Posted on Leave a comment

Apa Maksud Pecut? (Kembali Menyoal Selendang Pecut)

Ada yang tanya di social media “Apa maksud pecut?” Yang jelas pertanyaan ini masih ada hubungan sama livery kereta api Indonesia sekarang, kenapa dijulukin livery pecut, selendang pecut, dan sejenis. Malah sampai dibanding-banding sama livery terdahulu.

Kaya nggak ada habis-habisnya kontroversi seputar livery selendang pecut. Baru-baru ini ada yang tanya sama admin “Apa maksud pecut?” (kalimat aslinya “pecut apaan?”). Mau nggak mau pertanyaan kaya gitu meski dinilai sebagian orang cuma iseng tetap harus dijawab. Tentunya kali ini bukan sekedar livery selendang pecut tapi maksud hakiki dari pecut itu sendiri.

Pecut Kuda dan Pecut Kuda Lumping

Kalo dilihat di Kamus Bahasa Indonesia, pecut artinya cambuk atau alat buat nyambuk. Pecut biasa dipake sama tukang dokar (kusir) buat mecut kuda supaya jalannya bisa lebih cepat. Makanya sering disebut juga pecut kuda.

Selain jadi pegangan kusir, pecut sering dipake di keseniang Kuda Lumping, makanya sering disebut Pecut Kuda Lumping. Salah satu atraksi dari kesenian asal Jawa Tengah itu ialah pecut-pecutan pakai alat sejenis cambuk. Makanya disebut pecut kuda lumping (See Video)

Selain hubungannya sama kesenian Kuda Lumping, Pecut Kuda sendiri merupakan satu jenis tanaman liar yang ada di Indonesia. Punya nama ilmiah Stachytarpheta jamaicensis, tanaman ini berbunga sepanjang tahun.

Kereta Api Jayabaya

Sejatinya livery baru ini namanya Livery Kesepakatan. Pertama kali diperkenalkan waktu re-launching Kereta Api Jayabaya rute Jakarta Pasar Senen-Surabaya-Malang. Dari situ satu per satu livery kereta api Indonesia diganti jadi mirip Kereta Api Jayabaya punya.

Warnanya sama semua. Pembeda cuma di bagian pintu masuk dan pintu sambungan aja. Kelas eksekutif warna biru, kelas bisnis warna abu-abu, dan kelas ekonomi warna orange, kecuali kereta api Jayabaya sama kereta api Jaka Tingkir bagian pintu sama sambungannya berwarna biru.

Balik lagi ke makna hakiki “apa maksud pecut”, salah satu strip pada livery kesepakatan memang menyerupai pecut yang biasa dipake sama kusir dokar atau di atraksi pecut-pecutan kuda lumping.

Masalahnya selain pecut ada juga yang nyebut selendang pecut. Ini dia yang mesti sedikit ditelusur asal-usulnya kenapa dinamain selendang pecut. Padahal makna dasar pecut itu sendiri kan cambuk, striping udah nyaris mirip sama pecut yang dipake kusir atau di atraksi kuda lumping. Kurang jelas juga gimana ceritanya ditambahin kata “Selendang”

Tapi bisa jadi, karena striping pecut-nya (warna merah) itu mungkin lebih menyerupai selendang daripada alat pecut-nya sendiri, jadi aja dinamain selendang pecut, hingga lahirlah livery selendang pecut. Wallohu A’lam.

Sayangnya agak susah nyamain stripping “selendang pecut” sama tanaman pecut kuda karena bentuknya sendiri beda. Selendang pecut malah lebih mirip sama pecut kuda lumping kalo lagi dipake waktu atraksi.

Dibandingin Sama Livery Lama

Keberadaan livery kesepakatan alias livery selendang pecut sendiri lumayan kontroversial. Terjadi pro dan kontra terutama di kalangan pecinta kereta api. Buat yang pro, livery ini dianggap sebagai wujud continues improvement dari PT. Kereta Api Indonesia, terus berbenah dan inovasi tanpa henti.

Bukti nyata saat terlahirnya kembali Kereta Api Jayabaya, pelayanan ditingkatkan jadi ekonomi plus ditambah adanya akomodasi buat kaum difabel. Meski sebenarnya fasilitas untuk difabel udah ada di Kereta Api Krakatau —sekarang Kereta Api Singosari Ekspres.

Sedikit info, Kereta Api Jayabaya pertama kali meluncur tahun 1961, wow jadi legend juga dong ya, betul sekali. Dulunya rangkaian dibagi dua, yang lewat utara jadi Kereta Api Jayabaya Utara (cikal bakalnya Kereta Api Gumarang) dan satu lagi Kereta Api Jayabaya Selatan jalurnya ngikutin Kereta Api Gaya Baru Malam Selatan.

Sayang karena okupasinya minim, rangkaian Kereta Api Jayabaya yang waktu itu kelasnya bisnis, ditutup. Tapi ternyata penutupan ini sifatnya cuma sementara dan akhirnnya terlahir kembali di tahun 2013 dengan wajah dan rute baru. Kelasnya jadi ekonomi plus pake rangkaian baru dan rutenya diperpanjang ke Malang via Surabaya Pasar Turi.

Ada yang pro tapi nggak sedikit yang kontra. Mereka menganggap livery selendang pecut nggak lebih bagus dari livery lama. Perpaduan warnanya dianggap terlalu monoton dan susah ngebedain antar kelasnya, walaupun warna pintu udah cukup ngejelasin layanan kelas masing-masing.

Nggak sedikit pula yang bilang bahwa livery di era PJKA dan Perumka masih lebih bagus daripada si selendang pecut. Alasannya sama, lebih berwarna. Di era-PJKA, livery kereta api sebenarnya cenderung minimalis tapi gampang dikenalin layanan kelasnya. Kalo livery-nya merah-putih berarti kelas bisnis (K2), asal hijau-putih berarti kelas ekonomi (K3).

Adapun gerbong eksekutif (K1) di era PJKA ada yang warna biru total (Kereta Api Bima yang punya gerbong tidur), biru-putih dan merah-putih. Malah lebih bervariasi lagi.

Sementara livery era-Perumka warna dasar biru, cara bedain kelas-kelasnya kalo eksekutif (K1) kombinasi biru muda, bisnis (K2) kombinasi hijau dan ekonomi (K3) kombinasi orange-merah matching sama livery lokomotifnya.

Nah terus admin sendiri gimana? Masuk pihak yang pro atau kontra sama livery selendang pecut? Ah, aku mah netral aja atuh, yang manapun bagus. Tapi pengennya biar ada variasi livery-livery legendaris kaya di era-PJKA harusnya dipake juga barengan sama si pecut.

Harusnya PT. Kereta Api Indonesia ngikutin Garuda Indonesia yang punya pesawat berlivery retro di beberapa rute kaya Jakarta-Semarang dan Jakarta-Jogja. Itu sih maunya admin. Soalnya livery retro gak banyak yang tau. Tapi paling nggak sedikit udah ngejawab “apa maksud pecut” dan makna hakiki pecutnya sendiri

Advertisements
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.