Posted on

(Video) Kereta Api Purwakarta ke Bandung, Argo Parahyangan Premium

Kereta Api Purwakarta ke Bandung, seolah membuka kenangan lama keberadaan lokomotif uap jenis Mallet yang dulu pernah dinas di sini. Melewati jalur pegunungan di Priangan Barat, diantaranya Terowongan Sasaksaat. 

Lanjutin postingan sebelumnya, “(Video)Dari Bekasi ke Purwakarta naik Kereta Api Argo Parahyangan Premium” kali ini kita akan bahas trip report leg ke-2 dari Purwakarta ke Bandung. Beda sama Bekasi-Purwakarta yang jalurnya masih datar-datar aja. Kalopun ada yang menarik itu nggak jauh-jauh dari 2 jembatan legendaris yakni Jembatan Kali Bekasi dan Jembatan Tanjungpura.

Begitu juga Stasiun Cikampek yang jadi stasiun paling timur di Daop 1 Jakarta sekaligus tempat perpisahan jalur ke Surabaya via CIrebon-Semarang dan jalur yang lewat Bumi Priangan (Daop 2 Bandung) ke arah selatan. Di stasiun ini ada kuburan bekas lokomotif diesel tua yang udah nggak lagi dinas. Disini juga 2 rangkaian kereta api biasa ngelakuin ritual putar lokomotif, Kereta Api Ciremai Ekspres dan Kereta Api Harina.

Jalur Pegunungan di Priangan Barat.

Sensasi naik kereta api dari Purwakarta ke Bandung kita bakal lewatin jalur pegunungan di Priangan Barat. Dari Stasiun Purwakarta sampe Stasiun Ciganea aja jalurnya udah mulai nanjak. Bahkan di satu petak ada semacam pembatasan kecepatan kereta api (Taspat) sekitar 10-15 km/jam. Dari Stasiun Purwakarta sampe ke jembatan yang motong Jalan Raya Purwakarta dan Tol Cipularang, sebelum masuk Stasiun Ciganea.

Di petak ini selain masih single track, juga diberlakuin Taspat sekitar 10-15 km/jam. Kenapa begitu? Petak ini termasuk yang rawan longsor dan pergerakan tanah. Begitu juga rawan anjlokan kereta, karena itu tadi jalurnya mulai nanjak. Makanya ada Taspat dan diawasin. Nah bedanya lagi sama jalur Bekasi-Purwakarta yang full double track, disini belum semuanya double track dan masih banyak single track.

Bablas Stasiun Ciganea kita masuk jalur double track lagi dan disini kecepatan kereta bisa agak sedikit dipacu meski nggak bisa kencang-kencang amat, mengingat jalur pegunungan berkelok. Pemandangannya lumayan bagus. Apalagi kalo kamu ambil jendela kanan, kamu akan lihat view Bendungan Jatiluhur dan Gunung Parang yang jadi icon pariwisata di Kabupaten Purwakarta.

Double Track ini membentang dari Stasiun Ciganea sampe Stasiun Sukatani. Setelah itu jalurnya jomblo eh tunggal lagi nyampe ke Stasiun Plered. Ngomong-ngomong soal Plered, pasti nggak bakal dipisahin sama kerajinan keramik yang udah terkenal dari dulu. Stasiun Plered juga jadi titik terdekat buat kamu yang mau berwisata ke Gunung Parang.

Sayang Kereta Api Argo Parahyangan Premium nggak berhenti disini, cuma Kereta Api Serayu —sampe postingan ini dibuat— jadi satu-satunya rangkaian kereta api jarak jauh yang berhenti di Stasiun Plered. Itupun cuma keberangkatan pagi. Selain Kereta Api Serayu, 2 kereta api lokal yakni Kereta Api Lokal Cibatuan dan Kereta Api Lokal Purwakarta Cicalengka, berhenti secara rutin di Stasiun Plered.

Jembatan Cisomang

Lepas Stasiun Plered, kita kembali lewatin double track sampe ke Stasiun Cikadondong. Nah di petak ini kamu bakal ngerasain satu sensasi yakni melintas Jembatan Cisomang, jembatan kereta api tertinggi di Asia Tenggara, yang membentang dia atas Sungai Cisomang. Disinilah batas wilayah Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat.

Kereta Api Dari Bandung ke Purwakarta (2/3)

Ada stasiun nggak ya di petak double track ini? Ya, Stasiun Cisomang, sayang stasiun ini sekarang nggak lagi melayani naik turun penumpang. Fungsinya cuma sebatas pengatur sinyal karena masih punya sinyal masuk dan keluar, mirip Stasiun Andir sama Stasiun Cipinang di Daop 1.

Sebelum ada double track, apalagi masih ngelewatin jembatan lama yang udah berusia seabad lebih, Stasiun Cisomang melayani naik turun penumpang. Kereta Api Lokal Cibatuan rutin berhenti di sini. Tapi sekarang udah nggak lagi. Stasiun pun “turun kasta” jadi halte dan cuma buat pengawasan doang. Karena double track yang baru udah berfungsi menggantikan jalur lama.

Kurang lebih 2-3 km lepas Stasiun Cisomang, sekarang lebih berfungsi sebagai pos pengawasan, kita akan ngerasain sensasi melintas di atas jembatan kereta api tertinggi di Asia Tenggara, yaitu Jembatan Cisomang. Sebetulnya jembatan yang kita lewatin itu jembatan baru, selesai dibangun dan diresmiin sekitar tahun 2004 dimasa pemerintahan Ibu Megawati Soekarnoputri. Bahkan beliau sendiri yang resmiin jembatan ini.

Jembatan Cisomang ini gantiin jembatan lama yang ada disebelahnya percis, berusia lebih dari seabad, dibangun bersamaan jalur kereta api Batavia-Bandung via Cikampek-Purwakarta. Sebelum dibangun, semua kereta api lewat jembatan lama, karena ada rencana bikin double track dan jembatan lama dinilai mulai kurang layak, dibikinlah jembatan baru yang sering kita lewatin sekarang.

Double Track antara Stasiun Plered dan Stasiun Cikadondong ini, lewat Jembatan Cisomang, termasuk lumayan jauh lho. Di petak ini tentu nggak ada aktivitas persilangan atau persusulan sama kereta api lain. Nah biasanya di Stasiun Cikadondong aktivitas itu baru ada, karena kita akan kembali lewatin jalur tunggal yang betul-betul jauh sampe ke Stasiun Padalarang.

Di petak tunggal inilah sensasinya bakal lebih kerasa lagi karena beberapa bentang jembatan ekstrem, termasuk Jembatan Cikubang (aktif terpanjang di Indonesia) dan Jembatan Cibisoro, serta tentu saja Terowongan Sasaksaat. Stasiun yang kita lewatin di sini antaralain: Stasiun Rendeh, Stasiun Maswati, Stasiun Sasaksaat dan Stasiun Cilame. Ritual susul silang biasanya rutin di petak ini.

Terowongan Sasaksaat

Kereta Api Dari Bandung ke Purwakarta (3/3)

Di antara yang paling sensasional di kereta api dari Purwakarta ke Bandung ini nggak lain ialah Terowongan Sasaksaat. Terowongan yang dibangun tahun 1902-1903 ini merupakan terowongan kereta api aktif terpanjang di Indonesia. Ngomong-ngomong soal terowongan kereta api terpanjang, sebetulnya Terowongan Sasaksaat ini masih ranking ke-2 lho. Kok bisa?

Karena masih ada satu terowongan terpanjang di Indonesia, yakni Terowongan Wilhelmina, di jalur kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang. Panjang terowongan Wilhelmina 1.116,10 meter atau sekitar 1 km lebih, adapun terowongan Sasaksaat 949 meter. Sayangnya, terowongan Wilhelmina non-aktif sejak tahun 1980-an seiring matinya jalur kereta api Banjar-Cijulang, hingga kini masih terbengkalai meski ada wacana reaktivasi.

Maka itu jadilah Terowongan Sasaksaat sebagai yang terpanjang dan masih aktif. Nggak cuma terpanjang, traffic kereta api di terowongan ini termasuk paling padat. Kalo dihitung satu Kereta Api Argo Parahyangan aja dari Bandung atau Gambir, termasuk Kereta Api Argo Parahyangan Premium, itu udah 14 rangkaian. Ditambah lagi Kereta Api Serayu 4 kali jadi 18 kereta.

Tambah 2 trip Kereta Api Lokal Cibatuan dan 2 trip Kereta Api Lokal Purwakarta Cicalengka, jadi 22 trip kereta api melintas terowongan ini. Tambah lagi Kereta Api Ciremai Ekspres 2 trip dan 2 trip Kereta Api Harina jadi 26 trip. Itu baru kereta api penumpang reguler berjadwal.

Kalo weekend ada si Goparina sebanyak 2 trip, Argo Parahyangan Tambahan idle Sembrani (Goparani) 2 trip, dan Argo Parahyangan Tambahan idle Senja Utama Solo 2 trip, itu aja udah 6 trip ditambah 26 trip reguler total jadi 32 kereta api melintas Terowongan Sasaksaat. Belum lagi kereta barang dan KLB. Karena itu di setiap ujung terowongan baik dari sisi Utara (Maswati) dan Selatan (Sasaksaat) dibuat Pos Jaga.

Tiber Padalarang dan Persiapan Masuk Stasiun Bandung

Udah mau dekat nih, Kereta Api Argo Parahyangan Premium melewati Tiber Padalarang yang jadi salah satu spot hunting favorit Railfans. Nggak lama berselang announcer ngasih tau bentar lagi nyampe Stasiun Cimahi. Ya, Kereta Api Argo Parahyangan Premium berhenti reguler di stasiun yang terletak di kompleks TNI ini. Hampir semua kereta api Argo Parahyangan berhenti di sini, baik jurusan Bandung atau Gambir.

Kereta Api Dari Bandung ke Purwakarta, Argo Parahyangan Premium (1/3)

Selepas Cimahi, tujuan akhir tinggal menghitung detik. Baru lewat PJL dan Stasiun Cimindi, lagi-lagi announcer ngeluarin suara khas-nya, kali ini Kereta Api Argo Parahyangan Premium mau nyampe di tujuan akhir Stasiun Bandung. Nggak kaya di Purwakarta atau Cimahi, karena Stasiun Bandung itu tujuan akhir, announcer juga nginfoin tentang pintu keluar dan transportasi lanjutan, dalam hal ini Taksi.

Okay, dan inilah akhir dari perjalanan Kereta Api Argo Parahyangan Premium, mulai dari Stasiun Bekasi sampe ke Stasiun Bandung. Sepanjang perjalanan banyak suguhan pemandangan menarik mulai persawahan hingga lansekap pegunungan khas Priangan Barat. Ditambah lagi peninggalan-peninggalan sejarah kaya Jembatan Kali Bekasi, Jembatan Tanjungpura di Karawang, Jembatan Cisomang (lama) dan Terowongan Sasaksaat.

Meski udah selesai, bukan berarti nanti nggak ngepost lagi tulisan tentang perjalanan Argo Parahyangan Premium ya. Kebetulan mimin kebagian kursi di kiri yang katanya pemandangannya lebih bagus. Next time inSyaaAlloh mimin ambil duduk di sebelah kanan, biar bisa liat view Bendungan Jatiluhur, Gunung Parang dan momen mbelok di Jembatan Cikubang.

Memang sih view bagus dan menarik baru bisa kita temuin pas naik kereta dari Purwakarta ke Bandung. Ini sekaligus napak tilas layanan kereta api di era lokomotif uap yang kerap ganti lokomotif pas nyampe Stasiun Purwakarta, karena kereta dari Purwakarta ke Bandung bakal banyak tanjakan, loko yang dipake harus mendukung, salah satunya Mallet CC 50.

 

Leave a Reply