Posted on

Blusukan Rel Mati Bandung (Kiaracondong-Karees)

Mecoba blusukan rel mati Bandung jalur Kiaracondong-Karees yang dimulai dari Stasiun Kiaracondong lewat Jalan Jembatan Opat sampe ke Bekas Halte Cibangkong Lor, lanjut ke Jalan Cinta Asih, Samoja Dalam, Malabar 1 dan berakhir di Jalan Katapang Kaler. Rel kereta api mati di Bandung yang satu ini jarang diketahui orang. 

Blusukan Rel Mati di Bandung (Kiaracondong-Karees)
Sejatinya Kota Bandung udah punya jaringan rel kereta api dalam kota yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Selain jalur utama dari Padalarang ke Cicalengka kaya yang kita kenal sekarang, jalur itu ternyata punya percabangan. Ada 3 percabangan yakni Cikudapateuh-Ciwidey, Rancaekek-Tanjungsari, dan Kiaracondong-Karees.

Dua percabangan pertama udah banyak yang tau lah ya. Jejak-jejaknya masih bisa ditemuin, misalnya Jembatan Cincin (Cikuda) di Jatinangor. Nah gimana yang Kiaracondong-Karees? Percabangan ke-3 ini ternyata nggak banyak yang tau lho. Memang iya sih, jalur ini nggak dilewatin kereta api buat ngangkut penumpang karena berujung di kompleks pergudangan di Karees, sebelah selatan Cikudapateuh.

Daerah Karees sendiri mencakup wilayah Samoja-Malabar-Katapang. Kompleks pergudangan yang dimaksud dulunya memang tempat buat nyimpan hasil bumi yang akan dijual di Pasar Kosambi. Selain pergudangan, disitu juga ada Depot Pertamina. Jadi percabangan Kiaracondong-Karees dilewatin kereta barang dan ketel punya Pertamina.

Rel Mati Bandung

Sayang masa kejayaan kereta api di Kota Kembang berakhir di dekade 1970-an. Jalur kereta api Cikudapateuh-Ciwidey misalnya ditutup setelah terjadi PLH Cukanghaur tahun 1972 dimana kereta barang yang ngangkut hasil bumi terguling karena kelebihan kapasitas. Insiden tersebut makan korban 3 orang meninggal dunia, salah satunya Kepala Stasiun Ciwidey yang ikut dalam perjalanan.

Kiaracondong-Karees sendiri mulai non-aktif tahun 1976 seiring mulai nggak berfungsinya kompleks pergudangan di wilayah Karees, karena pengangkutan via jalan raya dianggap lebih efisien saat itu karena bisa langsung dikirim ke pasar buat dijual tanpa harus digudangin dulu. Demikian pula angkutan kereta ketel Pertamina dianggap punya risiko tinggi dan lebih aman pake jalur pipa.

Nggak cuma itu, malah jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari udah non-aktif sejak tahun 1942 karena rel-nya dibongkar Jepang terus dipindahin ke Bayah. Nasib yang sama juga dialami jalur kereta api Dayeuhkolot-Majalaya, percabangan Cikudapateuh-Ciwidey, sama-sama dibongkar Jepang. Banyaknya jalur kereta api yang udah nggak kepake itu menjadikannya rel mati Bandung.

Di lokasi rel mati Bandung tersebut kini berubah jadi pemukiman padat penduduk. Di atas jalan rel-ya mulai banyak berdiri bangunan permanen meski sejatinya lahan rel mati Bandung itu masih punya PT.KAI. Maraknya bangunan di atas rel mati Bandung mulai tahun 1980-an hingga saat ini.

Blusukan Rel Mati Kiaracondong Karees

Jum’at, 13 April 2018 admin mencoba telusuri rel mati Bandung yang nggak banyak diketahui orang. Blusukan rel mati Kiaracondong Karees. Blusukan rel mati start dari Stasiun Kiaracondong, stasiun keberangkatan kereta api ekonomi ke Jawa dan kereta api lokalan. Dari Stasiun Kiaracondong ambil Jalan Jembatan Opak di sisi selatan rel kereta api.

rel mati Bandung Kiaracondong-Karees sebetulnya udah keliatan sejak JPL Kiaracondong. Disitu ada satu jalur yang ditumbuhi rumput-rumputan dan sejajar sama jalur utama. Cuma pada saat blusukan rel mati Kiaracondong-Karees, admin memiih nggak lewat jalan rel itu tapi coba lewat Jalan Jembatan Opak yang nantinya tembus ke bekas Halte Cibangkong Lor dan Jalan Cinta Asih.

Sampe sekitar 1,5 km dari Stasiun Kiaracondong, rel-nya masih sejajar jalur utama. Menjelang pertemuan sama jalur kereta api Bandung-Ciwidey, relnya mulai mengarah ke Jalan Jembatan Opak sampe akhirnya ketemu jalur Ciwidey di satu titik yang diperkirakan dulunya bekas Halte Cibangkong Lor. Bangunan halte Cibangkong Lor udah hilang dan nggak bersisa.

Dari situ rel-nya belok ke arah kiri, yakni Jalan Cinta Asih. Sementara jalur Ciwidey ke kanan yang sekarang jadi Jalan Cinta Asih Utara. Nggak jelas apakah rel ini nyatu sama jalur utama atau sejajar jalur utama sampe ke Stasiun Cikudapateuh, karena ada kabar bahwa dulu Stasiun Cikudapateuh punya 3 jalur dan bentuknya stasiun pulau, mirip kaya Stasiun Jogjakarta Tugu.

Kembali lagi ke Blusukan rel mati Kiaracondong-Karees, admin coba telusuri Jalan Cinta Asih dimana rel ke Karees masih keliatan wujudnya meski timbul tenggelam dan banyak ketimbun bangunan. Menjelang Jalan Laswi, rel mulai nggak kelihatan. Sampe juga ke Jalan Laswi, nyeberang terus masuk ke jalan di seberangnya, yakni Jalan Samoja Dalam.

Nggak lama setelah masuk jalan itu mulai deh keliatan lagi bekas-bekas rel kereta apinya. Nggak jauh beda kaya di Jalan CInta Asih, rel-nya timbul tenggelam. Awalnya rel ada di sebelah kanan, terus pindah ke kiri. Disitu ada rel yang posisinya di dalam Warung Bakso dan masih keliatan utuh. Ditelusuri lagi rel masih keliatan sebelah sampe ketemu jembatan dimana rel dalam posisi menggantung. Setelahnya nggak lagi terlihat ada rel kereta api.

Blusukan rel mati terus berlanjut sampe ketemu Jalan Malabar. Nyeberang lagi ke gang di depannya (Jalan Malabar 1), disitu mulai nampak lagi bekas-bekas rel kereta api. Bukan cuma satu malah, disinyalir ada 2 jalur. Salah satunya gang yang dilewatin admin itu bekas rel kereta api. Itu terbukti begitu ketemu di jembatan terlihat di bawahnya ada kaya bantalan rel dari kayu. Bukti bahwa itu dulu jembatan kereta api.

Jalan Malabar 1 berakhir di depan Hotel Harapan Indah. Belum puas sampe disitu admin coba ikutin jalan di depannya dan ketemu sama sebuah bangunan lama di situ. Bentuknya mirip sama bangunan gudang. Apakah ini salah satu bangunan kompleks pergudangan Karees yang dilewatin rel kereta api? Wallohu a’lam. Jalan itu tembus ke Jalan Gatot Subroto.

Dari jalan Gatot Subroto sebelum parapatan lima, admin belok ke Jalan Katapang Kaler, cari tau lagi apakah ada jejak-jejak rel mati Bandung (Kiaracondong-Karees) di situ. Ketemulah admin sama jembatan di jalan itu, dimana bagian bawahnya bikin admin tertarik. Kenapa tertarik sama bagian bawah jembatan? Karena mirip sama jembatan kereta api. Bisa jadi itu dulunya jembatan kereta api yang sekarang beralih fungsi.

Jembatan di Jalan Ketapang kaler itu menjadi akhir dari Blusukan Rel Mati Bandung, Kiaracondong-Karees. Ya, lumaya melelahkan juga trekking-nya. Apalagi dilakukan di siang hari dan sempat kepotong sama sholat Jum’at. Matahari begitu menyengat di siang hari itu. Meski demikian tak menyurutkan langkah admin buat cari tau salah satu peninggalan sejarah yang ada di Kota Bandung. Bahkan bagian sejarah itu nggak banyak diketahui orang.

Sedikit info, sebelumnya admin udah bahas sekilas tentang rel mati Bandung jalur Kiaracondong-Karees di postingan berjudul Jalur Kereta Api Mati di Bandung (2): Kiaracondong-Karees yang Terlupakan“”. Gara-gara penelusuran nggak disengaja di Jalan Cinta Asih, karena awalnya nyangka itu jalur Ciwidey. Nggak taunya bukan. Ternyata itu rel kereta api mati di Bandung yang nggak banyak diketahui orang.

Advertisements

One thought on “Blusukan Rel Mati Bandung (Kiaracondong-Karees)

  1. salam kenal kang..

    sekalian atuh kang telusuri juga jalur yang dari BY jembatan KAC ke arah jalan babakan daese terus ke damkar jalan sukabumi.

    nice share kang. sukses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.