Posted on

Gimana Nasib Jalur Rel Mati Kiaracondong Karees?

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mendukung reaktivasi sejumlah jalur rel mati di Daop 2 Bandung. Salah satunya jalur rel mati Bandung Ciwidey. Terus gimana nasib jalur rel mati Kiaracondong Karees yang nyaris terlupakan? 

Sekian tahun jadi wacana kini mendekati realita. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mendukung reaktivasi jalur rel mati di Daop 2 Bandung. Di antaranya jalur rel mati Bandung-Ciwidey yang mulai ditutup tahun 1971 dampak dari kecelakaan tragis di Cukanghaur, Soreang. Lama nggak dilewatin kereta api, beberapa titik udah diisi bangunan permanen, malah ada yang rel-nya hilang.

Namun kini ada angin segar karena gubernur yang baru dilantik itu mendukung. Lebih dari itu beliau ingin agar warga Jawa Barat mulai membudayakan naik kereta api, guna menekan pemakaian kendaraan pribadi yang berujung kemacetan parah di sejumlah ruas jalan. Disini kita dukung penuh beliau.

Cuma masalahnya sekarang, jalur rel mati Bandung-Ciwidey nggak cuma terkoneksi sama jalur utama Bandung-Surabaya. Lintas cabang ke selatan ini juga terkoneksi sama jalur rel mati Kiaracondong-Karees dan ketemu di Halte Cibangkong Lor, yang sekarang bangunannya udah hilang entah kemana.

Jalur rel mati Kiaracondong-Karees di Dalam Kota Bandung

Beda sama jalur rel mati Bandung-Ciwidey yang ada di 2 wilayah Kota Bandung dan Kabupaten Bandung, jalur rel mati Kiaracondong Karees semuanya di wilayah Kota Bandung. Bahkan boleh dikatakan jalur rel mati di dalam kota Bandung, percis sama kaya jalur rel mati Salemba di Daop 1 Jakarta yang juga nyaris terlupakan.

Ada kesamaan sih antara jalur rel mati Kiaracondong-Karees sama jalur Salemba, dulunya sama-sama lebih banyak melayani angkutan barang daripada penumpang. Terutama sejak diambil alih Staatspoorwagen (SS), fungsi Stasiun Salemba (SLB) —tutup 1981— berubah lebih ke stasiun kereta barang buat angkutan opium karena nggak jauh dari situ ada pabrik opium yang sekarang berubah jadi Gedung Pascasarjana UI.

Nah kalo Stasiun Salemba dulunya lebih banyak melayani angkutan opium, jalur rel mati Kiaracondong-Karees berhubungan langsung sama Depot Pertamina di Jalan Samoja. Jadi sangat ngandalin ketel Pertamina, disamping buat angkutan komoditas tentunya, karena halte Karees (perkiraan di sekitaran Jalan Malabar) posisinya nggak jauh dari Pasar Kosambi.

Sayangnya begitu trend angkutan komoditas bergeser ke jalan raya dan distribusi BBM Pertamina beralih dari ketel ke pipanisasi, jalur ini pun harus ditutup sekitar tahun 1975, karena cuma ngandalin angkutan barang. Fungsi yang terbatas juga akhirnya bikin jalur rel mati Kiaracondong-Karees seperti terabaikan. Padahal posisinya ada di dalam kota Bandung.

Sekalipun bukan di tengah kota kaya jalur Salemba yang kini tinggal sisain bekas jembatan kereta api di Sungai Ciliwung dan bangunan Stasiun Salemba (SLB) yang udah berubah jadi tempat tinggal.

Kecil Kemungkiann Reaktivasi Jalur Rel Mati Kiaracondong-Karees

Meski Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mendukung reaktivasi sejumlah jalur rel mati, diantaranya jalur rel mati Bandung-Ciwidey, kecil kemungkinan reaktivasi bakal menyasar jalur rel mati Kiaracondong-Karees. Meski rel-nya relatif masih utuh tapi udah banyak bangunan permanen yang berdiri di atasnya. Malah menjelang terminus Halte Karees udah berubah jadi gang yang tembus ke Hotel Harapan Indah.

Di gang tersebut masih sisain satu jalur dual gaunge, ukuran standard 1.067mm dan satu lagi ukuran kecil, dan satu bentang jembatan yang kini udah dicor jadi jalan beraspal. Setelah jembatan masih ditemuin sedikit sisa-sisa rel yang berakhir di akses menuju Hotel Harapan Indah. Perkiraan Halte Karees ada di sekitar situ.

Jadi sangat sulit buat direaktivasi. Kalopun bisa cuma sebatas yang sejajar jalur utama dari Stasiun Kiaracondong (KAC). Itupun nggak sampe ke bekas halte Cibangkong Lor, tempat pertemuan sama jalur rel mati Bandung-Ciwidey. Adapun jalur rel mati Bandung-Ciwidey nantinya menyatu sama jalur utama menjelang Stasiun Cikudapateuh (CTH). Rel yang nyatu memang udah terbenam, ada di Jalan Cinta Asih yang sejajar jalur utama.

Kalo nanti jalur rel mati Bandung-Ciwidey direaktivasi paling keretanya berangkat dari Stasiun Bandung (BD) atau Stasiun Cikudapateuh (CTH). Dari Stasiun Kiaracondong (KAC) paling harus ke Stasiun Cikudapateuh (CTH) dulu. Kalo mau langsung bisa, tapi dengan catatan sebagian jalur rel mati Kiaracondong-Karees juga harus dihidupin lagi, terutama yang sejajar jalur utama sampe ke bekas Halte Cibangkong Lor.

Malah harusnya Halte Cibangkong Lor bisa dibangun lagi. Minimal seukuran Stasiun Gadobangkong (GK). Sekedar buat feeder ke Stasiun Kiaracondong (KAC). Itu kalo ogah transit di Stasiun Cikudapateuh (CTH)

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.