Bisakah KA Lokal Bandung Raya Pake KRL?

KRL atau kereta rel listrik udah lama ada bahkan jadi backbone transportasi perkotaan di Jabodetabek. Nggak lama lagi juga bakalan diterapin di koridor Jogja-Solo yang sekarang dilayani Prameks dan Joglokerto. Bisa nggak ya KA Lokal Bandung Raya pake KRL?

Ngomongin soal KRL pasti nggak akan lepas dari KRL Commuter Line Jabodetabek yang sehari-hari menemani warga Jabodetabek dalam beraktivitas. Meski masih ada kekurangan, KRL Commuter Line sekarang jadi favorit terutama buat nembus kemacetan Jakarta yang kita tau sendirilah kaya apa, disamping transportasi online tentunya.

Sebenarnya KRL Commuter Line Jabodetabek yang ada sekarang ternyata punya sejarah panjang lho, bahkan dari zaman penjajahan Belanda dulu. Infrastruktur rel kereta api yang menghubungkan Jakarta dan Bogor memang warisan kolonial Belanda. Malah jalur itu nyambung ke Padalarang Bandung Barat via Sukabumi dan Cianjur.

Semula infrastruktur listrik aliran atas (LAA) cuma tersedia di jalur Bogor dan jalur lingkar dari Manggarai ke Jatinegara via Tanah Abang. Lokomotif listrik Bon Bon (ESS-3201) diberdayakan untuk melayani lintasan tersebut.

Keberadaan Bon Bon sendiri sangat lama. Pertama kali dinas tahun 1925, Lokomotif Bonbon tetap setia melayani pelanggannya setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945. Baru di tahun 1976 saat Pemerintah Indonesia lewat Kementerian Perhubungan membeli rangkaian KRL / EMU (Electric Multiple Unit) Rheostatik dari Jepang jadi akhir masa bakti Lokomotif bonbon.

Sama kaya Lokomotif bonbon, KRL Rheostatik pertama didinasin di jalur Jakarta-Bogor, menyusul KRL Rheostatik batch-3 di jalur lingkar tahun 1987 karena infrastrukturnya udah tersedia. Sementara yang ke Tangerang dan Bekasi masih pake KRD / DMU (Diesel Multiple Unit) baik jenis MCW 301 dilanjut MCW 302.

KRL/EMU baru tembus ke Tangerang dan Bekasi di tahun 1990-an, dan saat ini KRL juga udah bablas sampe ke Rangkasbitung (karena pengen dioptimalkan sampai ngorbanin Kereta Api Krakatau yang rutenya dipotong cuma nyampe Senen dan ganti nama jadi Kereta Api Singosari Ekspres). Nggak lama lagi KRL akan dinikmati warga Cikarang dan sekitarnya.

KRL di Jalur Prameks dan Bandung Raya

Sukses di Jabodetabek ternyata munculin wacana bakal ngadain KRL di luar Daop 1 Jakarta, yakni di jalur Prameks koridor Kutoarjo-Jogja-Solo dan di Bandung Raya rute Padalarang-Cicalengka yang sekarang dilayani Kereta Api Lokal Bandung Raya.

Keinginan ganti rangkaian KRD Prameks sama KRL memang udah berlangsung lama. Itu karena tingginya animo masyarakat penglaju sepanjang jalur Kutoarjo-Jogja-Solo, karena rangkaian KRD yang sekarang masih dipake sering mengalami trouble. Dilihat dari kecepatannya aja, KRL jelas mengungguli KRD. Sehingga dinilai lebih cocok di lintasan padat tersebut.

Setali tiga uang sama di jalur Bandung Raya, KRL mungkin bisa lebih maksimal lagi melayani penglaju dari Kabupaten Bandung Barat dan dari Cicalengka yang biasa beraktivitas di Kota Bandung. Jadi kalo ada pertanyaan bisakah KA Lokal Bandung Raya pake rangkaian KRL, jawabannya bisa!

KA Lokal Bandung Raya sekarang pake rangkaian kereta api biasa yang ditarik lokomotif. KRD udah nggak lagi dipake sejak 2014 dan sama kaya Prameks juga sering bermasalah. Baik yang KRDE Baraya Geulis, KRDE Rencang Geulis, maupun KRD MCW 302 sebagai Patas.

Sekarang setelah nggak lagi dinas sebagai KA Lokal Bandung Raya, KRDE masih dikandangin di DIpo Lokomotif Bandung, sedangkan KRD MCW 302 yang beberapa rangkaiannya pernah dinas sebagai Bumi Geulis udah dinas lagi setelah dikonversi jadi Rail Clinic 2 dan dialokasikan ke Sumatera.

Dibanding kereta api biasa yang sekarang dipake KA Lokal Bandung Raya, KRL juga punya kelebihan yakni nggak terlalu banyak makan waktu cuma buat putar lokomotif. Jadi cukup masinisnya pindah kabin. Walaupun dari segi kecepatan, keduanya sama-sama lebih bagus dari KRD.

Dengan KRL, jadwal perjalanan KA Lokal Bandung Raya bisa aja lebih banyak daripada jadwal sekarang. Hanya saja ada kendala buat ngoperasiin KRL di jalur Padalarang-Cicalengka. Selain relnya masih nyampur sama KAJJ, petak antara Stasiun Kiaracondong dan Stasiun Cicalengka masih single track dan masih pake sinyal mekanik.

Belum lagi perlintasan sebidang di sepanjang jalur tersebut bakalan lebih sering lagi buka tutup andai KA Lokal Bandung Raya rangkaiannya menggunakan KRL dan jadwalnya bertambah. Pintu perlintasan kereta api di Kota Bandung dan sekitarnya sekarang memang nggak sering buka tutup tapi itu aja udah bikin macet jalan raya.

KRL diset headway-nya antara 15-20 menit dan idealnya memang punya jalur sendiri dan terpisah dari KAJJ. Itulah kenapa di jalur Manggarai ke Bekasi sampai Cikarang dibikin 4 jalur dan perlintasan sebidang banyak ditutup disitu. Malah nantinya semua KAJJ berakhir di Stasiun Manggarai nggak di Gambir atau Senen lagi. Karena tujuannya supaya dipisah.

KAJJ di jalur Bandung memang banyaknya di pagi sama sore. Itu yang ke arah timur. Kalopun ada yang siang cuma Kereta Api Serayu. Sementara di lintas barat ada Kereta Api Argo Parahyangan yang jadwalnya agak banyak, terus Kereta Api Ciremai Ekspres dan Kereta Api Harina masing-masing 1 di pagi dan malam. Ditambah kereta api Serayu.

Kalo ditambah KA Lokal Bandung Raya memang pintu perlintasan buka tutupnya belum sesering di Daop 1 Jakarta yang dilewatin KRL Commuter Line. Tapi kalo KRL udah didinasin sebagai KA Lokal Bandung Raya, mau nggak mau bakal lebih sering lagi buka tutup.

Pastinya nambah macet di daerah-daerah rawan seperti PJL Cimindi, PJL Garuda, PJL Ciroyom, PJL Ahmad Yani, PJL Laswi dan PJL Kiaracondong. Sekarang aja udah macet disitu gimana kalo nanti KRL ada.

Pasti solusinya PJL-PJL itu harus ditutup. Dibuatin Fly Over atau Underpass. Tapi nggak sesederhana itu karena dalam prosesnya juga bakal bikin nambah macet. Tentunya kita juga ingat waktu Fly Over Jalan Jakarta dibangun itu macetnya kaya gimana. Apalagi ini dibangun di banyak tempat.

 

 

One thought on “Bisakah KA Lokal Bandung Raya Pake KRL?

  1. Pingback: Pernah Ada Wacana KRL di Bandung Tahun 2013

Leave a Reply

%d bloggers like this: