Cilame dan Tagog Apu, Beda Nasib Stasiun Sejajar

Cilame dan Tagog Apu Beda Nasib Dua Stasiun Sejajar

Cilame dan Tagog Apu, dua stasiun ini sebenarnya sejajar. Posisi satunya lebih tinggi dan harus setengah mendaki gunung. Nasib pulalah yang membedakan keduanya. Bahkan yang lebih tua malah terancam non-aktif selamanya.

Begitulah nasib dua stasiun yang telah eksis dari zaman kolonial tersebut. Stasiun Cilame (CLE) meski lebih banyak jadi tempat persilangan dan susuk jauh lebih ramai. Wajar aja karena berada di jalur utama Cikampek-Padalarang.

Sekarang aja ada 5 kereta melintas reguler disitu, yakni KA Argo Parahyangan, KA Elok Cibatu, KA Lokal Bandung Raya (359/360), KA Pangandaran, dan KA Serayu. Belum lagi kereta barang kontainer rute TPK-GDB.

Berhubung ruas Purwakarta-Padalarang 80% masih single track. Ritual silang susul masih terjadi di sini. Begitu juga di Cilame yang kebetulan jadi bagian dari 80% tersebut. Kereta bergantian baik dari arah Jakarta maupun Bandung.

Selain buat silang dan susul, stasiun ini melayani perjalanan KA Elok Cibatu rute Cibatu-Purwakarta PP dan KA Lokal Bandung Raya rute Cicalengka-Purwakarta PP.

Cilame dan Tagog Apu Beda Nasib Dua Stasiun Sejajar

Stasiun Tagog Apu (TAU) Kebalikan Cilame

Fenomena ini berbeda jauh sama Stasiun Tagog Apu (TAU) yang berada sejajar dengan stasiun dekat Perkebunan Pangheotan tersebut. Meski sama-sama jalur kereta api Bandung-Jakarta nasibnya berbeda 180 derajat.

Sedikit info jalur Bandung-Jakarta di Tagog Apu sebenarnya jalur pertama yang dibangun 1881-1884 pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda. Melanjutkan jalur antara Batavia dan Buitenzorg yang telah terhubung dan dimiliki perusahaan swasta NIS.

Adapun jalur lanjutannya hingga ke Cicalengka dimiliki oleh pemerintah via operator Staatspoorwegen (SS). Meski demikian pada akhirnya semua ruas dimiliki oleh SS. Terutama sejak selesainya pembangunan jalur kedua via Cikampek.

Jalur pertama ini sebetulnya cukup ramai. Cuma seiring berjalannya waktu di tahun 1990-an cuma sisakan Perka Lokal Bandung-Sukabumi. Kereta yang dikemudian hari dikenal dengan nama Argo Peuyeum. Formasinya cuma terdiri dari 2 kereta ekonomi (K3) ditarik loko BB 301/304.

Sepinya kereta penumpang apalagi yang mau ke Jakarta dikarenakan jalur legendaris ini lebih jauh. Ditambah lagi keberadaan lintasan ekstrem antara Tagog Apu dan Cipatat.

Argo Peuyeum sendiri berulang kali mengalami perubahan rute. Bencana di Terowongan Lampegan membuat rutenya dipotong yang tadinya ke Sukabumi jadi cuma ke Lampegan dan akhirnya Cianjur. Bahkan keberangkatannya sendiri digeser jadi ke Padalarang (PDL).

Hingga jadilah Argo Peuyeum punya nama resmi KA Lokal Cianjuran. Sayang armada lokomotif uzur dan kesulitan suku cadang membuat kereta lokal ini harus pensiun di pertengahan 2012. Otomatis jalur pun tak lagi dilewati kereta reguler. Stasiun Tagog Apu (TAU) ditutup.

Terancam Non Aktif

Jalur legendaris tersebut sebetulnya udah aktif lagi sekitar 80%. Jalur yang dikenal dengan nama resmi Manggarai-Padalarang itu udah aktif lagi sampe Stasiun Ciranjang (CRJ) Kab. Cianjur. Sekarang lagi diproses ke Cipatat (CPT).

Nah dari Cipatat ke Padalarang (PDL) kemungkinan besar nggak akal lewat jalur yang lama. Rencananya akan dibangun shortcut ke Cilame (CLE) dengan membangun bentang jembatan sekitar 10 km. Jalur lama terbilang ekstrem dan sangat sulit.

Jadi pertemuan dua jalur dari Jakarta itu tak lagi di Cihaliwung, Padalarang. Tapi di Stasiun Cilame (CLE) atau bisa aja di Sasaksaat (SKT) dengan memutari bukit. Kalo benar berarti Stasiun Tagog Apu (TAU) terancam non aktif.

Nah sekarang aja udah non-aktif dari perjalanan reguler. Cuma kereta inspeksi aja yang lewat situ. Gimana nanti dibikin shortcut ke Stasiun Cilame? Berakhirlah sudah riwayat stasiun kecil di jalur legendaris Manggarai-Padalarang.

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.