Stasiun Cibatu

stasiun cibatu

Stasiun Cibatu (CB) adalah stasiun terbesar di Kabupaten Garut saat ini. Sayang nggak semua kereta api jarak jauh dilayani di sini. Punya percabangan ke Garut Kota yang lagi dalam tahap reaktivasi. Direncanakan jalur tersebut aktif lagi di akhir 2019.

Stasiun ini dibangun tahun 1889 seiring beresnya pembangunan jalur kereta api Bandung-Garut dan Bandung-Cilacap. Jalur ini dibangun 1887-1889 atau 2 tahun. Disinilah dua segmen tersebut bercabang. Rel ke Garut belok selatan sementara yang Cilacap terus ke timur via Warung Bandrek.

Awalnya jalur dari Batavia berakhir di Cicalengka. Semua proyek selesai 10 September 1884 bersamaan pembukaan Stasiun Cicalengka. Ternyata Pemerintah Kolonial Belanda belum puas cuma tembus ke Cicalengka dan ingin mengeksploitasi Tanah Priangan lebih ke pelosok lagi.

Kebetulah salah satu kawasan terpencil di zaman itu ialah Garut. Daerah pelosok yang punya potensi ekonomi baik hasil bumi maupun potensi wisata alam.

Di sisi lain Pemerintah Kolonial Belanda juga punya alasan politis memperpanjang jalur kereta api sampe ke timur Pulau Jawa. Dampak dari Perang Jawa (Perang Diponegoro) yang menguras banyak anggaran. Mobilitas pasukan juga terkendala medan berat.

Maka dari itu jalur yang udah ada mau disambung sampe ke Surabaya via Cilacap. Kebetulan Cilacap sendiri udah punya pelabuhan Laut yang selain buat tentara juga buat angkutan hasil bumi. Supaya nggak semua dikirim via Tanjung Priok di Batavia.

Stasiun Cibatu: Percabangan ke Garut dan Charlie Chaplin

Tahun 1887 dimulailah proses pembangunan jalur kereta api Bandung Garut dan Bandung Cilacap. Sebenarnya sih sama aja. Sejalur sama ke arah Timur melewati Nagreg dan lembah Mandalawangi. Hingga akhirnya sampe di Stasiun Cibatu.

Dari sini jalur pun berpisah alias bercabang. Satu terus ke Timur sampe Cilacap dan jadi jalur utama saat ini. Satunya lagi belok ke selatan menuju Garut hingga Cikajang.

Karena ada percabangan ini posisi Stasiun Cibatu (CB) sangat strategis ketika itu. Karena siapapun yang mau ke Garut pasti bakal singgah dulu di sini buat ganti kereta. Meski mungkin ada juga kereta yang langusng menuju Stasiun Garut hingga Cikajang.

Salah satu tokoh dunia yang pernah merasakan nilai strategis stasiun ini ialah Charlie Chaplin. Seniman asal Inggris ini pernah berkunjung ke Garut dua kali menggunakan moda transportasi kereta api. Makanya nanti bakal dibangun Museum Charlie Chaplin sebagai bagian dari pengembangan.

Mecca of Mallet

Stasiun ini juga pernah dapat sebutan Mecca of Mallet. Apa itu? Mallet adalah lokomotif juap bertenaga besar di zamannya. Di antara loko uap tersebut ialah CC 50 dan DD 52 alias “si Gombar”. Bicara soal si Gombar seolah jadi legenda di Tanah Garut.

Armada CC 50 pun kadang dianggap si Gombar padahal bukan. Boleh jadi CC 10 pun demikian karena ada yang dinas di jalur Cibatu-Garut. Meski bukan termasuk jenis Mallet.

Mecca of Mallet artinya rumah buat lokomotif uap bertenaga besar tadi. Karena lokomotif tersebut sangat cocok dinas di jalur Priangan yang di dominasi pegunungan. Sering melewati tanjakan dan turunan kadang ekstrem. Semua lokomotif disimpan di Dipo Lokomotif Cibatu.

Sub Dipo Lokomotif Cibatu
Sub Dipo Lokomotif Cibatu, nggak jauh dari Stasiun Cibatu (CB). Dulu pernah jadi rumah Mallet. Lokomotif uap CC 50 dan DD 52

Periode Kelam Stasiun Cibatu

Kejayaan Stasiun Cibatu dan Perkeretaapian Garut terus berlanjut hingga Indonesia merdeka. Sayang situasi politik di tahun 1965-1967 memaksa pergantian rezim di negeri ini. Rezim baru ternyata nggak begitu perhatian sama kereta api. Terutama di lintas-lintas cabang.

Periode awal pemerintahan Orde Baru orientasinya lebih ke jalan raya daripada kereta api. Jalan raya dibangun dimana-mana. Angkutan seperti angkot, minibus, dan sejenis mulai dominan. Menggeser kereta api. Termasuk di jalur Cibatu-Garut.

Sarana dan Pra Sarana dibiarkan uzur. Hingga memasuki era 1980-an lokomotif uap CC 50 maupun DD 52 masih tetap jadi andalan. Meski tenaganya tinggal ampas. Makanya jangan heran pada akhirnya harus kalah saing sama angkutan jalan raya.

Jalur Garut-Cikajang ditutup tahun 1981. Menyusul Cibatu-Garut tahun 1984. Ini jadi lintas cabang terakhir di Tanah Priangan yang di non-aktifkan. Setelahnya jalur jadi terbengkalai dan banyak berdiri bangunan-bangunan permanen hingga semi permanen.

Inilah periode kelam Stasiun Cibatu, sekaligus perkeretaapian Garut secara umum. Stasiun pun jadi sebatas melayani perjalanan kereta lokal jurusan Bandung dan Purwakarta. Juga beberapa perjalanan kereta api jarak jauh kelas ekonomi.

Layani KA Pangandaran, KA Pasundan dan KA Serayu

Meski stasiun besar dan punya Sub-Dipo Lokomotif (sebelumnya Dipo), stasiun ini cuma melayani 2 kereta api jarak jauh (KAJJ) yakkni KA Pasundan (Surabaya Gubeng-Kiaracondong PP) dan KA Serayu (Purwokerto-Pasar Senen PP).

Selebihnya cuma melayani perjalanan KA Elok Cibatu (Purwakarta-Cibatu PP) dan KA Lokal Bandung Raya (Padalarang-Cibatu PP). Namun mulai awal tahun 2019 ada tambahan dua KAJJ dilayani di sini yakni KA Galunggung (Kiaracondong-Tasikmalaya PP) dan KA Pangandaran (Gambir-Banjar/Bandung-Banjar PP).

Dua KAJJ tersebut diluncurkan di waktu berbeda. KA Galunggung tanggal 26 Desember 2018. Sementara KA Pangandaran tanggal 2 Januari 2019 sebagai pengembangan dari KA Argo Parahyangan. Stasiun Cibatu (CB) pun mulai bangkit lagi dari keterpurukan.

Proyek Reaktivasi jalur kereta api menuju Stasiun Garut (GRT) yang rencananya selesai akhir 2019 menambah greget. Sekaligus jadi momen bangkitnya perkeretaapian di Swiss Van Java, julukan Garut.

Turntable Stasiun Cibatu (CB)
Turntable Stasiun Cibatu (CB). Masih aktif hingga kini.

Fasilitas Saat Ini

Stasiun Cibatu (CB) punya fasilitas standard seperti stasiun besar pada umumnya. Seperti Toilet dan Musholla. Begitu juga loket tempat pembelian dan reservasi tiket. Check in counter. Hingga fasilitas buat keretanya itu sendiri yakni Sub Dipo Cibatu dan Turntable yang masih aktif.

Adapun fasilitas penunjang yang sifatnya swadaya dari masyarakat ada penitipan motor di warung-warung seberang stasiun percis. Reaktivasi jalur menuju Stasiun Garut (GRT) otomatis ikut meningkatkan fasilitas yang ada di stasiun ini. Misalnya musholla sekarang diupgrade jadi masjid.

Nantinya juga bakal dibangun Museum Charlie Chaplin. Seperti kita tahu, seniman asal Inggris ini sempat singgah di Stasiun Cibatu dalam perjalanan menuju Garut dan sebelum lanjut ke Jogja.

Penitipan Motor di depan Stasiun
Jasa Penitipan Motor di Depan Stasiun.
Advertisements