Stasiun Garut

Stasiun Garut (GRT) yang dibuka tahun 1889 ini lagi dalam proses revitalisasi dan reaktivasi. Setelah tutup selama kurang lebih 35 tahun. Terakhir stasiun ini beroperasi tahun 1984. Diaktifkannya kembali stasiun ini bisa membangkitkan perekonomian Kota Garut dan sekitarnya.

Akses menuju Kota Garut memang nggak banyak pilihan selain cuma lewat jalan raya. Kalopun ada kereta api paling bisanya turun di stasiun terdekat. Bisa di Stasiun Leles (LL), Stasiun Cibatu (CB), Stasiun Warung Bandrek (WBD), Stasiun Bumiwaluya (BMW), hingga Stasiun Cipeundeuy (CPD).

Dari kelima tersebut, Stasiun Cibatu (CB) jadi stasiun terbesar tapi nggak melayani perjalanan kereta api Jarak Jauh (KAJJ) kecuali Kereta Api Serayu dan Kereta Api Pasundan. Meski kini juga melayani Kereta Api Galunggung dan Kereta Api Pangandaran.

Dulu pernah ada jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Cibatu (CB) dan Stasiun Garut (GRT). Dibangun mulai tahun 1887-1889 sebagai kelanjutan dari jalur kereta api Batavia-Bandung-Cicalengka via Buitenzorg (Bogor). Jalur ini dibangun bersamaan dengan jalur menuju Cilacap.

Adapun latar belakang pembangunan nggak jauh dari kepentingan ekonomi. Garut waktu itu masih merupakan daerah terpencil di Priangan Timur. Padahal punya potensi ekonomi bagus. Makanya dibangun jalur kereta api ke sana.

Bagian dalam Stasiun Garut (GRT) kini.
Bagian dalam Stasiun Garut (GRT) kini.

Stasiun Garut, Dari Si Gombar Hingga Charlie Chaplin

Jalur kereta api akhirnya tembus ke wilayah Kota Garut tahun 1889. Perkiraan stasiun pun mulai dibangun pada tahun tersebut. Jalur lanjutan ini termasuk favorit di masanya. Karena kita akan disuguhi pemandangan eksotis Priangan Timur sepanjang perjalanan.

Ditambah lagi Garut dikelilingi pegunungan seperti Gunung Cikuray, Gunung Guntur, hingga Gunung Papandayan. Keberadaan objek wisata alam sekelas Situ Bagendit hingga Sungai Cimanuk yang membelah Garut menambah keasrian daerah tersebut.

Makanya sah-sah aja keberadaan gugusan pegunungan tersebut menjadikan Garut punya julukan Swiss Van Java. Layaknya Negara Swiss di Eropa yang juga dikelilingi pegunungan.

Oke balik lagi ke jalur kereta api Cibatu-Garut. Ngomongin jalur legendaris ini rasanya kurang sempurna kalo nggak sekalian bahas 2 sosok yang sangat identik di sini. Si Gombar dan Charlie Chaplin.

Si Gombar adalah sebutan buat lokomotif uap bertenaga besar yang mampu menaklukkan jalur pegunungan extreme. Sejatinya ini adalah lokomotif uap jenis DD52 yang awalnya diperuntukkan buat tarik kereta barang, meski ada yang dipake dinas kereta penumpang.

Selain DD52 ada lagi lokomotif CC50 “Sri Gunung”. Ini adalah lokomotif unggulan di zaman kolonial. Mirip-mirip si Puong di masa kini. Kita seringkali salah nyebut CC50 juga sebagai si Gombar. Padahal mah beda jenis. Kesamaannya keduanya adalah sama-sama “Mallet”.

Sosok kedua yang nggak bisa dipisahkan dari jalur legendaris ini ialah Charlie Chaplin. Seniman terkenal ini berkunjung 2 kali ke Garut yakni tahun 1932 bersama Mary Pickford dan 1936 bersama Paulette Goddart.

Di Garut, Charlie Chaplin sempat mengunjungi sejumlah objek wisata yang masih eksis hingga sekarang yakni Kawah Papandayan, Situ Cangkuang, dan Situ Bagendit. Komedian asal Inggris tersebut menggunakan moda transportasi Kereta Api menuju Garut.

Makanya Stasiun Cibatu (CB), Stasiun Garut (GRT), dan Jalur kereta api Cibatu Garut yang lagi dalam tahap reaktivasi semua nggak bisa lepas dari Sang Seniman.

Bekas emplasemen Stasiun Garut (GRT).
Bekas emplasemen Stasiun Garut (GRT). Selepas jalur kereta api dan stasiun non-aktif tahun 1984, bangunan ini beralih fungsi jadi kantor Ormas. Hingga bekas emplasemen pun berubah dan dikasih tembok pembatas yang asalnya nggak ada.

Masa Kejayaan Itupun Pudar.

Kereta Api di Garut masih tetap eksis hingga Indonesia merdeka. Namun sayang situasi politik yang berkembang di periode 1965-1966 ternyata mengharuskan adanya pergantian rezim di negeri ini.

Beda sama Bung Karno yang masih tetap melestarikan kereta api, suksesornya ternyata beda dalam hal transportasi. Di zaman Orde Baru sangat gencar pembangunan jalan raya hingga pelosok. Di saat yang sama sarana dan prasarana kereta api seperti dipinggirkan.

Terutama di lintas cabang, nyaris bahkan nggak ada perhatian sama sekali. Termasuk di jalur Cibatu-Garut, armada lokomotif D52 dan CC50 masih tetap jadi andalan meski sudah semakin uzur dan hanya mengandalkan tenaga sisa. Begitu juga rel kereta apinya.

Hingga masuk era 1980-an, Perkeretaapian di Swiss Van Java benar-benar berada di titik nadir. Jalur kereta api Cibatu-Garut akhirnya tutup pada tahun 1984. Berakhir sudah riwayat perkeretaapian di Kota Garut. Persaingan dengan angkutan jalan raya jadi alasan penutupan.

Stasiun Garut (GRT) dalam prose Revitalisasi dan Reaktivasi.
Stasiun Garut (GRT) dalam Proses Revitalisasi dan Reaktivasi. Ditargetkan jalur menuju Kota Garut hidup lagi tahun 2020. Untuk menggairahkan kembali perekonomian Garut terutama di sektor Pariwisata yang jadi andalan.

Reaktivasi Jalur Kereta Api dan Stasiun Garut (GRT)

Hampir 35 tahun sudah kereta api menghilang dari Swiss Van Java. Memang Kabupaten Garut secara umum masih dilewati kereta api. Cuma sebatas di jalur utama dan hanya ada stasiun-stasiun kecil saja. Dimana stasiun-stasiun itu kadang cuma layani persilangan dan susulan.

Stasiun Cibatu (CB) jadi stasiun terbesar di Kabupaten Garut. Namun sayang nggak ada KAJJ berhenti di sini kecuali Kereta Api Galunggung, Serayu, Pangandaran dan Pasundan. Justru Stasiun Cipeundeuy (CPD) yang lebih kecil jadi pemberhentian semua kereta api sekalian periksa rem.

Padahal jarak antara Stasiun Cipeundeuy (CPD) ke Kota Garut lebih jauh daripada Stasiun Cibatu (CB). Selama nggak ada kereta api yang tembus, angkot boleh jadi satu-satunya andalan menuju Garut. Disamping angkutan jalan raya lainnya seperti bus dan travel.

Sulitnya akses inilah yang akhirnya memunculkan wacana reaktivasi jalur Kereta Api Cibatu Garut. Wacana ini udah berlangsung lama, sejak 2008, bahkan sebelum itupun pernah ada. Sayangnya puluhan tahun tak dilewati si ular besi, lintasan pun banyak beralih fungsi.

Ditutupnya jalur kereta api pada tahun 1984 membuat banyak bangunan berdiri di atas jalan rel beberapa tahun kemudian. Bangunan stasiun pun banyak beralih fungsi. Termasuk Stasiun Garut (GRT) yang jadi kantor Ormas.

Akhirnya reaktivasi menemui titik terang menjelang akhir 2018. Adalah Gubernur Jawa Barat Terpilih, Bapak Ridwan Kamil, memberi dukungan penuh dan lampu hijau terhadap reaktivasi tersebut. Warga di sepanjag jalur rel pun akhirnya mau pindah demi kepentingan yang lebih besar.

Jalur kereta api Cibatu-Garut mendapat prioritas utama diantara jalur-jalur lainnya di Jawa Barat. Malah di atas jalur Padalarang-Cianjur yang sejatinya masih utuh dan belum beralih fungsi. Pertimbangannya itu tadi, potensi wisata dan nilai sejarah.

Sempat menjadi kantor Ormas, bangunan Stasiun Garut (GRT) pun kini bersiap untuk didandani lagi. Auranya pun udah beda. Seolah nggak sabar untuk kembali melayani aktivitas perkeretaapian.

Emplasemen Stasiun Garut (GRT) arah Cibatu (CB)
Emplasemen Stasiun Garut (GRT) arah Cibatu (CB)

Emplasemen arah Cikajang
Emplasemen arah Cikajang. Sisa kantor Ormas masih terasa. Meski aura kereta api mulai kembali di sini.

Direncanakan jalur Kereta Api Cibatu-Garut aktif lagi tahun 2020. Termasuk Stasiun Garut (GRT). Kita tunggu saja kembalinya si ular besi ke Kota Garut setelah menghilang selama 35 tahun lamanya.

Advertisements