-sepanjang-sejarah-penerbangan

Advertisements

2 thoughts on “Japan Airlines (JAL) dan Tragedi JAL 123

  1. min KMP 2 65 02 BD kemana? di lokal Bandung raya kok gak ada? atau di lokal Cibatu?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.