Posted on

Gangguan Sinyal, Kereta Api Argo Parahyangan Bisnis Kembali

Waktu itu udah mulai melayani kelas ekonomi plus rangkaian K3 2016, cuma pernah satu hari kereta api Argo Parahyangan Bisnis balik lagi di KA 29. Penyebabnya gangguan sinyal di Karawang.

November 2016 Kereta Api Argo Parahyangan catat sejarah baru. Untuk pertama kalinya sejak tahun 1971 punya layanan kelas ekonomi, gantiin kelas bisnis. Padahal yang namanya Parahyangan nyaris identik sama kelas bisnis (K2) sekalipun punya kelas eksekutif (K1).

Karena kelas bisnis (K2) udah punya segmen pelanggan sendiri, sampai-sampai saat Kereta Api Parahyangan mau pensiun tahun 2010 karena okupasi minim dan digantiin Argo Gede, PT. KAI mau nambahin 1-2 gerbong kelas bisnis. Nggak peduli Kereta Api Argo Gede termasuk eksekutif unggulan. Hingga akhirnya lahirlah Kereta Api Argo Parahyangan, 27 April 2010.

Jadilah Kereta Api Argo Parahyangan yang pertama punya layanan kelas bisnis (K2) Secara kereta api argo memang identik sama kelas eksekutif. Semua karena PT.KAI pengen akomodasi segmen pelanggan kelas bisnis ex-Parahyangan, disamping tetap mempertahankan market eksekutif argo.

Gara-Gara Petisi

Lebarang 2016, PT. KAI nge-launching gerbong ekonomi terbaru K3 2016 yang digadang-gadang ekonomi rasa eksekutif dan lebih bagus daripada kelas bisnis. Awalnya cuma dijadiin kereta api tambahan rute Jakarta Pasar Senen – Kutoarjo. Abis Lebaran 2016, PT. KAI mulai jalanin K3 2016 secara reguler.

3 rangkaian kereta api bisnis (Full K2) yakni Kereta Api Fajar Utama Jogja (Jakarta Pasar Senen-Jogjakarta), Kereta Api Senja Utama Jogja (Jakarta Pasar Senen-Jogjakarta), dan Kereta Api Mutiara Selatan (Bandung-Surabaya Gubeng) dipilih buat dijadiin rangkaian ekonomi plus K3 2016.

Nggak cuma itu, khusus Kereta Api Mutiara Selatan rutenya diperpanjang sampai Stasiun Malang dari semula cuma nyampe Surabaya Gubeng, dan disediain tarif parsial khusus koridor Surabaya-Malang. Lanjutin Kereta Api Singosari Ekspres.

Sayang ternyata harapan nggak sesuai kenyataan. Gerbong ekonomi plus K3 2016 banyak diprotes pelanggan dan warganet. Jarak antar kursinya disebut terlalu sempit dan nggak cocok buat jarak jauh diatas 4 jam. lebih-lebih Kereta Api Mutiara Selatan yang waktu tempuhnya lebih dari 12 jam!

Rame-rame pelanggan kereta api dan warganet bikin petisi via Change.Org minta supaya kelas bisnis dibalikin di 3 rangkaian tadi. Jarak yang sempit juga disebut nyiksa penumpang dan berisiko tinggi.

Menanggapi keluhan pelanggan, PT. KAI akhirnya ngembaliin 3 rangkaian tadi jadi full kelas bisnis (K2). Cuma ngembaliin doang sih nggak segampang ngebalikin telapak tangan. Mesti ada rangkaian lain yang dikorbanin kelas bisnisnya ditukar sama K3 2016.

Nah jadi deh rangkaian kereta api jarak pendek dan menengah yang dikorbanin. Kereta Api Argo Parahyangan, Kereta Api Cirebon Ekspres, Kereta Api Sancaka dan Kereta Api Tegal Bahari harus merelakan gerbong bisnis (K2)-nya diganti sama K3 2016.

Maka sejak itulah Kereta Api Argo Parahyangan layanannya berubah dari eksekutif-bisnis jadi eksekutif-ekonomi plus. Barter gerbong kelas bisnis (K2) sama ekonomi plus (K3 2016) punya Mutiara Selatan. Padahal kelas bisnis udah jadi icon Parahyangan sejak 1971.

Petisi itu bikin abang harus ngalah sama adiknya, merelakan rangkaian K2 dipake sama adik yang dinasannya lebih jauh nyampe ke Malang dan diatas 12 jam. Kalo abangnya mah cuma Bandung-Jakarta 3 jam-an doang.

Gangguan Sinyal di Karawang, Balik Bisnis (K2) Lagi.

Tapi ada satu hari dimana Kereta Api Argo Parahyangan yang udah ganti layanan jadi eksekutif-ekonomi plus (K3 2016) balik lagi jadi eksekutif-bisnis. Kebetulan waktu itu lagi ada gangguan persinyalan di sekitar Stasiun Karawang yang akibatnya banyak kereta api dari arah Jakarta delay, termasuk Kereta Api Argo Parahyangan.

Kebetulan rangkaian Argo Parahyangan KA 29 atau kereta terakhir yang berangkat dari Bandung jam 19.40 WIB itu satu rangkaian sama KA 26 dari Jakarta Gambir jam 15.30. Begitu KA 26 nyampe di Bandung jam 18.39 WIB, kurang dari sejam lagi langsung balik ke Jakarta dan nginap di Stasiun Manggarai, untuk besoknya dinas lagi sebagai KA 20.

Nah, pas lagi gangguan sinyal itu, KA 26 posisinya masih ketahan dan belum masuk Stasiun Karawang. Sementara tinggal 1 jam lagi KA 29 mesti berangkat dari Stasiun Bandung. Kalo nungguin KA 26, jelas KA 29 bakalan terlambat parah dan udah pasti PT. KAI mesti ngeluarin kompensasi ke pelanggan karena delay di atas 3 jam.

Jadi mau nggak mau mesti pake rangkaian kereta api cadangan yang kebetulan idle, untuk dijalanin sebagai KA 29. Nah, dipilihlah rangkaian cadangan Kereta Api Lodaya yang biasanya dijalanin sebagai Kereta Api Lodaya Lebaran, untuk didinasin sebagai KA Argo Parahyangan 29. Sementara Kereta Api Lodaya layanannya masih eksekutif-bisnis.

Mungkin inilah sedikit hikmah dibalik kejadian gangguan sinyal di Stasiun Karawang. Kereta Api Argo Parahyangan Bisnis akhirnya balik lagi meski untuk sementara waktu dan cuma di hari itu aja. Dinas sebagai KA 26 (dan besoknya KA 20 dari Gambir).

Sebetulnya kereta api Argo Parahyangan bisnis nggak benar-benar hilang kok. Paling nggak untuk sekarang. KA 31-32 yang jalan setiap weekend dan KA 21-24 khusus hari Senin masih punya layanan kelas bisnis (K2). Meski rangkaiannya boleh pinjam punya Kereta Api Harina di rute Bandung-Semarang-Surabaya Pasar Turi.

Sama kaya Lodaya, Kereta Api Harina juga masih melayani kelas bisnis (K2), selain kelas eksekutif dan ekonomi. Maka dari itu, manfaatkanlah selagi masih ada, sebelum nanti semua K2 hilang diganti sama Premium.

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.