Terowongan Lampegan

Terowongan Lampegan adalah terowongan kereta api pertama dan tertua di Indonesia. Dibangun tahun 1879-1882 bagian dari jalur kereta api Manggarai-Padalarang. Aktif lagi tahun 2014 setelah direstorasi tahun 2010.

Wilayah Priangan yang didominasi pegunungan membuat pembangunan jalur kereta api harus ada tanjakan dan turunan di beberapa bagian. Bahkan ada kalanya ekstrem seperti di Priangan Timur. Malah di petak Cipatat-Tagog Apu jalurnya lebih ekstrem dari Priangan Timur. Sehingga harusnya dibuat bergerigi.

Di beberapa bagian harus dibangun jembatan dengan bentang panjang atau ketinggian yang ekstrem. Misalnya jembatan Citiis di Nagreg. Ini jadi bagian dari jalur Priangan Timur. Begitupun Jembatan Cikubang, aktif terpanjang di Indonesia saat ini.

Untuk jalur kereta api pertama yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. Jalur ini dibangun 1878-1884 sebagai kelanjutan dari segmen Batavia-Buitenzorg yang udah dibangun oleh NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij), perusahaan kereta api swasta Belanda.

Pembangunan jalur kereta api menuju Priangan dibagi dalam 5 tahap dimana terowongan ini jadi bagian dari Tahap ke-3 di segmen Sukabumi-Cianjur yang selesai 10 Mei 1883.

Terowongan Lampegan, Asal Usul Nama

Terowongan ini berada di km 73 jalur kereta api Manggarai Padalarang. Merupakan perbatasan dari dua kabupaten: Sukabumi dan Cianjur. Bagian Barat terowongan masuk wilayah Kabupaten Sukabumi di daerah Cireungas. Adapun bagian timurnya masuk Kabupaten Cianjur.

Secara administrasi terowongan ada di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Termasuk dalam Wilayah Daop 2 Bandung. Sebenarnya terowongan ini bernama Cimenteng. Namun justru lebih terkenal dengan Lampegan.

Terowongan ini memiliki panjang 686 meter menembus Gunung Kendeng. Terletak di ketinggian 652 mdpl. Terus gimana ceritanya terowongan malah lebih terkenal dengan nama Lampegan daripada Cimenteng?

Jadi gini, dimasa pembangunan jalur kereta api antara Bogor dan Bandung ada bagian yang nggak bisa dilewatin dengan cara menanjak. Karena bakal terlalu ekstrem dan susah dilewatin kereta api. Jadi mau nggak mau daerah Gunung Kendeng harus diterobos alias dibikin terowongan.

Waktu lagi tahap pengerjaan, pengawas proyek sering ngucap “Lamp-pegang” (bahasa Belanda campur) yang artinya pegang lampu. Proyek menembus gunung jadi otomatis gelap.

Terus ada lagi cerita dimana masinis atau asistennya akan melewati kawasan ini dan ngomong “Lampen-aan” (bahasa Belanda). Artinya “Nyalakan Lampu”. Karena kereta akan melewati kawasan gelap menembus Gunung Kendeng.

Walaupun nggak sepenuhnya tepat, dua hal ini disebut sebagai asal usul nama Lampegan. Hingga akhirnya orang lebih mengenal terowongan ini dengan nama Lampegan. Adapun dalam bahasa sunda, nama tersebut berasal dari Lamping-an yang artinya tepat di lereng gunung.

Bagian dalam Terowongan Lampegan
Bagian dalam terowongan Lampegan sejauh 686 meter. Konon nama Lampegan berasal dari ucapan “Lamp-pegang” (pegang lampu dalam bahasa Belanda) waktu proses pengerjaan terowongan dan jalur kereta api sekitar tahun 1882-1883 di segmen Sukabumi-Cianjur. Versi lainnya ialah “Lampen-aan” yang artinya nyalakan lampu karena kereta akan melewati terowongan gelap. Sejatinya terowongan ini bernama Cimenteng, sesuai posisi secara administrasi di Desa Cimenteng Kabupaten Cianjur.

Sempat Ambruk di Tahun 2000-an

Terowongan Lampegan punya peran penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Keberadaannya vital sebagai bagian dari penghubung antara barat dan timur Pulau Jawa. Terutama ketika jalur kereta api via Priangan Selatan masih jadi satu-satunya akses.

Setelah Indonesia merdeka pun demikian. Masih jadi bagian penting. Meski traffic-nya nggak seramai Terowongan Sasaksaat yang ada di jalur Cikampek-Padalarang. Di masa lalu pernah ada dua kereta api yang lewat sini.

Pertama, Kereta Api Cepat Jakarta-Cianjur yang pake armada KRD MCW 302. Kereta ini sering muncul di film-film nasional sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an.

Kedua, tentu saja Kereta Api Argo Peuyeum (belakangan jadi Lokal Cianjuran). Inilah rangkaian kereta yang menghubungkan Bandung dan Sukabumi. Nggak jelas kapan mulai dinas tapi yang pasti udah ada sejak zaman Perumka (1990-an).

Kereta ini terbilang unik karena satu trainset cuma terdiri dari dua kereta ekonomi (K3) yang ditarik lokomotif BB 301/304. Peminatnya juga cukup tinggi. Meski ada aja penumpang yang ngambing (nggak beli tiket).

Sayang di tahun 2000 Terowongan Lampegan mengalami longsor. Terjadi akibat dari rembesan air di bagian atas sehingga membuat terowongan hancur. Otomatis Bandung dan Sukabumi terputus. Perka Argo Peuyeum dipotong jadi cuma sampe Stasiun Lampegan yang tepat berada di depan terowongan. Sebelum akhirnya dipotong lagi jadi cuma ke Cianjur.

Setelah sempat direnovasi bulan September 2000, terowongan ambruk lagi pada 12 Maret 2001. Disebut-sebut sebagai efek dari getaran gempa bumi yang terjadi di selatan Cianjur dan Sukabumi waktu itu. Segmen Sukabumi-Cianjur putus lagi. Bahkan harus terlelap dalam waktu yang lama.

Terowongan Lampegan telah aktif lagi.
Sempat ambruk di awal millenium, terowongan Lampegan direstorasi tahun 2010 dan aktif lagi mulai 8 Februari 2014 bersamaan awal dinas Kereta Api Siliwangi di rute Sukabumi-Cianjur. Sekarang diperpanjang sampe Stasiun Ciranjang (CRJ).

Terowongan Lampegan Direstorasi 2010 dan Aktif Lagi 8 Februari 2014

Sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang pastinya bersejarah. Keberadaan saksi sejarah perkeretaapian Indonesia ini nggak boleh diabaikan begitu saja. Harus ada perhatian serius. Pada tahun 2010 terowongan ini pun direstorasi. Sejumlah ujicoba dilakukan untuk memastikannya aman dilewati kereta.

4 tahun kemudian tepatnya pada tanggal 8 Februari 2014 terowongan Lampegan aktif lagi dan dilewati kereta secara reguler. Bersamaan dengan beroperasinya Kereta Api Siliwangi di rute Sukabumi-Cianjur PP.

Kereta Api Siliwangi, sekarang diperpanjang sampe Stasiun Ciranjang (CRJ), jadi satu-satunya rangkaian kereta api yang melintas reguler di sini. Dalam sehari ada sekitar 6 Perka. Rinciannya 3 Perka di rute Sukabumi-Ciranjang dan 3 lagi di rute sebaliknya.

Perka yang nggak serame Sasaksaan membuat Terowongan Lampegan sering jadi objek wisata. Untuk menjangkaunya memang nggak susah. Tinggal naik Kereta Api Siliwangi terus turun di Stasiun Lampegan. Jalan kaki sedikit udah nyampe depan terowongan di sisi Timur. Disini bisa sekalian mengabadikan lewat foto atau video.

Advertisements