Cihaliwung dan Pertemuan Jalur Kereta Api

Cihaliwung jadi titik pertemuan dua jalur kereta api dari arah Jakarta. Baik jalur Manggarai-Padalarang maupun Cikampek-Padalarang keduanya bertemu di sini. Namun titik itu bakal geser bila nanti shortcut Cipatat-Cilame jadi dibangun.

Cihaliwung adalah nama salah satu lokasi di Padalarang-Kabupaten Bandung Barat. Dulu sebelum jalan tol Cipularang ada setiap mau ke Jakarta pasti bakal lewat daerah ini. Terutama yang ambil jalur ke Purwakarta dan Cikampek.

Cuma dulu belum ada yang ngeh sama daerah ini. Karena taunya mesti Padalarang aja. Tanpa memperhatikan area di sekitarnya. Meskipun sekedar nama desa atau kelurahan. Taunya pasti bakal lewat Padalarang. Udah gitu aja.

Continue reading “Cihaliwung dan Pertemuan Jalur Kereta Api”
Advertisements

Shortcut Cipatat Cilame

Shortcut Cipatat Cilame dibangun sebagai salah satu upaya untuk menghubungkan kembali Bandung dan Bogor dengan rel kereta api. Petak ekstrem antara Tagog Apu dan Cipatat jadi kendala. Sehingga perlu dibangun shortcut. Rencananya akan ada jembatan 10 km.

Rasanya nggak lengkap kalo tema ini nggak sekalian diangkat. Setelah panjang lebar ngebahas tentang Stasiun Tagog Apu (TAU) dan Stasiun Cilame (CLE). Karena tema ini jelas berkaitan erat dan bahkan bisa menjadikan satu dari keduanya benar-benar non-aktif selamanya.

Memang soal non-aktif permanen seperti pernah dialami stasiun Banyuwangi (Lama) di Daop 9 Jember bukan stasiun yang rame. Stasiun yang sering dapet momen silang dan susul. Tapi stasiun yang lebih dulu ada dan udah jadi bagian dari sejarah perkeretaapian Indonesia.

Continue reading “Shortcut Cipatat Cilame”

Cilame dan Tagog Apu, Beda Nasib Stasiun Sejajar

Cilame dan Tagog Apu, dua stasiun ini sebenarnya sejajar. Posisi satunya lebih tinggi dan harus setengah mendaki gunung. Nasib pulalah yang membedakan keduanya. Bahkan yang lebih tua malah terancam non-aktif selamanya.

Begitulah nasib dua stasiun yang telah eksis dari zaman kolonial tersebut. Stasiun Cilame (CLE) meski lebih banyak jadi tempat persilangan dan susuk jauh lebih ramai. Wajar aja karena berada di jalur utama Cikampek-Padalarang.

Sekarang aja ada 5 kereta melintas reguler disitu, yakni KA Argo Parahyangan, KA Elok Cibatu, KA Lokal Bandung Raya (359/360), KA Pangandaran, dan KA Serayu. Belum lagi kereta barang kontainer rute TPK-GDB.

Continue reading “Cilame dan Tagog Apu, Beda Nasib Stasiun Sejajar”

Argo Peuyeum Terakhir di Stasiun Tagog Apu

Argo Peuyeum adalah nama tak resmi dari KA Lokal Cianjuran. Satu-satunya kereta api yang melintas di Stasiun Tagog Apu sampai sebelum Lebaran 2012. Sayang karena lokomotif terkendala suku cadang lokalan unik ini harus pensiun.

Asa nggak afdhol kalo ngebahas Stasiun Tagog Apu (TAU) panjang lebar tapi yang satu ini dilewatin. Padahal ini satu-satunya kereta reguler yang dinas di jalur legendaris di masanya. Stamformasinya pun terbilang unik.

Hanya terdiri dari dua kereta ditarik lokomotif tua BB 301/304. Biasanya loko tersebut dipake sebatas langsir. Tapi di sini benar-benar diandalin buat dinas reguler. Memang dulu sempat langganan dibawa kereta unggulan sebelum tergantikan CC 201 hingga CC 203.

Continue reading “Argo Peuyeum Terakhir di Stasiun Tagog Apu”

Tagog Apu, Kisah Miris Stasiun Kecil di Jalur Legendaris

Tagog Apu adalah sebuah desa di Kecamatan Padalarang. Kita akan tertuju ke sebuah stasiun kecil yang udah ada sejak 1884. Bagian dari jalur legendaris yang dibangun di era kolonial. Sayang kondisinya boleh disebut miris.

Walaupun kecil tapi punya nilai sejarah. Gimana nggak? Stasiun ini dibangun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda. Jadi bagian dari jalur kereta api Batavia-Priangan di lintas Batavia-Buitenzorg-Bandung yang dibangun 1881-1884.

Inilah jalur kereta api pertama yang menghubungkan Jakarta dan Bandung, juga kota-kota lainnya di Timur Pulau Jawa. Bahkan dulu mau ke Surabaya sekalipun lewatnya sini. Karena jalur utara via Cirebon belum dibangun. Jalur yang lantas tersambung dengan Solo-Semarang-Surabaya.

Continue reading “Tagog Apu, Kisah Miris Stasiun Kecil di Jalur Legendaris”