Stasiun Tagog Apu

Stasiun Tagog Apu (TAU) dibangun tahun 1884 seiring pembangunan jalur kereta api Batavia-Bandung via Buitenzorg (1881-1884). Sayang bagian dari sejarah ini sekarang terbengkalai meski bangunannya masih terawat.

Stasiun ini terletak di Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Aslinya posisi stasiun cukup strategis. Karena nggak jauh dari Jalan Raya Purwakarta yang merupakan jalan nasional.

Malah jauh lebih strategis daripada Stasiun Cilame (CLE) kalo diliat dari akses angkutan umum. Untuk ke Stasiun Tagog Apu (TAU) cukup naik angkot kuning jurusan Cikalong. Bisa juga naik bus yang ke arah Jakarta tapi nggak lewat Tol Cipularang.

Adapun Stasiun Cilame posisinya jauh dari jalan utama. Aksesnya lumayan sulit, udah berasa mendaki gunung. Sejalan ke Perkebunan Pangheotan punya PTPN VIII. Pastinya nggak ada angkutan umum ke sana. Kecuali ojek pengkolan.

Stasiun Tagog Apu
Stasiun Tagog Apu (TAU). Terletak di Desa Tagog Apu, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Bangunan fisik stasiun cukup terawat meski udah 7 tahun nggak dilewati kereta api. Kecuali kereta inspeksi.

Stasiun Tagog Apu (TAU), Terakhir Layani Kereta Api Argo Peuyeum

Stasiun ini terakhir kali beroperasi reguler sebelum Lebaran 2012. Waktu itu masih melayani perjalanan Lokal Cianjuran atau lebih dikenal Kereta Api Argo Peuyeum. Rangkaian kereta dengan formasi 2 kereta ekonomi (K3) ditarik lokomotif BB 301/304 ini melintas reguler di masanya.

Rangkaian kereta ini terbilang unik karena cuma menarik dua kereta. Kenapa bisa terjadi? Semua nggak lepas dari kondisi lintasan Padalarang-Cipatat yang jadi bagian dari jalur kereta api Padalarang-Manggarai atau jalur kereta api pertama penghubung Bandung dan Jakarta.

Lintasan terutama di petak Tagog Apu-Cipatat itu sangat ekstrem. Jalurnya mirip sama roller coaster. Bahkan boleh dibilang lebih ekstrem daripada jalur di Priangan Timur yang masih bisa dilewati kereta api dengan formasi 11-12 gerbong. Bahkan dengan lokomotif sekelas CC 206.

Adapun di sini cuma bisa lokomotif BB 301 dan BB 304. Lokomotif ini jelas udah uzur dan suku cadangnya pun sulit didapat. Memang masih ada yang dinas di Madiun dan Jember. Tapi hanya sebatas jadi lokomotif langsir aja. Atau kaya di Madiun, dipake buat narik kereta ketel ke Depot Pertamina.

Sayangnya karena pemerintah nggak alokasikan PSO untuk Kereta Api Argo Peuyeum, layanan kereta di sini jelas nggak menghasilkan keuntungan buat perusahaan. Dibilang rugi jelas. Sementara biaya operasional cukup tinggi. Bayangin aja Padalarang ke Cianjur cuma sekitar Rp 2.500.

Maka itu PT. KAI Daop 2 Bandung coba upgrade layanan Kereta Api Argo Peuyeum dari kereta ekonomi jadi kereta bisnis (K2). Karena naik kelas tarifnya udah pasti naik. Waktu itu dipatok sekitar Rp 10.000,00. Artinya naik 4 kali lipat dari tarif sebelumnya.

Mungkin kalo perkanya sampe ke Stasiun Bandung (BD) masih dianggap wajar. Tapi ini kan cuma sampe Padalarang (PDL) dan kalo mau lanjut ke Bandung (BD) harus pindah kereta api Lokal Bandung Raya atau Patas Bandung Raya yang waktu itu masih beroperasi armada MCW 302.

Udah tarifnya naik, malah bus ada yang tarifnya lebih murah daripada itu. Belum lagi waktu tempuhnya lebih lama karena keberadaan jalur ekstreme tadi. Maka jadilah Kereta Api Argo Peuyeum bisnis nggak laku. Nggak lama kemudian pensiun karena kendala teknis pada lokomotif.

Sedikit info, Lokomotif BB 301/304 yang rutin dinas Argo Peuyeum itu termasuk loko lawas. Udah ada di Indonesia sejak tahun 1960-an. Di masa jayanya pernah dinas bawa kereta unggulan seperti Kereta Api Parahyangan (kelak jadi Kereta Api Argo Parahyangan).

Namun seiring berjalan waktu keberadaannya mulai tergantikan sama armada CC 201 yang mulai menapaki bumi pertiwi di era 1970-an. Hingga akhirnya cuma jadi loko langsir atau dinasan jarak pendek. Khusus Argo Peuyeum, si Mbah ini benar-benar sangat diandalkan.

Benar aja, begitu Mbah-nya udah nggak bisa jalan lagi karena kekurangan suku cadang, Kereta Api Argo Peuyeum pun terpaksa harus pensiun. Jalur Padalarang-Cianjur pun otomatis turun kasta jadi semi aktif. Karena nggak lagi dilintasi kereta api reguler berjadwal.

Adapun armada keretanya dialokasikan ke kereta lain sesama penghuni Dipo Bandung (BD) sesuai dengan kebijakan KDK-nya. Jadi ex-K2 nya Argo Peuyeum bisa dibawa Argo Parahyangan dan Mutiara Selatan (waktu itu masih punya layanan kereta bisnis), Lodaya (masih punya BD) hingga Malabar.

Jalur turun kasta, otomatis Stasiun Tagog Apu (TAU) pun terkena dampak. Stasiun kecil namun strategis ini pun harus tutup. Karena nggak ada lagi layanan kereta reguler. Kecuali sebatas kereta inspeksi untuk pengecekan jalur supaya nggak diokupasi sembarangan seperti yang udah-udah.

Emplasemen Timur Stasiun Tagog Apu (TAU)
Emplasemen Timur Stasiun Tagog Apu (TAU). Nggak ada lagi layanan kereta reguler di sini setelah Kereta Api Argo Peuyeum (Lokal Cianjuran) rute Padalarang-Cianjur PP pensiun di pertengahan tahun 2012. Akibat lokomotif BB 301/304 kekurangan suku cadang. Inilah satu-satunya lokomotif yang bisa diandalkan di sini karena keberadaan jalur ekstrem di petak Tagog Apu-Cipatat. Lokomotif CC nggak bisa dinas di sini.

Kiansantang Batal Melintas

Pertengahan 2014 sempat ada titik terang jalur dan stasiun akan kembali dilintasi Kereta Api dan beroperasi secara reguler. Waktu itu PT.KAI operasikan sejumlah rute perintis seperti Bogor Paledang-Sukabumi dilayani KA Pangrango dan Sukabumi-Cianjur dengan KA Siliwangi.

Rencananya untuk Bandung-Cianjur akan dilayani KA Kiansantang. Tujuannya jelas buat hidupin lagi jalur bersejarah yang jadi penghubung pertama antara Bandung dan Jakarta. Selain itu untuk mempermudah orang Bogor agar nggak harus ke Jakarta dulu kalo mau ke Bandung.

Dua kereta udah beroperasi reguler. Okupasinya lumayan, meski untuk Siliwangi sempat minim hingga akhirnya kembali ramai setelah ditetapkan tarif PSO sebesar Rp 3.000,00 dengan layanan satu kereta ekonomi (K3). Sebelumnya KA Siliwangi juga punya layanan kereta eksekutif (K1).

Namun sayang KA Kiansantang urung beroperasi. Keberadaan lintasan ekstrem di petak Tagog Apu-Cipatat lagi-lagi jadi halangan. Sempat diuji coba pake KLB Kiansantang manfaatin idle Kahuripan 8 gerbong ditarik loko CC 206. Tapi sejumlah masalah terjadi di lintasan ekstrem tadi.

Nggak lama setelah uji coba KLB Kiansantang ada petak yang longsor. Longsor juga jadi masalah di jalur legendaris ini. Di tahun 2001 pernah terjadi di terowongan Lampegan hingga mematikan 70% dari semua jalur kalo dihitung dari ruas Padalarang-Bogor.

Sebelum akhirnya terowongan Lampegan dipugar dan diperkuat. Sekarang kembali aktif dilewati kereta api Siliwangi secara reguler di rute Sukabumi-Cianjur hingga Ciranjang.

Balik lagi ke Stasiun Tagog Apu (TAU). Batalnya pengoperasian KA Kiansantang otomatis harus membuat stasiun kecil di jalur legendaris ini bersabar agar bisa beroperasi reguler lagi. Sayang banget memang apalagi udah pake sistem persinyalan elektrik buatan PT. LEN Industri.

Kita berharap semoga ada solusi buat petak ekstrem dan longsor yang selalu menghantui jalur legendaris ini. Sehingga stasiun pun bisa beroperasi secara reguler. Sayang banget posisinya udah lumayan strategis nggak jauh dari jalan raya.

Emplasemen barat Stasiun Tagog Apu. Terlihat persinyalan elektrik buatan PT. LEN Industri yang sempat dipasang di sini. Sinyal keluar menuju Stasiun Padalarang (PDL). Tahun 2014 stasiun sempat akan aktif dan beroperasi reguler. Sayang KA Kiansantang urung beroperasi karena lintasan ekstrem dan rawan longsor. Stasiun pun harus bersabar sekali lagi untuk bisa beroperasi reguler.

Udah Aktif Sampe Ciranjang

Sejatinya jalur kereta api Padalarang-Manggarai udah aktif 80% seiring dibukanya petak antara Stasiun Cianjur dan Stasiun Ciranjang. Perjalanan KA Siliwangi pun diperpanjang hingga Ciranjang.

Saat ini lagi coba diaktifkan ruas antara Stasiun Ciranjang dan Stasiun Cipatat. Ruas ini melewati 1 stasiun dan 1 halte yakni Stasiun Cipeuyeum dan Halte Rajamandala. Selain itu juga melewati Jembatan Leuwijurig di atas Sungai Citarum.

Cuma untuk mengaktifkan lagi ruas antara Cipatat dan Padalarang bukan perkara gampang. Apalagi kalo bukan keberadaan jalur ekstreme sampe Stasiun Tagog Apu (TAU), yang melebihi jalur utama di Priangan Timur.

Malah sekarang lagi ada kajian buat bikin shortcut ke Stasiun Cilame (CLE). Itu artinya pertemuan dua jalur kereta api Bandung Jakarta nantinya nggak lagi di Cihaliwung Padalarang, melainkan di Cilame. Untuk nyampe ke sana jelas harus bangun jembatan.

Perencanaannya memang begitu. Mesti ada jembatan sepanjang kurang lebih 10 km. Ini potensial jadi jembatan terpanjang di Indonesia memecahkan rekor jembatan Cikubang saat ini, atau jembatan Cikacepit di jalur non-aktif Pangandaran.

Sayang sekali kalo memang shortcut jadi dibangun, entah harus bikin jembatan baru tadi atau menembus bukit dan ketemu di Sasaksaat (SKT) hingga ketemu sama jalur Bandung-Jakarta sekarang.

Stasiun Tagog Apu (TAU) otomatis bakal jadi stasiun non-aktif. Rel nya pun bakal benar-benar mati. Nasibnya bakal sama kaya Stasiun Banyuwangi Lama yang akhirnya mati digantikan Stasiun Banyuwangi Baru sekarang.

Padahal Stasiun Tagog Apu (TAU) merupakan bagian dari sejarah perkeretaapian Indonesia. Inilah jalur kereta api Batavia-Bandung yang dibangun pertama kali oleh Pemerintah Kolonial Belanda. (baca juga : Jalur KA Jakarta Bandung dalam Sejarah)

Advertisements